Melancong ke Lombok(2); Sama-sama Negeri Islam

Picture: Here
Pantai di belakang hotel tempat St. Rajo Basa menginap. [Picture: Here]

Nusa Tenggara Barat nama propinsinya, terkenal sebagai Negeri Seribu Masjid karena hampir setiap kampung memiliki masjid nan indah-indah. Hal tersebut diketahui oleh St. Rajo Basa tatkala melihat video iklan pelancongan di bandara. Hal ini menandakan bahwa sebagian rakyat di pulau ini menganut agama Islam. Hal itu pulalah nan menjadi pokok percakapan rombongan St. Rajo Basa dengan salah pemuka pemerintahan negeri ini.

“Negeri tuan dan negeri kami memiliki kesamaan yakni sama-sama pemeluk Islam nan ta’at. Namun nan membuat kami heran ialah kenapa pelancongan di negeri tuan begitu maju sedangkan di negeri kami tidak? Apabila kami mencoba mengembangkan pelancongan di negeri kami makan akan segera berhadapan dengan nilai-nilai adat dan agama. Berkenanlah tuan memberi tahu kami..” demikianlah pertanyaan nan teramat jelas maksud dan tujuannya dari salah seorang Kepala Jawatan Pelancongan rombongan St. Rajo Basa.

Memanglah pelancongan di pulau ini sangatlah majunya, terkenal sampai ke mana-mana. Bahkan menurut salah seorang Kepala Jawatan Pelancongan di pulau ini beberapa orang pemodal telah siap sedia membangun beberapa kawasan hotel nan megah di negeri mereka untuk memajukan pelancongan.

Dalam hati St. Rajo Basa berharap agar tiada tersampai maksud sebagian besar orang untuk memajukan pelancongan di negerinya. Karena ganjaran nan didapat ialah perubahan nilai-nilai adat dan agama “Belum semaju negeri ini pelancongan di negeri kami, nilai-nilai adat dan agama sudah banyak nan ditinggalkan..” ucapnya dengan sedih dalam hati.

“Kalau pelancongan nan dimajukan itu sesuai dengan nilai-nilai agama dan adat di negeri kita bagaimana engku? Masih tiada bersetujukah engku?” tanya kami.

Dengan tersenyum kawan kami ini menjawab “Tentulah bersetuju sangat kami dengan itu engku..”

Kalau dibanding-bandingkan memanglah benar bahwa kesamaan antara Nusa Tenggara Barat dengan negeri kami ialah sama-sama penganut Islam yang besar. Hal itu pulalah nan menjadi salah satu bahan perbincangan St. Rajo Basa dengan salah seorang engku pegawai di kantor tersebut. Si engku agaknya heran dengan Mazhab Garis Ibu nan dianut oleh orang Minangkabau, menurut pemahamannya dalam mazhab tersebut perempuanlah nan meminang dan menjadi kepala keluarga serta pewarisan hartapun demikian. Hal tersebut membingungkan si engku karena di satu sisi mengaku Islam yang kuat namun di sisi lain adat yang bertentangan dengan Islam dipakai jua.

“Begini engku, pemahaman orang ramai tentang mazhab garis ibu tersebut banyak nan kurang sesuai..” terang St. Rajo Basa “Dalam pemahaman kebanyakan orang, apabila menikah maka si perempuan nan meminang lelaki serupa lelaki meminang perempuan di negeri lain. Demikian pula dalam adat perkawinan karena si lelaki tinggal di rumah isterinya maka isterinyalah nan menjadi kepala keluarga. Dan perihal pewarisan harta, sepenuhnya diwarisi oleh perempuan. Bukankah demikian engku?”

Si engku mengaanguk sambil tersenyum, kawan kami inipun melanjutkan penjelasannya “Perihal meminang, tiada serupa nan engku bayangkan. Pada dasarnya apabila mereka sudah menjalin hubungan kasih sebelum menikah maka tetaplah si lelaki nan akan meminta si perempuan untuk bersedia menjadi isterinya. Apabila mereka sudah saling bersetuju maka disampaikanlah kepada kedua keluarga mereka, apabila kedua keluarga telah bersetuju barulah kemudian dilakukan peminangan secara resmi oleh pihak perempuan kepada pihak lelaki. Jadi bukan langsung dilakukan peminangan oleh perempuan layaknya nan disangka banyak orang..”

“Adapun perihal hubungan suami isteri dalam pernikahan, tetaplah laki-laki nan menjadi kepala keluarga sesuai tuntunan syari’at. Bedanya apabila sudah menyangkut kepentingan Kaum (keluarga besar) maka pihak perempuanlah nan mengambil keputusan, suami tetap menjadi raja dalam hubungan dengan anak dan isterinya..”

“Kemudian perkara pewarisan harta, dalam hal ini ialah harta pusaka. Bolehkah awak bertanya kepada engku..” tanya St Rajo Basa, si engku mengangguk “Dapatkah kita mewarisi harta nan bukan punya kita kepada anak-anak kita?”

Si engku tampak bingung dengan pertanyaan kawan kami tersebut, lalu dilanjutkan oleh St. Rajo Basa “Konsep kepemilikan dalam Mazhab Garis ibu ialah Milik Bersama, tiada pembagian atas harta pusaka. Semua anggota keluarga sama-sama berhak atas harta pusaka tersebut, dapat dipakai bila perlua atas persetujuan bersama. Berlainan itu dengan harta pencaharian nan didapat oleh seseorang dalam kehidupannya, maka harta tersebut dibagi menurut jalan syari’at. Akan menjadi zhalimlah kita dan tak sah pula dalam pandangan agama mewarisi sesuatu nan bukan Hak Milik kita kepada anak-anak kita..”

Si engku agaknya mulai faham, karena pandangan umum nan terbentuk mengenai Mazhab Garis ibu itu bertentangan dengan keadaan sebenar nan berlaku di Ranah Minang itu sendiri. Sudah menjadi kelaziman bahwa setiap orang dalam melakukan penilaian menyandarkan penilaian tersebut kepada pengetahuan dan pengalaman hidupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s