Bisikan si Durjana, Hasungan si Jahanam, Rayuan Sang Syetan

Picture: Here
Picture: Here

Runtuh semuanya, tiada lagi tempat berpegang, tiada lagi tempat bersandar, segala kesabaran dan ketabahan nan selama ini menjadi tumpuan sudah mulai habis. Belum usai satu persoalan sudah datang persoalan baru nan menghabiskan segala daya nan ada pada fikiran. Sungguh, cobaan atau justeru siksaan kah ini?

Termenung dia dikesorangan, kosong tatapan matanya, sedih air mukanya, wajahnya membeku bak patung karena fikirannya tengah melayang-layang entah kemana. Orang tiada peduli, tiada peduli sedang berada dalam beban seberat apapun ia nan penting kepentingan orang nan datang terpenuhi. Telah habis upayanya, telah hilang akalnya, sudah tiada sanggup ia.

“Beli buku tulis besar agak satu engku muda..” seru seorang pembeli yang tiba-tiba telah berdiri di hadapan meja etalase.

Yang empunya kedai terkejut dan langsung mengambilkan barang nan hendak dibeli oleh orang tersebut. Beberapa masa nan silam ada nan memberi tahunya perihal beberapa orang pembeli nan kesal kepada dirinya karena pernah silap berkata kasar kepada mereka. Ismail Shah (demikian namanya) hanya terdiam saja, diakuinya memang pernah terselip kata agak kasar beberapa kali dimana penyebabnya ialah para pembeli nan tiada sabar itu, mereka selalu hendak didahulukan padahal orang ramai berbelanja. Datang kemudian tapi hendak dahulu dilayani, demikianlah watak orang sekarang, egois kata orang.

Kini nan paling mencemaskannya ialah perihal adik perempuan nan teramat disayanginya, telah terkena jampi-jampi Si Jundai ia. Termakan kata-kata manis seorang Durjana yang melalangbuana di kampung mereka, ditambah hasungan dari orang kampung Padang Miang, salah satu kampung di nagari (desa) mereka. Segala daya telah dikerahkan untuk membukakan hati sang adik namun sia-sia belaka. Laki-laki Jahanam ini telah menanamkan pengaruh begitu dalam pada diri sang adik.

Pernah dia terkena gejala penyakit jantung disebabkan masalah ini namun hal itu tak menyadarkan sang adik. Adiknya telah gelap mata, kehilangan akal sehat, dan iman di dadapun telah lenyap. Dikatanya cinta, dikatanya ibadah di jalan Allah Ta’ala, namun sesungguhnya diarahkan jauh dari jalan agama, demikianlah kiranya apabila Syetan telah menguasai hati manusia. Anak dijauhkan dari ibu-bapa, adik dijauhkan dari abangnya.

Untuk pertama kalinya dalam kehidupan keluarga mereka, adik perempuannya melawan kepada kedua orang tua mereka. Membentak dan menghardik membela sang kekasih hati nan disangka malaikat itu, syetan telah benar-benar menguasai hatinya. Hancur dunianya, segala jalan pengorbanan telah dilaluinya, dan telah pula dilalui oleh abangnya. Perkara jodoh memang telah membuat hancur keluarga mereka.

Dahulu ia pernah hampir menikah dengan seorang perempuan, namun karena bunda dan adik perempuannya kurang berkenan maka ia mengalah. Demikian pula dengan abangnya, walau belum pernah mengajukan seorang calon untuk dirinya namun ia menyerahkan sepenuhnya pemilihan calon isteri kepada ibu, bapa, dirinya, dan adik perempuan mereka.

Namun sang adik nan menjadi tumpuan harapan keluarga, menjadi liar dan gila karena seorang lelaki. Tiada diturutinya contoh nan telah diberikan kedua abangnya. Calon nan dikehendakinya tiada berkenan pada keluarganya namun dia masih tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Akalnya telah hilang, pada hatinya tiada lagi iman, nan ada ialah nafsu syetan terhadap lelaki Jahanam nan telah merusakkan hubungan keluarganya.

“Pernikahan itu bukanlah perkara hubungan antara dua orang insan, melainkan hubungan antara dua keluarga..” nasehat mamak mereka pada suatu ketika “Mamanda pernah hidup di negeri Barat nan tiada beradat dan beragama, bagi mereka hubungan pernikahan itu hubungan dua orang manusia. Maka pantaslah serupa itu kehidupan masyarakatnya. Kalau kamanakanda tiada hendak mendengarkan pendapat keluarga, maka di Baratlah nan paling pantas kamanakanda hidup. Tidak di Minangkabau, tidak di Melayu nan berasaskan Islam ini..”

Tiada mempan, sungguh tiada mempan. Ismail Shah sudah benar-benar terpuruk dibuatnya, hatinya telah benar-benar hancur bercerai berai. Adik nan teramat di sayanginya, adik nan sangat dekat dengannya perhubuangannya, adik nan selalu dikawalnya, kini telah menjadi musuhnya demi seorang lelaki nan baru dikenal dan entah dari mana.

“Coba engkau kenang kembali, dahulu begitu damai keadaan rumah bukan?” tanya nya kepada sang adik “Kini bagaimana keadaan rumah kita? dan itu karena siapa dinda?”

“Ibaratkan kepada penyakit, apabila penyakit itu telah datang menyerang ke dalam badan maka ia mesti dibunuh. Kalau tidak maka ia akan kembali datang menghacurkan badan ini. Demikian pula dengan perkara laknat nan sedang menyiksa keluarga kita, pangkal dan sebab musabab dari semua inilah nan mesti dihilangkan..”

Namun jampi-jampi Si Jundai agaknya sangat kuat menguasai hati adiknya. Semua orang nan menghalangi “cinta” nya dianggap musuh nan mesti ia lawan. Tiada mempan segala perkataan dan ucapan nasehat nan diberikan. Semuanya berbalik menyerang yang memberi nasehat.

Adapun dengan lelaki jahanam ini masih tiada lelah menanamkan pengaruh kepada adiknya, demikian pula dengan orang-orang kampung Padang Miang tiada lelah mereka mempengaruhi sang adik. Nan membuat hatinya semakin hancur ialah salah seorang neneknya nan rupanya ikut pula menjerumuskan adiknya itu. Memanglah hubungan mereka dahulu tiada begitu baik, apakah ini cara mereka menghancurkan kehidupan keluarga mereka? entahlah..

Agaknya semua orang bersatu-padu dalam menghancurkan keluarga mereka, menghancurkan dari dalam. Mengadu-domba, sebuah Jurus Kuno yang masih tetap efektif tak lekang oleh zaman..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s