Melancong ke Lombok [11]: Shalat Jum’at

Masjid tak berdinding [Picture: Here]
Masjid tak berdinding [Picture: Here]

“Kami tiada tahu pukul berapa shalat Jum’at dimulai disana, namun nan pasti jatuhnya waktu shalat tak jauh berbeda dengan kita di sini..” kisah kawan kami St. Rajo Basa.

Nusa Tenggara Barat termasuk kepada wilayah waktu Indonesia Bagian Tengah jadi mereka lebih cepat satu jam dari kami nan ada di barat. Dahulu kami pernah mendengar St. Rajo Basa bertukar fikiran dengan seorang engku-engku. Dari hasil perbincangan mereka itu, mereka berdua sepakat bahwa jatuhnya waktu shalat merupakan penunjuk waktu paling dapat dipercaya. Hal ini karena waktu shalat ditentukan berdasarkan keadaan matahari apabila dipandang dari bumi.

Sebagai contoh, Minangkabau dan Jakarta yang sama-sama berada di wilayah waktu yang sama namun waktu shalat jatuh pada jam yang berlainan. Jakarta lebih cepat kurang lebih tiga puluh menit dari pada Minangkabau. Dan memang, tatkala kami berada di Jakarta, pukul setengah enam itu sudah terang disana, berlainan dengan di Minangkabau, masih kelam, matahari baru bersiap-siap hendak menampakkan diri.

Jadi, di pulau ini, misalnya waktu shalat Magrib jatuh di jam yang kurang lebih sama (setidaknya lebih cepat agak 5-7 menit) dengan di Minangkabau. Walau kenyataannya di pulau itu lebih cepat satu jam karena berada di wilayah agak ketimur.

Demikianlah, tatkala mereka sampai di sebuah masjid, rupanya khutbah sedang berlangsung. Tampaknya mereka bukan satu-satunya rombongan pelancong yang juga mencari masjid untuk shalat Jum’at. Terdapat beberapa buah oto bus yang juga telah lebih dahulu sampai.

Orang ada jua yang baru datang, jama’ah tumpah ruah ke luar masjid. Untung masjid berlantai dua sehingga kawan kami ini shalat di lantai dua tersebut. Dan agaknya, tak hanya di negeri kami, disanapun orang-orang banyak nan malas menaiki janjang untuk sampai ke lantai dua. Mereka lebih suka beridiri di pekaranga masjid atau duduk-duduk diteras menanti khatib menyelesaikan khutbahnya.

“Ada nan menarik dengan masjid-masjid di negeri ini, kebanyakan tiada memiliki dinding dibiarkan tak berdinging apakah itu dilantai satu ataupun lantai dua..” kisah kawan kami ini.

“Mungkin karena negeri disana berhawa panas karena terletak di tepi laut makanya mereka tiada memasang dinding engku..” jawab kami belagak faham.

Kawan kami inipun membalas “Lalu kenapa di Negeri Padang masjidnya banyak jua nan pakai dinding?”

Kamipun terdiam tiada dapat menjawab “Itulah, berlagak faham jua engkau..!” umpat hati kecil kami kepada diri sendiri.

Selesai shalat mereka langsung menuju oto bus, mereka dapati di atas oto bus beberapa orang pedagang kain songket tengah menjual dagangannya. Maka riulah isi oto bus itu menyindir-nyindir kebiasaan berbelanja amai-amai[1] yang sudah mendarah daging itu. Benar saja, salah seorang amai-amai anggota rombongan mengeluh “Duhai, telah tabali lado pagi[2] awak ini. Di tempat tadi satu ini dihargai 160K satu helai, sedangkan ini dapat 120K satu helai dengan corak nan sama..”

“Ah, kalau awak jadi rangkayo tiada terima awak. Awak beli lagi nan murah itu, awak tuntaskan kesumat itu rangkayo..” kelakar seorang engku anggota rombongan sambil tergelak.

Si rangkayo masih tetap berciloteh membanding-bandingkan songket nan dibelinya dari dua penjual itu, membuat hati anggota rombongan lain nan telah tabali lado pagi bertambah gemas dibuatnya. Demikian pula dengan kawan kami St. Rajo Basa, semalam ia telah menolak keberuntungan nan singgah ke pangkuannya, songket seharga 50K ditolak..

“Sungguh pandir awak ini engku..” sesalnya..

__________________

Catatan Kaki:

[1] Ibu-ibu

[2] Terbeli cabe pagi, di pekan-pekan yang diselenggarakan setiap pekannya di nagari-nagari di Minangkabau ada suatu fenomena dimana cabe yang dijual pada pagi hari cenderung mahal karena para pembeli masih lenggang sedangkan begitu hari meninggi dan para pembeli semakin banyak berdatangan maka harga cabepun dapat lebih murah. Hal ini karena para pembeli acap menawar dan apabila tawaran harga tersebut tiada disetujui maka calon pembeli akan beralih ke penjual lain yang bisa saja menawarkan harga lebih murah. Oleh karena itu harga cabe disaat ramai pembeli dapat lebih murah dibandingkan pagi hari. Hal ini tentu sangat aneh karena hukum perdagangan Ala Kapitalis tiada berlaku di pekan-pekan tersebut, nan berlaku ialah sebaliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s