Melancong ke Lombok(4); Lombok & Bandar Mataram

Picture: Here
Picture: Here

Sejak semula kami penasaran dengan dua hal yakni perihal nama Lombok dan Mataram. Segera kami tanyakan kepada kawan kami St. Rajo Basa perihal tersebut. Menurut penjelasan dari engku pemandu, dimasa dahulu ada suatu kawasan pelabuhan tua nan bernama Amparan. Disana berlabuhlah para calon penjajah yang berpura-pura sebagai pedagang berkebangsaan Portugis. Mereka bertanya kepada salah seorang nelayan yang mereka temui “Dimanakah pusat kerajaan negeri ini?”

Si nelayan menjawab “Lomboq..”

Si Portugis bingung, dan kemudian diberi tahu bahwa arti dari jawaban nelayan itu ialah “Lurus”.

Namun tatkala kami coba mencari tahu di internet maka didapatlah cerita lain. Dikisahkan sekelompok rakyat dari Kerajaan Mataram[1] pergi berlayar lurus ke arah timur dan mendarat di sebuah pelabuhan yang mereka namai Lomboq yang berarti “Lurus”. Nama ini diberikan untuk mengenang perjalanan mereka yang Lurus ke Timur. Pada akhirnya, penyebutan ini tidak hanya menjadi nama dari pelabuhan tersebut melainkan nama bagi pulau yang mereka datangi.

Dalam melakukan perjalanan, para musafir dari Mataram ini menggunakan perahu bercadik yang dinamai Sak-sak maka dikenallah mereka dengan nama orang Sak-sak. Di Lombok mereka melakukan kawin campur dengan penduduk asli yang melahirkan masyarakat Sak-sak sekarang. Dan tampaknya karena itu pulalah maka ibu negeri mereka dinamai dengan Mataram karena mengenang tempat asal usul dari nenek moyang mereka dahulu berlayar.

Agaknya hal tersebut mendapat bukti dalam perjalanan St. Rajo Basa dalam melancong ke pulau ini. pada beberapa tempat didapati papan nama jalan yang ditulis dengan menggunakan tiga huruf yakni huruf Latin, Arab, dan Sak-sak. Setelah diperlihatkan gambar nan didapatnya oleh kawan kami ini, kami berpendapat bahwa huruf Sak-sak memiliki keserupaan bentuk dengan huruf Jawa.

Hal yang sama juga dijumpainya tatkala berpesiar ke salah satu bandar di Pulau Jawa, seluruh nama-nama jalan pastilah ada tulisan latin dan kemudian dibawahnya dibuat tulisan Jawa “Sungguh kami heran, kenapa di negeri kita tidak dibuat pula hal nan demikian?” tanyanya entah kepada siapa

“Tulisan Minangkabau belum dikuasai banyak orang engku, lagipula penelitian mengenai tulisan itu belumlah ada pula. Hanya sekadar diketahui oleh orang saja baru..” jawab kami

“Maksud kami, kita pakai tulisan Arab-Melayu[2] serupa nan dipakai oleh negeri-negeri Melayu di Tanah Semenanjung. Bukankah Islam sudah menjadi jati diri kita orang Minangkabau ini..” jawab kawan kami ini.

Dalam hati kami membenarkan, alangkah baiknya apabila maksud hati St. Rajo Basa itu wujud menjadi kenyataan. Semoga saja Tuan Wali dan Tuan Gubernur membaca tulisan kami ini dan segera diterapkannya. Amin..

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Dimasa pemerintahan Pramodawardhani (Sailendra) bersama suaminya Rakai Pikatan (Sanjaya). Pramodhawardhani ditunjuk oleh ayahnya Samaratungga untuk menggantikan dirinya, menyebabkan adiknya (ada yang menyebut pamannya) yang bernama Bala Putera Dewa terusir ke Palembang, kampung halaman ibu mereka. Dimasa Samaratungga dimulai pembangunan Candi Borobudur dan dilanjutkan dimasa Pramodhawardhani. Selain itu, juga dibangun candi-candi lainnya.

[2] Ada yang menyebutnya sebagai Huruf Jawi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s