Fitnah

Picture: Here
Picture: Here

Tiada salah wasiat dari penghulu para nabi “Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan..”

Apabila jiwa orang nan engku ambil maka habis sudah riwayatnya, ahli keluarga akan meratapi, dan duka akan kehilangan itu perlahan-lahan akan terobati. Namun apabila seorang manusia nan engku fitnah dan fitnahan itu dimakan bulat-bulat, maka akan sengsaralah kehidupan orang nan difitnah serta orang nan termakan fitnah.

Masih dapat kami terima apabila nan dirusak itu ialah hubungan persahabatan, hubungan induk semang dengan anak buahnya, antara jiran bertetangga, ataupun antara seorang saudagar dengan para pelanggannya. Namun apabila nan dirusak itu ialah hubungan antara keluarga, ayah dengan anak, ibu dengan si buah hatinya.

“Adakah orang nan demikian?” tanya engku

Sejauh pengalaman kami ada engku, seorang anak membenci kedua orang tuanya hanya karena termakan hasungan orang, ataupun sebaliknya. Hilang kepercayaan karena termakan hasungan orang, sungguh salut kami kepada si penebar fitnah, sungguh lihai orang dengan kepandaian yang mereka warisi dari syetan laknatullah itu.

Kami pernah mendapati korban dari fitnah itu, tapi nan dirusak hanyalah hubungan persahabatan dan hubungan induk semang dengan anak buahnya. Sungguh sakit terasa, sampai kini masih sakit,.

Bolehkah kami membagikan pengalaman nan tiada seberapa itu kepada engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Adalah seorang pegawai nan baru pindah ke kantor baru, Sutan Bagindo Basa namanya, baru beberapa hari mulai bekerja ia telah membawa sebuah piala untuk kantornya. Piala itu didapat karena ia menang suatu lomba, atas saran beberapa orang kawan se kantornya, piala itu diserahkan kepada Engku Kepala Kantor dan ditaruh diruangannya bersama piala-piala nan lain. Ramai orang memujinya, menceritakan kepada sekalian pegawai nan belum tahu akan capaian nan diraih oleh pegawai baru ini. Akan halnya dengan para pimpinan di kantor banyak nan jatuh hati kepadanya.

Ada nan senang, kagum, dan tentunya ada pula nan tiada sedang, dengki, atau merasa terancam. Namun nan namanya manusia, sangat pandai menyimpan perasaan. Pepatah orang munafik serupa ini ialah “Walau singa di dalam hati, nan keluar kambing jua..”

Tersebutlah salah seorang Kepala Bagian yang ada di kantor itu. Amatlah sukanya akan pegawai baru ini, apalagi kampung mereka bersebelahan, tentunya sudah saling menganggap saudara mereka itu. Karena St. Bagindo basa ini dianggap cerdik maka harapan si pejabat kiranya ia dapat membantu memberi saran akan pekerjaan nan menjadi beban tanggungannnya.

Acaplah mereka berjalan berdua, berbincang-bincang berdua sehingga menimbulkan hasad dan dengki pada pegawai lain nan telah lama bekerja dengan Si Kepala Bagian. Banyak nan memperkirakan bahwa St. Bagindo Basa akan diusulkan untuk menjadi Wakil Kepala Bagian. Maka cemaslah salah seorang pegawai nan juga amat dekat dengan Si Kepala Bagian dan kebetulan, dialah nan menjabat sebagai Wakil Kepala Bagian.

Untuk mengatasi perkara tersebut, difitnahlah St. Bagindo Basa itu. Dituduh ia bahwa tiada pernah datang memenuhi kewajiban piket akhir pekan. Maka dipotonglah uang lembur St. Bagindo Basa oleh Kepala Bagian. St. Bagindo Basa terkejut tapi ia pasrah saja, mulanya kesal ia kepada Si Pegawai Lama nan melaporkan dirinya tiada masuk, padahal ada masuk. Namun beberapa orang kawan sekantor menasehati “Mungkin khilaf ia..”

Akhirnya dimaafkanlah Si Pegawai Lama ini oleh St. Bagindo Basa. Berselang beberapa bulan kemudian terulang lagi kejadian ini. St. Bagindo Basa dituduh tiada hadir piket akhir pekan, di hadapan kawan-kawannya ia tegur nan tiada mendapat uang lembur. Salah seorang kawannya membela namun jawaban Kepala Bagian ialah “Saya menerima laporan dari Si Anu (pegawai lama) dan hanya laporan dari dialah nan sah di hadapan saya..”

Maka kesal, geram, dan murkalah St. Bagindo Basa, dia telah difitnah dan nan memfitnah ialah orang nan sama. Nan membuat hatinya semakin hancur ialah orang nan dianggapnya sudah serupa “abang” agaknya tiada mempercayai dirinya. Lebih suka kepada pegawai lama nan sangat pandai menjilat itu. Kehilangan kawan, saudara, dan induk semang ia.

Sudah lebih setahun ini mereka tiada saling sapa, apakah itu kepada Kepala Bagian, dan terutama kepada Pegawai Lama. Sudah hancur hatinya, habis kesabarannya, St. Bagindo Basa memandang bahwa tiada guna berkawan dengan orang-orang serupa itu. Biarlah dia tak berkawan karena orang serupa itu akan mennggunting dalam lipatan.

Demikianlah perkara memfitnah itu, hubungan dua orang kawan menjadi lawan. Dapatkah engku membayangkan apa nan berlaku apabila seorang ibu dan anak nan diadu-domba oleh pewaris syetan itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s