Belum ada terang

Picture: Here
Picture: Here

Mimpi itu masih jauh, masihlah jauh. Berbagai halangan merintangi, berbagai hambatan menjambangi, berbagai duka mendatangi, semuanya bak hidangan nan tersaji sepanjang hari. Menjadi bahan menghisab diri, termenung setiap hari, memikirkan nasib diri. Duhai, betapa berat cobaan ini..

St. Rajo Basa terbangun dipagi nan dingin, telah hampir usai pula orang mengerjakan Shalat Subuh di surau sebelah rumah orang tuanya. Semalam matanya amatlah payah untuk terpicing, dinginnya malam semestinya dapat membuat matanya terlelap, penatnya badan seharusnya dapat membuat dia cepat menuju alam mimpi. Terserahlah apakah itu mimpi indah atau justeru mimpi buruk, nan penting terlelap, namun sebaliknya nan berlaku.

Berbagai perasaian tiada jemu-jemunya mendatangi dirinya, telah hampir kehilangan kepercayaan dirinya. Itulah nan ditakutkannya selama ini. Berbagai ibadah wajib nan ditunaikannya tiada terasa nikmatnya, baginya semua itu ia lakukan karena takut akan neraka Nya, bukan karena cinta akan Dia.

Perlahan-lahan bisikan syetan mulai menguasai hatinya, betapa tak adilnya takdir nan berlaku atasnya. Semenjak muda memelihara diri dan menjauhi segala larangannya namun serupa ini cobaan nan mendatangi. Tak hanya satu ataupun dua, namun lebih dari nan sanggup ditanggungnya. Hingga kini belum ada titik terang atas semua nasib buruk itu. Bukannya terurai dan menjernih namun justeru sebaliknya, semaki kusut dan keruh.

“Engku kawan daku nan baik, apa gerangan salah awak ini? Tiada titik terang atas semua masalah pelik ini..” keluhnya pada suatu ketika.

Kami tiada memberi jawapan karena tiada berpengalaman dalam menghadapi masalah serupa ini sebelumnya. Takut kami salah-salah memberi saran akan bertambah sengsara dirinya. Nan dapat kami lakukan ialah menjadi kawan nan baik, menjadi pendengar nan penuh perhatian. Setidaknya dengan meluahkan segala gundah di hati itu dapat mengurangi agak sedikit beban penderitaannya.

Memanglah pernah kami mendengar Tuanku mengaji di surau “Allah takkan menurunkan cobaan melebihi kesanggupan umatnya..” namun agaknya kawan kami ini sudah sampai batas dan tiada sanggup lagi kami.

Kamipun heran jua, banyak orang, banyak bangsa nan sedang menanggung cobaan nan tiada terperi sakitnya. Namun hingga kini belum ada titik terang untuk penyelesaiannya. Ada nan bilangan tahun, belasan tahun, dan bahkan puluhan tahun yang masih menderita dengan cobaan itu. Ada apakah gerangan? kami tiada faham, sungguh kami ikut berduka untuk mereka semua.

Ada pula kaji Tuanku nan lain “Allah takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri nan berdaya upaya untuk mengubahnya..”

Kata Tuanku lagi “Ayat itu bermakna bahwa tiada semestinya kita menyerah begitu saja akan nasib dan takdir, tetap berjuang dan berusaha untuk menghadapinya. Tiada pula berguna apabila engku perbanyak ibadah, mengadu kepada Allah, serta menyerahkan segala persoalan keharibaanNya tanpa adanya usaha dari engku untuk menghadapi dan menyelesaikannya..”

Kami pandang-pandangi, kawan kami ini ada berusaha, telah banyak ikhtiar nan ditempuhnya namun bukannya semakin menjernih, sebaliknya semakin kusut masai jadinya. Demikian pula bangsa-bangsa nan sedang tertindas itu, ada mereka berusaha untuk membebaskan diri namun hingga kini belum ada tampak perubahan atas nasib mereka.

Beristigfar kami dalam hati, bukan maksud hati mempertanyakan semua perkara itu. Hanya menyimpan sedih dan duka untuk mereka yang sedang berjuang memperbaiki nasib, namun buah dari usaha itu belum ada jua nampak, bahkan tanda-tandapun tidak.

Advertisements

2 thoughts on “Belum ada terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s