Pejabat Feodal

Picture: Here
Picture: Here

Kawan kami St. Rajo Basa tersenyum-senyum sendiri tatkala tengah asyik menghisap rokoknya nan sebatang itu. Entah apa nan difikirakannya kami tiada tahu, sedang kasmarankah dia? Tiada tahan kami dengan rasa ingin tahu akhirnya kami tanyakan kepadanya. Cemas kami kalau ada kawan nan melihat, maka kawan kami nan seorang itu disangka sudah miring otaknya karena tersenyum-senyum sendiri sambil bermenung seorang diri.

“Tiada mengapa engku, hanya terkenang beberapa kejadian nan baru dilalui beberapa hari nan silam..” jawabnya dengan senyum sambil asap mengepul dari mulutnya. Kami ditawari rokok agak sebatang, kami ambil, siapa nan tak hendak dapat nan gratis.

“Apa gerangan kejadian nan membuat engku tersenyum seorang diri itu kiranya?” tanya kami ingin tahu.

Dengan mengambil nafas panjang, kawan kami ini berkisah “Kejadian pertama tatkala berjalan ke negeri orang beberapa hari nan silam. Kawan seperjalanan kami itu kebanyakan ialah para pejabat. Berbagai macam tabi’at mereka, namun nan membuat kami geram ialah tabi’at salah seorang Kepala Jawatan. Sungguh angkuh dia, apabila bercakap dengan pejabat berseri air mukanya namun apabila berhadapan dengan kami nan hanya seorang anak buah ini kusut masam air mukanya. Tiada keramahan, mungkin kesal karena kami tiada menyapa dirinya, hendaknya awak nan orang rendahan ini terbungkuk-bungkuk berhadapan dengan dirinya. Kami diamkan tiada kami acuhkan pejabat nan seorang itu..”

“Lalu sampailah pada suatu kesempatan, kami mengunjungi sebuah kampung tua yang masih mempertahanakan kehidupan lama mereka. Disana rumah-rumah kebanyakan dibuat dari kayu beratapkan jerami. Tatkala puas berkeliling maka kami berkeiginan hendak merokok namun kami ragu sebab keadaan rumah nan rapat dan terbuat dari bahan nan mudah terbakar. Sampailah kami dapati salah seorang pajabat memetik sebatang rokok tanpa ada nan menghalangi. Tentulah kami berkesimpulan disini tiada ditegah merokok karena setelah kami cari-cari tiada tanda larangan merokok..”

“Baru beberapa kali menghisap rokok, si Tuan Kepala Jawatan nan Angkuh ini berjalan melintasi kami. Dengan angkuh dia berkata bahwa apabila percikan api dari rokok itu mengenai rumah penduduk itu makan akan mudahlah terjadi kebakaran. Kami diam sambil tersenyum dan menambahi; Dan satu kampungpun akan habis dibakar api, bukankah begitu Tuan? Iya, jawabnya sambil berjalan membelakangi kami. Adapun kepada kawannya sesama pejabat tiada berani dia berkata demikian. Di atas oto bus nan membawa kami dipergunjingkannyalah kami dengan kawannya sesama pejabat nan sama-sama duduk di belakang..” kisah St. Rajo Basa

“Tapi, apa nan dikatakan Tuan Kepala Jawatan itu benarkan engku?” tanya kami takut-takut.

“Benar adanya..” jawabnya dengan senyum menyungging “Tapi karena hati kami telah sakit, tiada kami indahkan. Telah dua hari bersama dan itu kata-kata nan dikeluarkannya dengan nada angkuh dan cara sombong semacam itu. Awak dipandangnya babu saja oleh pejabat nan seorang itu..”

“Lalu kejadian berikutnya engku..?” tanya kami karena menduga ada kejadian berikutnya

“Nan berikutnya baru beberapa hari nan silam. Tatkala mengunjungi ibu propinsi kita pada salah satu kantor. Engku kan tahu kalau awak dan seorang kawan diundang untuk menghadiri suatu acara semacam Temu Bicara (diskusi). Disini kami bersua kembali dengan seorang pejabat rendahan nan angkuhnya minta ampun. Tatkala kami meminta ia menanda tangani surat nan kami bawa ia malah mencemooh ‘Hebat Tuan Kawi sekarang, tiada lagi pegawai nan berani macam-macam serupa dahulu’ ucapnya dengan angkuh. Kesal kami karena dikira hendak membohongi negara padahal jumlah surat nan kami bawa sesuai dengan jumlah orang nan datang…” kisah kawan kami tersebut.

“Kata orang penilaian seseorang itu mencerminkan siapa dirinya engku..” kata kami menenangkan “Mungkin demikianlah perangai si pegawai tua itu makanya dia menyangkakan nan serupa kepada engku..” jawab kami.

“Iya benar engku, kami do’akan apabila engku menjadi pejabat kelak tiada berperangai serupa dengan dua orang pejabat Angkuh nan kami ceritakan itu. Menjadi orang nan rendah hatilah hendaknya, anak buah jangan dipandang sebagai babu karena bukan awak nan menggaji mereka itu..” katanya sambil tersenyum bergurau.

“Hahaha, engkulah nan akan menjadi pejabat itu, awak tiada tampaknya..” jawab kami dengan bergurau pula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s