Hujan Berangin Kencang

Picture: Click Here
Picture: Click Here

Hujan, hujan itu tiada hendak reda justeru kebalikannya, bertambah lebat dia dan menjadi badai. Cemas sekalian isi rumah karena takut rumah mereka akan roboh, dihantam angin kencang itu. Kalau rumah itu roboh, hendak kemanakah mereka akan mencari tempat berlindung lagi?

Melalui sela-sela dinding kayu angin itu masuk membekukan tulang. Apa disentuh menjadi dingin sedingin es, dapur agaknya menjadi tempat yang paling nyaman saat ini. Maklumlah di rumah buruk itu tiada  ada perapian. Tak hanya melalui dinding dari lantai papan yang jarang-jarang itu masuk pula angin nan ngilu itu.

Orang tua ringkih yang berada di dalam rumah itu semakin tersiksa menahan ngilu yang menjalari seluruh tulang dan persendian yang telah lama dipakai itu. Kanak-kanak mengertakkan giginya menahan dingin, mencari-cari tempat nan agak hangat dan nyaman. Adapun dengan orang dewasa (laki-laki ataupun perempuan) memiliki kemampuan lebih dalam menahan nestapa yang didatangkan alam itu. Mereka tetap melakukan kegiatan mereka sebagai mana mestinya.

Telah berpekan-pekan hujan dan angin kencang itu menghantam rumah mereka, sabar dan do’a ialah pertahanan terakhir mereka. Segala daya dan upaya telah mereka usahakan untuk memperkokoh rumah buruk itu, namun sayangnya tiada dapat bahan nan diperlukan dan pertolongan nan diharapkan pun tiada tampak.

Desauan angin semakin menghiru biru, cemas sekalian orang nan ada di dalam rumah. Para perempuan mulai dilanda kecemasan, orang tua diam tak berdaya, dan kanan-kanak dihantui kecemesan, adapun dengan para lelaki ada yang telah putus asa namun ada jua nan masih berusaha menguatkan diri. Mencoba menghadapi cobaan ini dengan tenang agar tersua jalan keluarnya.

“Orang-orang itu, kalau tiada hendak menolong, usahlah bercakap macam-macam..!” ucap seorang perempuan

“Sungguh tiada faham awak, entah apa nan ada di hati mereka itu? Terbuat dari apakah hati mereka?” timpal seorang lelaki.

Bukan pertolongan nan mereka dapatkan melainkan cacian dan umpatan. Tak hendak mereka apabila kayu kepunyaan mereka dipinjam sampai musim gila ini berakhir oleh para penghuni rumah buruk itu. Tak hanya itu cacian, umpatan dan senyum senanglah nan diberikan oleh orang kampung kepada keluarga malang itu. Mereka lebih senang melihat keluarga malang itu kehilangan tempat berteduh, hanya karena hasad dan dengki menjalari mereka.

“Kita hadapi perkara ini dengan tenang, usahlah kita terpancing perasaan menghadapi kelakuan orang kampung nan gemar bergunjing dan mengadu-domba itu..” jawab lelaki nan lebih muda berusaha menenangkan.

Si lelaki muda faham kalau keluarganya memiliki kekurangan nan tiada dapat ditutupi. Selama ini dia berusaha bersabar dan mencari jalan yang baik dalam mengingatkan keluarganya. Namun tentulah membutuhkan kesabaran karena tiada mudah mengubah tabi’at manusia. Nan membuat dia tak habis fikir, salah seorang adiknya berencana untuk meninggalkan rumah karena sudah tiada tahan dengan keadaan rumah nan demikian. Sungguh hancur hatinya..

Orang-orang nan dahulu pernah berusaha mencelakakan kedua orang tua mereka, kini anak-anaknya melanjutkan usaha ayahnya untuk menghancur keluarganya. Sungguh tak habis fikir dia, kenapa mulut durjana itu nan dipercayai adiknya, bukan keluarga mereka.

Hujan semakin lebat, dingin semakin menusuk, namun itu semua tak seberapa dari sakitnya tusukan panah-panah jahanam dari orang kampung yang tukang hasung itu. Masih ada nan baik diantara mereka kepada keluarganya, namun mereka saat ini memilih sikap diam dan menjaga jarak..

Advertisements

2 thoughts on “Hujan Berangin Kencang

  1. Ilustrasi nya selalu bagus-bagus, boleh tahu cara mendapatkan ilustrasi itu engku muda? Pasti tiada cukup hanya mengetik kata kunci di keyboard. Macam langganan apa gitu, benar begitu engku?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s