Rampay Si Culas

Picture: Here
Picture: Here

Bagi sebagian besar orang, akhir pekan ialah masanya berehat dari segala kegiatan nan menjadi kewajiban untuk dikerjakan selama sepekan. Namun tak semua orang mendapat kesempatan mulia serupa itu, cukup banyak orang dari berbagai macam pekerjaan nan bekerja tujuh hari dalam sepekan, tiga puluh hari dalam sebulan, dan tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun. Termasuklah di dalamnya si Rampay nan bekerja di perak[1] milik Tuan Besar nan seorang hartawan itu.

Perak kepunyaan Tuan Besar amatlah luasnya, berbagai macam tanaman nan ditanam, serupa lado (cabe), kapelo[2] (ubi), pisang, kopi, coklat, dan limau. Oleh karena itu tentulah Tuan Besar membutuhkan banyak orang untuk merawat, memelihara, dan menjaga tanaman itu agar selamat tak digaduh ataupun dimaling orang buahnya. Oleh karena itu ditawarilah para tukang nan bekerja di peraknya uang tambahan apabila mereka berkenan tetap masuk di akhir pekan. Hampir sebagian besar tukang di perak itu menerima tawaran itu karena mengharapkan uang tambahan.

Termasuk Si Rampay nan terkenal lihay ini dimana ia menjadi Wakil Mandor, sudah dua tahun ia menjabat sebagai Wakil Mandor. Adapun Si Mandor sendiri amatlah dekat dan sayang akan Si Rampay, hal ini menyebabkan rasa kesal di kalangan para tukang nan lain. Si Mandor memanglah orang kampung mereka jua, namun dibesarkan di Utara sehingga dalam bersikap sehari-hari sudah melekat pada dirinya sifat orang dari Utara itu. Suka bercakap kasar kepada para kuli dan tak segan mempertontonkan keras hatinya termasuk kepada Mandor Kepala. Namun lain halnya kepada Si Rampay, amat halus nada suaranya, mendayu-dayu serupa seorang kekasih sedang bercakap dengan pujaan hatinya.

Si Mandor sangatlah kerasnya dalam menegakkan aturan, dimana apabila ada kedapat tukang nan tiada hadir di akhir pekan maka namanya akan segera dicoret dalam daftar penerimaan upah kelebihan kerja itu. Namun alangkah lalimnya ia, dimana apabila ia atau Wakil Mandor kesayangannya itu nan tiada hadir maka nama mereka berdua tiada dicoret. Tetap menerima upah secara penuh,.

Memanglah dalam keseharian hampir dapat dikatakan bahwa kedua makhluk durjana ini tiada pernah hadir disaat bekerja di akhir pekan. Kecuali kalau mereka mendengar Tuan Besar datang ke perak guna melihat-lihat keadaan peraknya nan sangat luas itu. Bahkan Kepala Mandorpun tak dapat berbuat apa-apa.

Maka pada suatu hari Ahad di akhir pekan, Si Rampay ikut bersama kawan-kawannya pergi mendaki Gunung Tandiko. Kawan-kawannya itu ialah para pecinta burung, mereka gemar sekali membawa sangkar burung kepunyaan mereka nan indah-indah itu kemana-mana, mempertontonkan kepada orang banyak sebagai bukti kalau mereka orang berbangsa. Dan layaknya orang berbangsa, maka mainannya ialah burung berkicau, dan kesenangnnya ialah memikat burung (Min: mamikek)[3].

Si Rampay nan seorang tukang kebun itu rupanya sangatlah tinggi seleranya, hendak dipandang orang berbangsa pula oleh karena itu bergaullah ia dengan orang-orang semacam itu. Telah acap ia naik-turun gunung dan keluar-masuk bersama kawan-kawannya itu untuk memikat burung. Namun malang, di hari Ahad nan agak berawan itu ia bersama kawan-kawannya tersesat di Gunung Tandiko. Berputar-putar saja mereka di dalam rimba itu tanpa tahu ujung pangkalnya. Akhirnya diputuskanlah untuk bermalam di dalam rimba tanpa adanya persiapan sebelumnya.

Pada keesokan harinya di hari Senin, orang-orang heran karena Si Rampay tiada datang ke perak. Mandor nan teramat sayang akan dirinya telah gelisah, beberapa orang tukang nan bekerja di perak juga ikut cemas. Sebab mereka telah mendapat kabar kalau Si Rampay pada hari Ahad pergi mendaki Gunung Tandiko. Pada tengah hari barulah didapat kabar kalau Si Rampay hilang di rimba dan saat ini telah berada di Balai Polisi. Mantri Polisi bertindak cepat setelah mendapat kabar kalau ada orang nan hilang tatkala mendaki Gunung Tandiko maka segera dicari dan dibawa turun.

Bahkan Tuan Besarpun tahu dan menyuruh beberapa orang menjemput Rampay ke Balai Polisi di Nagari Nan Panjang. Nagari Nan Panjang sendiri terletak 12 Km dari nagari mereka.

Hari Selasa keesokan harinya, Rampay datang dengan wajah riang penuh canda. Sebagian besar tukang menyambutnya dengan suka cita “Duhai Rampay, tiada dapat makan awak memikirkan engkau..” ucap seorang tukang.

“Ah, engkau Rampay, gelisah kami menanti kepulangan engkau. Eh nan kami cemaskan datang dengan senyum riangnya..” sambut tukang nan lain.

Beberapa orang tukang tampak diam disana tanpa bercakap apa-apa, mereka telah tahu dengan baik sepak terjang Si Rampay yang selalu mendapat perlindungan dari Si Mandor. Mereka heran, Si Rampay nan telah terbukti culas, tiada hadir dihari semestinya ia bekerja justeru mendapat sambutan meriah serupa itu. Disebut-sebut pada setiap kesempatan dan dipuja-puja ketangguhan dirinya bertahan di dalam rimba bersama kawan-kawannya. Upahnya tiada dipotong, tetap menerima penuh, karena nan mengurus upah para tukang ialah Si Rampay.

Tiada seorangpun nan menyadari hal tersebut, kecuali sekelompok kecil tukang nan menyudut disana. Mereka ialah orang-orang terzhalimi dan agaknya keriangan suasana membuat Si Rampay tiada menyadari bahwa kemalangan nan menimpa dirinya di dalam rimba itu ialah teguran dari Allah Ta’ala atas dirinya nan tiada menunaikan tanggung jawab. Uang diterima, namun pekerjaan tiada dilaksanakan.

Demikianlah kisah si Rampay nan Culas itu, agaknya kisah ini dapat memberi pemahaman kepada kita bagaimana orang nan jelas sudah bersalah tiada mendapat hukuman walau sudah jelas bukti dan terang perbuatan salahnya itu. Demikianlah perhatian orang dialihkan dari suatu kesalahan menjadi sebuah kisah kepahlawanan nan mernjadi buah bibir setiap hari. Dan kami yakin orang-rang serupa Si Rampay sangat banyak jumlahnya dan ada bersua oleh engku, rangkayo, serta encik sekalian dalam pergaulan hidup sehari-hari. Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita dari sifat culas nan demikian.

________________________

Catatan Kaki:

[1] Kebun

[2] Sebagian orang Minangkabau ada nan menyebutnya dengan Sampelo

[3] Mamikek ialah menangkap burung jantan dengan umpan burung betina yang diikat di dalam sangkar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s