Melancong ke Lombok(3); Sekilas Pelancongan Lombok

Kursi tempat berjemur pada salah satu pantai di Gili Trawangan [Picture: Here]
Kursi tempat berjemur pada salah satu pantai di Gili Trawangan [Picture: Here]

Ada yang menarik selama St. Rajo Basa melancong di Lombok yakni logat bercakap orang-orang di negeri ini menyerupai logat bercakap orang Bali. Salah seorang anggota rombongan St. Rajo Basa bertanya kepada pemandu mereka “Engku, masih keturunan Balikah engku ini?”

Si engku pemandupun menjelaskan bahwa dia merupakan orang Lombok asli dan memang cara bercakap mereka hampir mirip dengan orang Bali sebab masa dahulu antara kedua pulau ini sudah terjadi persentuhan. Bahkan kawasan di Lombok Barat pernah berada di bawah kekuasaan Raja Karangasem di Bali. Selain dari segi bahasa, pakaian tradisional mereka (terutama yang laki-laki) juga serupa dengan pakain tradisional laki-laki di Bali.

Si engkupun menjelaskan bahwa wilayah Lombok Barat yang pernah dikuasai raja dari Bali masih terdapat penganut Hindunya. Tidak hanya Hindu akan tetap agama lain seperti Kristen juga ada disana. Perbedaan lain ialah wilayah Lombok Barat corak bangunannya banyak terbuat dari batu berlainan dengan kawasan Lombok nan lain yang bangunannya banyak nan terbuat dari kayu.

Perihal agama ada nan khas di Negeri Lombok ini, dimana terdapat sebuah agama nan bernama Wadu Talu. Talu bermakna tiga dimana para penganutnya hanya melaksanakan amalan shalat hanya tiga waktu saja yakni pagi, siang, dan malam. Demikian pula dengan puasa yakni pada awal, tengah, dan akhir saja. Hal ini karena pada masa dahulu para penyebar agama Islam di daerah tersebut[1] menggunakan cara bertahap dalam menanamkan ajaran agama kepada masyarakat.

Tahap pertama mereka mengajarkan shalat pada 1 (satu) waktu terlebih dahulu kemudian ditingkatkan menjadi 3 (tiga) waktu. Namun tatkala itu, para ulama tiada sempat menyelesaikan ajaran mereka menjadi 5 (lima waktu). Ada yang menyebutkan mereka telah pergi tanpa disebutkan alasannya, atau justeru sudah meninggal. Praktek ajaran agama Wadu Telu ini masih bercampur dengan kepercayaan lama yang mereka anut.

Demikianlah salah satu kekhasan Negeri Lombok, adapun pelancongan telah berjalan selama kurang lebih 30 tahun di negeri ini dan pada tahun nan silam mengalahkan Turki dan Abudhabi dalam penghargaan “Halal Tourism”.[2]

Oto bus terus melaju dan memasuki pusat bandar, sampailah mereka di kawasan Bandar Lama “Sangat berharap awak oto bus akan berhenti di sana, namun rupanya tidak. Tujuan berikutnya ialah kedai cinderamata..” ujar St. Rajo Basa kepada kami.

Pada kawasan Bandar Lama ini masih terdapat berbagai bangunan lama yang tak seberapa banyaknya. Disini banyak tinggal orang-orang Cina, Arab, dan India. Untuk melihat sukunya dapat ditandai dari kedainya, demikian ujar Engku Pemandu. Apabila orang Arab maka kedainya pastilah kedai perabot, sedangkan orang Cina berkedaikan barang harian. Pernah pelacong dari Arab ditanya oleh pemandu “Kenapa orang Arab banyak nan berdagang perabot?”

Lalu si Arab menjawab “Karena sudah disampaikan dalam Qur’an..”

“Apakah itu tuan?” tanya si pemandu pemandu penasaran

“Bukankah dalam Qur’an ada yang dinamakan Ayat Kursi..” jawab si Arab lagi

Kisah nan disampaikan oleh engku pemandu memunculkan gelak tawa diantara para anggota rombongan St. Rajo Basa. Adapun dengan orang Minang cukup banyak disini “Terbukti banyak Rumah Makan Padang di negeri ini..” ucap engku pegawai di kantor pemerintahan.

Kawan kami St. Rajo Basapun mengisahkan percakapannya dengan engku pegawai tersebut “Si engku sedih karena negerinya tak seterkenal negeri kita. Si engku mencontohkan seperti musik dimana terdapat unsur-unsur minangnya, pakaian, dan terutama makanan..”

“Benarkah ada pengaruh dari budaya Minang pada musik dan pakaian engku?” tanya kami kepada kawan kami tersebut.

“Entahlah..” jawabnya

Di Bandar Mataram terdapat sebuah jalan nan bernama Jalan Saleh Sungkar, menurut pemandu kami Saleh Sungkar ini kalau tiada salah ialah kakek buyutnya Mark Sungkar yang merupakan salah seorang pesohor dan ayah dari dua orang pesohor di republik ini.

________________________________

Catatan Kaki:

[1] Bayan, Lombok Utara

[2] Untuk tahun 2016 Indonesia berhasil memenangkan 12 kategori dengan 3 diantaranya berasal dari Sumatera Barat yakni World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Tour Operator – Ero Tour. Sedangkan NTB memenangkan kategori Honeymoon Halal Destination, World Best Halal Beach Resort, dan Halal Website.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s