Selamat Hari Ayah #2016

Picture: Here
Picture: Here

 

Mendung nan tiada hendak pergi, hujan nan tiada henti, membasahi alam ini. Ada apakah gerangan? Kiranya apa nan berlaku? Mengapa alam begitu bersusah hati?

Alam yang kuat, alam yang gagah perkasa, alam yang murkanya tiada dapat dihadapi oleh manusia, sehebat apapun manusia itu. Kini menangis, kenapa?

Beberapa orang menyebutnya dengan “Ibu Alam” tiada pernah “Bapak Alam” kenapa?

Apakah ia seorang ibu atau seorang ayahkah?

Duhai Alam kenapakah engkau menagis? Sampaikah rasa dihati ini kepada engkau?

Seorang ayah tentulah tahu perasaan ayah lainnya, seorang lelaki akan dapat merasakan kegundahan seorang lelaki. Belum terucap sudah terasa, belum melangkah sudah mengena, demikianlah kearifan itu.

Namun celakalah bagi nan tiada memiliki sifat arif lagi bijaksana. Tiada peduli dengan perasaan orang, tiada pernah merasa dan hendak merasakan apa nan dirasakan orang lain. Baginya, pusat alam itu ialah pada dirinya, tiada hirau ia dengan orang lain.

Sakit orang tiada merasa, duka orang tiada mengena, cinta orang tiada terasa, tenggang orang tiada berguna. Namun apabila dia nan merasa, dia nan terluka maka serupa ayam betina hendak bertelur, seisi kampung dibuat susah. Seujung kuku baginya sudah sebesar segunung, demikianlah tabi’at beberapa manusia.

Selamat merayakan hari ayah kepada nan merayakannya, baru sepuluh tahun nan silam diresmikan perayaannya. Walau demikian, tiada kurang rasa ini akan hari nan begitu berarti ini. Kepada para ayah, semoga kearifan hidup tersua pada pada sifat kalian, kebijakan mewarnai hari-hari kalian. Jangan saling menyakiti sesama, karena kita sama-sama tahu persaan masing-masing, hati seorang ayah berlainan dengan hati seorang ibu.

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Selamat Hari Ayah #2016

  1. Ayah…tahun 1996 kita berangkulan di Senen sehabis beli kaca mataku. Ternyata itulah yang terakhir kita bersama dan jalan berdua di Jakarta.
    Tahun 99 tepatnya Desember , kau pergi…aku yang diseberang sana, terlambat melepasmu walau hanya menabur bunga pertama untukmu.
    Ayah, kita bersama hanya 19 tahun. Sisanya, kita hanya bicara dengan telpon dan surat. Kenapa ini menimpaku? Ayah..semakin lama kau meninggalkan kami, semakin dekat dihati kami. Semua peninggalanmu, semakin berharga bagi kami. Untuk membayar semua hartamu, terutama kata dan doamu yang telah kau ucap sebelum kami dilahirkan ibu, kini terimalah seucap tapi sepanjang kami masih hidup yaitu “DOA TULUS DAN MEMOHON PADA ALLAH SWT”. Ayah pasti suka.
    Ayah, dengar ya doa anakmu…

    Liked by 2 people

    1. Tiada mengapa engku, senang hati kami engku dapat meluahkan segala nan terasa di blog kami. Harapan kami semoga hati engku lapang hendaknya setelah mengungkapkan kerinduan engku kepada Ayah. Demikian pula kami serta anak-anak nan lain, begitu cinta dan kasih akan Ayah.. 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s