Selamat Tinggal Kawan

Picture: Click Here
Picture: Click Here

Kawan, telah lama kaki ini berjalan, penat mulai terasa dan letihpun mengekor pula. Tiada sanggup daku berjalan lagi melintasi jalan tak berujung ini. Terkadang bersua jalan buruk, berat untuk dilalui ada kalanya bersua dengan jalan nan mulus, senang kaki ini dibawa berjalan, ringan badan ini terasa, dan riang hati dibuatnya.

Kawan, usahlah engkau datang lagi kalau tiada hendak setia mengawani ku dalam perjalanan ini. Bukankah daku tiada pernah mengundang engkau untuk berjalan bersama? Engkau sendiri nan mula datang mendekatkan diri. Engkau sanjung diri ini, engkau lambungkan hati ini, namun tatkala kami tengah berada di awang-awang, tatkala senyum merekah di wajah nan kusam ini, engkau pergi.

Kawan, untuk apa engkau dekati daku kalau akhirnya engkau sendiri akhirnya memutuskan menjauh? Tanpa sebab, tanpa mengucap selamat tinggal. Engkau berpindah ke yang lain, dengan riang gembira serta bersenda gurau engkau berjalan dengan orang di sebelah daku. Orang nan telah beberapa kali menohok daku dari belakang, menikung daku dalam perjalanan.

Kawan, tiada puas hati ini dibuatnya, gerangan kesalahan apakah nan telah daku perbuat kepada engkau? Payah daku menghisab diri namun tiada teringat kesilapan macam apa nan telah daku perbuat, kata serupa apa nan telah terlompat, dan laku nan bagaimana pula nan telah tersorong.

Sudah banyak orang nan datang dan pergi dalam perjalanan ini. Mereka datang sebagai kawan dan akhirnya beralih ke orang lain meninggalkan daku dalam kesendirian perjalanan ini. Daku terjatuh mereka diam, daku terjerembab mereka tiada hendak menolong, terkadang orang nan tiada disangka-sangka nan datang menolong. Selepas itu diapun pergi melanjutkan perjalanannya sendiri.

Kawan, sungguh orang serupa itu lebih baik, karena tiada ikatan bathin dengan mereka. Hanya senyum nan merekah mengulurkan tangan untuk membantu, atau berbagi bekal dengan daku nan telah kehabisan bekal. Bercakap-cakap sekadarnya dan lalu kembali berpisah dengan tujuan masing-masing. Sungguh serupa itu lebih baik, lebih baik tiada saling mengenal dan tiada pula saling mendekat asalkan kita saling menaruh kepedulian dan cinta kasih.

Kawan, terima kasih atas kenangan indah nan telah engkau tinggalkan tatkala kita berjalan beriringan dahulu. Terima kasih atas segala kepedualian nan engkau tunjukan dan kasih nan engkau berikan. Semoga Allah Ta’ala membalas semua kebaikan nan pernah engkau berikan kepada ku.

Kawan, maafkan segala salah dan silap ku itu merupakan suatu ketidak sengajaan nan aku perbuat kepada engkau. Semoga kawan engkau seiring sekarang tiada mengulang kesalahan nan pernah daku perbuat kepada engkau. Semoga jalinan persahabatan kalian kekal hendaknya.

Selamat tinggal kawan, semoga jalan engkau tiada seberat nan daku hadapi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s