Tabali Lado Pagi

Picture: Here
Picture: Here

Perkara jodoh ialah perkara nan memusingkan kepala, terutama bagi masyarakat nan masih memegang teguh adat resam negerinya. Setiap orang tua akan mengalami betapa payahnya memikirkan jodoh bagi anak-anaknya. Suka anak, orang tua nan tiada berkenan, begitu orang tua nan suka, sang anak nan enggan. Sungguh kisah itu sangat banyak nan berlaku.

Adapula nan lancar tanpa halangan dalam mendapatkan jodoh, tiada payah orang tua berfikir, tiada perlu sengketa berlaku. Sungguh berkah bagi mereka, karena tiada perlu melalui jalan berliku dan penuh kerikil tajam nan menusuk itu. Langsung dapat, langsung menikah, dan langsung punya anak.

Ada nan sudah lama belum bersua dengan jodoh, pusing kepala memikirkan, apalagi kaum keluarga dan kerabat. Dianggap pemilih atau jual mahal, atau karena memang dimaklumi oleh orang karena kekurangan pada diri yang jarang ada orang nan dapat menerima.

Namun terkadang, para orang tua acap silap dalam memilih jodoh untuk anak-anaknya, apalagi nan takut kalau anaknya mendapat gelar “bujang lapuk” atau “perawan tua”. Sering gelap mata si orang tua, menikahkan anaknya dengan sesiapa saja nan tampak, serupa orang berjualan yang jualannya tiada laku-laku maka dijual berapa orang mau. Lepas itu terbit penyesalan karena rupanya ada nan berkenan membayar mahal. Apa hendak dikata, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Serupa dengan salah seorang kerabat kami, karena saudara perempuannya memiliki kekurangan maka putus asalah orang tua dan abang-abangnya. Begitu ada nan hendak mengawani maka langsung disetujui tanpa usul periksa, selidik, dan pemikiran yang mendalam. Pengajaran orang tua-tua dalam memilih calon menantu “Periksa asal usulnya karena buah jatuh tiada jauh dari batangnya. Periksa akhlaknya karena darahnya itulah nan akan diturunkan kepada cucu kita. Periksalah agamanya, karena dialah yang akan memandu anak kita dikemudian hari. Periksalah tabi’atnya, jangan sampai kita dijauhkan dari anak dan cucu kelak..”

Tatkala disanggah oleh salah seorang kaum keluarganya, para abangnya menyanggah “Sudah untung awak ada nan hendak kawin dengan adik kami nan seorang itu. Suka etek apabila ia tak kawin-kawin, anak perempuan satu-satunya, harapan keluarga kita..!!?”

Benar agaknya, tersua berselang belasan tahun kemudian. Darah dari ayahnya, tabi’at diturunkan ayahnya, serta akhlak ayahnya itulah nan didapatkan sang anak. Semenjak kanak-kanak sudah terbaca, namun dianggap biasa karena dipandang perilaku kanak-kanak. Begitu tumbuh menjadi gadis jolong gedang, si anak mulai membuat sakit kepala para mamaknya (saudara lelaki ibu). Suka berbohong, suka mencuri, menggaduh kawan, mengurang ajari guru, bahkan sudah pandai main dengan lelaki.

Pada suatu hari si anak tak pulang-pulang, lintang-pungkang para mamaknya mencari. Didengar sang kamanakan dibawa lari oleh seorang pemuda tak bersekolah yang sehari-hari bermain-main di pasar kerjanya. Menurut nan memberi kabar, sang kamanakan dibawa lari ke propinsi jiran. Maka segeralah salah seorang mamaknya dengan membawa beberapa orang pergi mencari untuk menjemput.

Benar agaknya, sang kamanakan nan masih belia itu sedang bersama lelaki nan dimaksud dan bersembunyi pada sebuah penginapan. Segera ia dibawa pulang, kemudian para mamaknya memutuskan untuk memasukkan kamanakan perempuan mereka satu-satunya ke pondok pesantren yang tak jauh dari rumah mereka letaknya. Namun sang kamanakan membuat ulah, berkelahi dengan kawan dan bahkan berani menantang para Engku dan Encik Guru.

Pihak pondok pesantren menyerah nan meminta agar keluarganya membawa kembali sang anak. Akhirnya berkat saran beberapa orang kenalan mereka, maka dimasukkanlah sang kamanakan pada salah satu pondok pesantren di pulau seberang yang terkenal berhasil membimbing anak-anak bermasalah serupa sang kamanakan. Berhasil memang, terasa perubahan, dan tampak berlainan tabi’atnya. Namun itu semua mesti dibayar mahal karena uang sekolahnya tiada sedikit. Sang mamak lintang-pungkang mencari uang demi sang kamanakan disamping menghidupi anak-isteri.

Bagaimana halnya dengan sang ayah?

Ayahnya ialah lelaki bertabiat buruk dengan akhlak rendah, pekerjaannya ialah berjudi dan tiada pernah shalat. Tiada pernah ia menghidupi anak isterinya karena dia tahu, isterinya berasal dari keluarga berharta dan penghidupan anak-isterinya sudah ditanggung oleh para sumando (saudara lelaki isteri)nya. Kerjanya ialah pergi duduk-duduk dilepau dan berjudi dengan kawan-kawannya.

Kini, terbit sesal nan tiada berguna. Darah tak berguna itu telah mengalir dalam darah kamanakan perempuan mereka satu-satunya. Hendak berkata apa, dahulu awak nan tiada becus, awak nan tiada berfikir panjang. Hanya karena takut adik perempuan satu-satunya menjadi perawan tua maka dinikahkan dengan sembarang orang. Masa tiada dapat diulang, waktu berjalan terus, kini do’a, harapan, serta usaha yang patut untuk dikerahkah agar darah kotor itu menjadi bersih hendaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s