Kisah Merana Si Pecinta

Picture: Here
Picture: Here

Malam serupa ini ialah malam-malam nan dahulu pernah dilalui. Malam-malam penuh penantian dan angan-angan, malam-malam nan penuh dengan ketiada pastian, malam-malam nan penuh kerinduan. Kerap terbesit pertanyaan, gerangan apa nan berlaku pada diri ini, demikian berat cobaan nan mesti dijalani.

Cinta itu mainan kehidupan, apabila telah hinggap kepada hati nan penuh dahaga maka akan terpuaskanlah ia. Terkadang ia pergi lagi meninggalkan duka, terkadang ia menetap mendatangkan suka. Selemah apapun ia, akan menjadi kuat karenanya. Begitu bertuahnya cinta itu hingga tiada seorangpun nan dapat memberikan makna akan dirinya. Telah penuh kitab pujangga dengan rangkaian kata namun tiada didapat arti sesungguhnya. Telah bersuluk para ahli tasawuf namun tiada didapat makna pada dirinya.

Cinta itu datang dengan berbagai macam rupa, bak kata para pecinta “Apabila engkau hendak merasakan cinta, maka bersiaplah untuk terluka..” sungguh kejam nian, belum merasa apa itu cinta, awak telah diancam dengan ancaman menakutkan itu. Tetapi benar adanya, memang demikianlah nan berlaku, cinta mendatangkan duka, cinta mendatangkan sengsara.

Telah banyak pelarian-pelarian cinta yang memutuskan untuk tiada hendak lagi kenal dengan cinta. Kecuali cinta kepada keluarga, bangsa, tanah air, ataupun kepada agama. Betapa banyak nan memutuskan untuk menanggung derita seorang diri, kesepian di tengah hiruk-pikuk dunia. Telah jera mereka, takut telah menjalar dalam aliran darah mereka, enggan telah menguasai hati mereka, dan benci telah menjadi perisai terakhir mereka.

Cinta, tak semua orang yang beruntung dapat merasakannya. Dipaksakan jua hati nan lemah itu untuk mencinta, akhirnya duka dan nestapa nan menjadi balasan. Dijauhkan dengan nan terkasih, terbuang dari sisinya, atau mungkin dicampakkan oleh sang kekasih hati nan teramat dicinta itu.

Ada kalanya selepas itu datang lagi cinta nan lain, cinta nan sebenar tulus. Kembali dibangun harapan, kembali dipupuk keinginan, diperkuat bathin nan pernah luka. Namun satu nan tiada dapat ia lepaskan, sibiran tulang nan terpaut hatinya.

Cinta, terkadang tiada lagi cinta itu nan datang. Sedangkan disana, ia sudah bertemu pengganti dirinya. Kini dia seorang diri dalam keputus asaan, dilembah kekeringan, mengharapkan hujan nan tiada turun, mengharap tangan nan tiada pernah terulur. Hancur dunianya, membayangkan semua miliknya diambil alih oleh Sang Pengganti.

Ah, cinta. Demikianlah tabi’atnya, suka memilih ia dalam memberi perhatian. Elok laku tuan, baik budi tuan, lurus jalan nan tuan tempuh tak menjadi jaminan bahwa cinta juga akan berbaik hati kepada tuan. Cinta bak penguasa lalim yang suka menyakiti rakyatnya. Cinta bak ular nan menggigit tuannya, berhati-hatilah tuan. Cinta itu kejam..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s