Si Tukang Bisik

Picture: Here
Picture: Here

Desahan bak kicauan burung tertahan, Si Tukang bisik telah kembali beraksi pula. Menghasung dan menanamkan pengaruh, berdusta dan membutakan mata. Sungguh kami tiada menyangka, gerangan apakah nan difikiran mereka?

Bisik-bisik di telinga si isteri, si suami ditendang dari rumah. Dipisahkan dari si buah hati, dijauhkan dari diri.

Bisik-bisik kepada sang kekasih, ia dijauhkan dari keluarga, menghujat ibu-bapa, dan dibasuh hatinya dengan air najis.

Bisik-bisik ditelinga seorang lelaki, kawan karib dijadikan lawan, musuh bebuyutan menjadi kawan.

Bisik-bisik di telinga si induk semang, harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.

Bisik-bisik si tukang bisik, tiada lelah bergemerisik, hendak melalukan nan di bathin, satu negeri menahan hati.

Bisik-bisik si tukang bisik, gula-gula nikmat sekali, habis dimakan terasa lagi. Nikmat tiada habis, minta lagi diminta lagi.

Sengsaralah badan menanggung duka, pabila tiada tepenuhi nan di hati. Si tukang bisik telah berlalu, karena habis manis sepah dibuang.

Cinta itu hanya pada diri, mencintai diri sendiri. Itulah ia Si Tukang Bisik, tiada habis dimakan zaman, entah dahulu, entah kini, entah pula yang akan datang. Bisa engku, bisa awak, bisa pula rangkayo, atau jangan-jangan encik?

Bisik-bisik si tukang bisik, siapa kiranya lepas ini nan menjadi mangsa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s