Kereta Roda Bantu

Picture: Here

“Hei..hei.. hendak kemanakah engkau” tanya daku

“Hendak berkereta[1]..” jawab engkau

Aku terdiam dan kemudian tersenyum. Tahukah engkau, kereta roda tiga – sebenarnya roda empat – sudah tak patut lagi bagi engkau. Sudah gedang, sudah menjadi perempuan dewasa amatlah janggal dipandang mata dengan roda bantu itu.

“Biar aman, kalau daku jatuh hendak engkau bertanggung jawab..?” jawab engkau kepada ku.

Ah.. engkau ini, sudah gedang namun masih takut jatuh dan terluka. Bukankah itu merupakan perkara nan mesti kita hadapi, sepanjang hayat dikandung badan maka jatuh dan terluka akan selalu mengiringi.

“Tak tahukah engkau, ayah-bunda ku akan teramat sedih hatinya pabila melihat aku jatuh dan terluka..” engkau menjawab kepada daku lagi “Kau tiada faham betapa besar kasih ayah-bunda kepada ku. Tiada hendak melihat aku celaka, mereka jaga aku rapat-rapat, tanda mereka sayang akan aku. Bagi ku, mereka berdua ialah segala-galanya, sakit mereka sakit ku, senang mereka senang pula aku ini..” engkau menjawab dengan penuh amarah.

Apa mesti daku kata? hendak daku jawab nanti engkau marah. Tiada daku hendak mengorbankan persahabatan kita. Daku juga kasih akan engkau, dan apa nan daku sampaikan karena kasih akan engkau.

“Benar..” jawab daku “Namun kasih sayang nan terlalu berlebihan seperti anak nan telah gedang masih diatur serupa kanak-kanak belum berakal, bukan sayang itu namanya..” daku coba menjelaskan “Tengoklah sekarang, gadis gedang berkereta roda tiga, amatlah janggal dipandang mata..”

“Kalau demikian kau tiada perlu bercakap, sakit hati ku dibuatnya. Terutama apabila kau telah bertentangan pendapat dengan ayah-bunda ku. Bagi ku pendapat merekalah nan mesti dituruti, bukan mulut kau itu..!” engkau semakin menjadi marahnya

Selalu begini kalau daku bercakap kepada engkau, selalu salah dan mesti mengalah. Engkau mesti belajar hidup sendiri, mesti belajar mengambil keputusan sendiri serta berani pula menanggung akibatnya. Tiada akan selamanya engkau bersama kedua orang tua engkau itu. Tiada selamanya mereka dapat menjaga engkau, memastikan engkau baik-baik saja.

“Apa maksud kau, hendak memisahkan anak dengan indukkah kau ini, cis.. jahanam..?” bertambah tajam lidah engkau kepada daku.

Ya ampun, semakin salah daku dibuatnya. Bercakap salah, diampun salah. Tiada nan hendak memisahkan kalian, hubungan anak dengan orang tua akan kekal selama-lamanya. Bukan demikian maksud daku, semestinya engkau belajar hidup mandiri dan berani membuat keputusan sendiri. Tak serupa sekarang, bergantung kepada orang tua engkau. Engkau sudah gedang, tak malukah engkau ini?

Dan engkaupun berlalu dari hadapan daku, sungguh durjana roda bantu itu. Membuat pesona kecantikan nan engkau miliki menjadi hilang sama sekali. Tak sadarkah engkau kalau orang-orang menertawakan kereta roda bantu bersama orang nan menaikinya itu. Aku lebih sakit melihat senyum mencemooh serta pendapat sinis mereka.

_____________________

catatan kaki:

[1] Bersepeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s