Lakon Kehidupan

Picture: Click Here
Picture: Click Here

Hujan tiada henti semenjak petang di bandar kami nan terkenal sejuk itu, hari nan dingin bertambah dingin saja ditingkahi dengan angin nan bertiup menderu-deru, atap seng di atas kantor kami merintih pilu karena salah satu pakunya tanggal, batang kayu di sekeliling kami riuh rendah karena daun dan ranting mereka ditampar oleh angin. Beberapa orang masih setia berada di dalam kantor walau telah masanya untuk pulang mereka tetap duduk-duduk maota-ota (ngobrol) dengan kawan sefaham atau bertukar gurauan. Sebagian ada nan sibuk bekerja atau sekadar menghidupkan komputer, entahlah, tiada pula kami perhatikan.

Beranjak senja hujan tiada reda, bertambah deras ia. Sebagian sudah ada nan memutuskan untuk pulang, mungkin mereka membawa mantel dalam kotak yang terdapat dalam perut onda(motor) mereka. Perlahan-lahan suara beberapa orang mulai terdengar jelas, mungkin karena jumlah orang yang mengeluarkan polusi suara sudah berkurang oleh karena itu suara mereka menjadi terdengar jelas.

Lepas magrib, hari telah benar-benar kelam, angin masih bergerilya dengan liarnya sedangkan hujan masih tak hendak reda ia. Salah seorang kawan telah memutuskan untuk pulang, mantel sudah disiapkan di dalam perut ondanya. Akhirnya tinggallah empat orang saja di kantor, termasuk kami dari nan empat itu.

Maaf engku, kami sendiri heran, entah untuk apa kami kisahkan suasana kantor menjelang kami pulang itu. Bagaimana kalau kita langsung saja ke pokok cerita?

Menjelang waktu Isya masuk kami putuskan untuk pulang, tinggallah tiga orang lagi di kantor. Hujan masih turun, dinginnya malam semakin semarak dengan dinginnya air hujan yang turun dari atas langit itu. Sepanjang jalan dari bandar tempat kantor kami ke kampung kami nan 12 Km jaraknya itu disirami hujan. Payah mata ini memandang, oleh karena itu onda buruk nan telah banyak jasanya ini kami bawa lambat-lambat.

Sekitar3-4 Km menjelang sampai di rumah kami, tepatnya di Nagari Kapau, kami dapati sebuah oto(mobil) berhenti di tepi jalan. Seorang laki-laki yang telah beranjak setengah abad umurnya melambaikan tangan dengan penuh harap kepada nan lalu. Seketika kami berhenti, faham kami bahwa otonya merajuk, tiada hendak berjalan. Terkenang dengan perasaian kami dengan oto buruk kami, dimana oto buruk itu juga acap merajuk tak hendak berjalan. Payah kami melambai-lambaikan tangan, tiada orang nan hendak menolong.

Si engku tiada menggunakan jaket ataupun mantel hujan, lagian untuk apa orang nan membawa oto membawa mantel hujan. Si engku meminta agar kami berkenan menolong dia dan seorang kawannya untuk menorong otonya nan merajuk itu. Maka kami doronglah oto perajuk beserta si engku nan melambaikan tangan tadi, seorang kawannya duduk di belakang kemudi.

Dua kali kami mendorong, si oto tiada hendak hidup, entah merajuk atau justeru tidur lelap ia? entahlah..

Kami tanyakan apa penyakit otonya? Si engku menjawab “Mungkin businya..” jawab si engku pasrah

Si engku dengan pasrah menyuruh kami melanjutkan perjalanan sebab tiada enak hati kami nan hendak pulang menjadi terlambat sampai di rumah. Namun kami putuskan untuk tetap menemani engku nan berdua ini. Akhirnya kami tawarkan agar dicoba lagi mendorong, si engku menyetujui dan dicoba kembali. Hasilnya sama, benar-benar telah lelap tidur oto ini, tiada hendak dibangunkan.

“Mungkin akinya engku?” tanya kami

“Entahlah, awak tak pula faham..” jawab si engku dan fahamlah kami kalau si engku tiada mengerti mesin sama kiranya dengan kami.

Akhirnya kami tawarkan untuk mengantar si engku ke rumah anaknya guna mencari pertolongan. Kebetulan rumah anak si engku tak jauh dari rumah orang tua kami. Si engku bersetuju dan meminta kawannya menanti di dalam oto, sedangkan si engku berhujan-hujan di belakang kami “Maaf engku, hanya ada satu mantel..”

“Tiada mengapa, sudah tanggung basah..” jawab si engku.

Selama dalam perjalanan kami bercakap dan saling memperkenalkan diri. Si engku bukanlah orang kampung kami, ia sudah bercerai dengan isterinya. Anak sulungnya sebaya dengan adik lelaki kami nan nomor dua. Kalau tiada salah, si engku memiliki lima orang anak dari bekas isterinya itu. Demikianlah kami saling bertanya perihal keadaan diri masing-masing.

Terkenang oleh kami akan kehidupan si engku dengan anak-bininya dahulu tatkala kami masih kanak-kanak. Ia dan isterinya berdagang kain di pasar bandar kami. Amatlah baik peruntungan perniagaan mereka itu, berlimpah ruah harta mereka. Dahulu, antena parabola amatlah langka, hanya orang-orang ber-uang banyak nan dapat membelinya. Si engku termasuk nan pertama memilikinya, amatlah ramai kanak-kanak datang ke rumahnya untuk menonton film “Kesatria Baja Hitam” yang berasal dari Jepang itu. Termasuk kami, yang bersama beberapa orang anak hanya dapat mengintip dari balik jendela rumahnya.

Ramai pula perempuan-perempuan apakah itu masih gadis ataupun nan sudah menikah bekerja untuk menjahit ke rumah isterinya. Bahkan sempat pula mereka membeli sebuah oto dan si engku dapat pula membeli sebuah onda balap seperti onda yang dipakai oleh pembalap Moto GP itu. Dahulu, si engku ini sangatlah gagah sekali, parlente kata orang.

Kini keadaan keluarga mereka serupa bumi dengan langit, si engku bercerai dengan isterinya, anak-anaknya nan telah tamat SMA tiada nan berkuliah. Nan sulung telah menikah dan menjadi tukang pasang loteng gypsum di Batam, anak kedua ialah laki-laki, berdagang di batam. Sedangkan anak nan ketiga pernah bersua dengan kami tatkala sedang bertugas pada suatu acara resmi bandar kami, menjadi tukang foto ia. Namun kata si engku, kini anak nan nomor tiga sudah menyusul abangnya pula berniaga di Batam. Anak keempat dan kelima ialah perempuan, nan keempat masih bersekolah di SMA dan mencoba meniti karir di dunia tarik suara di ranah lokal negeri kami.

Sungguh jalan nasib itu tiada dapat kita terka dan ramalkan. Sebaik apapun rencana nan kita buat, rencana Sang Khalik jualah nan jalan. Kita hanya dapat berikhtiar dan bertawakal atas ketetapannya serta mejalankan semua itu dengan lapang dada.

Kata orang tua-tua “Lurus-lurus sajalah hidup engkau, niscaya selamat penghidupan engkau di atas dunia ini..”

Entahlah engku, segan kami untuk mengisahkan perkara nan satu ini kepada engku, rangkayo, serta encik sekalian. Kata Tuanku nan mengaji di surau “Menyembunyikan aib dari saudara engkau itu merupakan suatu kebaikan dan akan mendapatkan ganjaran pahala..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s