Si Muna dan Sihirnya

Picture: Here
Picture: Here

Kepura-puraan atau sandiwara, manis mulut dan laku elok nan dibuat-buat, sikap ramah nan tiada berasal dari hati nan bersih agaknya telah menjalari banyak orang. Tidak hanya satu, dua, tiga, atau bahkan empat melainkan banyak. Lain di hati lain, lain pula nan ditunjukkan. Sungguh kami berharap agar jauhlah hendaknya dari sifat nan demikian.

Ketulusan dan keikhlasan ialah barang langka dan mahal, kepura-puraan, manis mulut, serta elok wajah berserakan bak barang nan laku dipasaran. Cinta nan bersih itu agaknya tersembunyi di dalam kelamnya wajah kehidupan yang penuh dengan hasrat dasar dari makhluk nan ingin bertahan hidup. Bahasa nan acap kami dengar ialah insting dasar dari makhluk ialah untuk bertahan hidup.

Pernah dahulu ada seorang tua nan kehadirannya diharapkan akan menyelesaikan nan kusut, menjernihkan nan keruh. Nan berlaku ialah sebaliknya, memperkusut nan telah ada, memperkeruh nan sedang berlaku. Manis mulut, pandai-pandai dalam pergaulan, dan nan mencemaskan ialah memiliki banyak wajah tatkala berhadapan dengan banyak orang. Banyak nan terpengaruh, memuja bak malaikat penyelamat yang diturunkan oleh Allah ke atas muka bumi ini. Tiada sadar mereka itu bahwa hati mereka sedang dibutakan oleh sang durjana pembawa petaka dengan memperdaya sekalian orang dengan mulut yang manis, air muka yang jernih, dan sikap yang ramah itu. Tiada dapat mereka membedakan hati yang tulus dan bersih dengan jiwa yang telah rusak oleh nafsu untuk menikmati dunia.

Hanya beberapa orang yang sadar, hanya beberapa orang yang tiada mempan oleh daya pikat serupa itu. Menjadi musuh nan sangat dibenci karena sihirnya nan teramat tajam itu tiada mempan terhadap mereka.

Kini si durjana telah pergi, namun ia pergi meninggalkan pengganti. Pengganti yang jauh lebih muda dan memiliki ilmu sihir yang sama namun masih dalam tahap pembelajaran. Karena  tiada awas, beberapa orang nan semula sehat berubah menjadi penyakitan yang tiada berdaya. Hati buta dan jiwanya nan rentan itu berhasil dikuasai. Benar kata orang, si murid memang lebih hebat dari gurunya.

Puja dan puji mengiringi kepergiannya, senyum mesra menghiasi keberangkatannya, rasa rindu menjadi pemanis dalam pelepasan. Nan masih sehat hanya tersenyum takjub karena kawannya dahulu masih sehat telah sakit semua. Tiada daya padanya untuk menyembuhkan.

Si murid nan masih belia itu agaknya akan menjadi pesihir terhebat kelak, entah siapa nan akan menjadi korbannya dan entah siapa pula nan akan menjadi musuhnya. Namun nan jelas, ada ketakutan dalam setiap langkah mereka. Takut kelemahan akan tersingkap, takut orang-orang akan menjauh. Mereka sangat menikmati menjadi pusat perhatian dan takut akan kesendirian..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s