Melancong ke Lombok [12]: Pulang

Picture: Here
Picture: Here

Lepas shalat Jum’at, rintik hujan mulai menyapa setiap orang nan ditimpanya, semakin lama hujan semakin deras mengawani mereka menuju bandara. Pukul dua mereka sudah mesti berada di bandara sebab pesawat nan akan mereka tumpangi akan segera mengudara pada pukul setengah tiga. Koper mereka telah lebih dahulu diantarkan oleh penyelenggara perjalanan mereka jadi tiada payah setibanya di bandara, tinggal lenggang kangkung saja lagi.

Rombongan mereka dipecah menjadi dua, satu menaiki pesawat langsung ke Jakarta sedangkan nan satu lagi mesti singgah dahulu ke Surabaya. Namun penerbangan ke Padang mereka tetap sama, satu pesawat. Akibatnya, rombongan nan mendapat penerbangan langsung mesti lama menanti di bandara Cengkareng itu, sekitar dua setengah jam, tiba pukul empat naik pesawat ke Padang pukul setengah delapan malam.

Kawan kami St. Rajo Basa termasuk rombongan nan mendapat penerbangan langsung ke Jakarta. Pukul empat mereka telah sampai di Cengkareng, tepatnya di terminal baru yang sangat menawan itu. Sepat St. Rajo Basa terpisah dengan kawan-kawannya nan dari bandar kami “Ketika itu kami pergi kamar kecil, tatkala kami tinggalkan para rangkayo anggota rombongan kami itu asyik mengambil gambar bersama mantan wakil gubernur nan artis itu. Begitu kami selesai kami dapati mereka telah raib entah kemana..” kisah kawan kami itu.

Rupanya mereka pergi keluar adapun St. Rajo Basa langsung menuju ruang tunggu. Sempat jua ia pergi ke Ruang Santai[1] milik perusahaan penerbangan nan ditumpanginya “Cemas awak apakah membayar disana atau tidak, rangkayo kawan kami nan dari salah satu bandar di negeri kita itu santai saja walau ia sebenarnya juga cemas..”

Sempat pula ia menunaikan Shalat Ashar di Kawasan Ruang Santai itu, hendak makan ia cemas diminta bayar “Tahu sajalah engku betapa harga-harga disana serupa negeri sedang mengalami krisis ekonomi saja..”

Akhirnya Sutan Rajo Basa memutuskan untuk pergi menuju ke ruang tunggu nan telah ditentukan nan menanti disana “Untung disana ada kursi santai engku, maka tiada terasa lama menanti karena kami menikmati masa penantian itu..”

“Pukul berapakah engku sampai di Padang?” tanya kami

“Keluar dari bandara sudah pukul sebelas lewat engku, itulah ketibaan paling malam nan pernah kami alami..” jawabnya.

“Tapi nikmat kan engku?” tanya kami menggoda

“Alhamdulillah nikmat engku,.” jawab kawan kami dengan senyum merekah..

____________________

Catatan Kaki:

[1] Lounge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s