Terlalu Bergedang Hati

Picture: Here
Picture: Here

Khatam Qur’an, memiliki makna telah penuh semua surat dibaca oleh seorang anak dimana hal tersebut merupakan nan pertama kali dalam hidupnya. Maka tak jarang pada sebagian masyarakat hal tersebut dirayakan oleh keluarganya dengan mengundang karib-kerabat, handai-taulan, dan orang kampung. Pada sebagian kampung ada nan merayakan di surau saja, beriringan dengan anak-anak lain yang juga telah khatam. Demikianlah di negeri kami, lain nagari, lain pula adatnya, kata ungkapan di Minangkabau; Adat Salingka Nagari.

Kami dan kedua adik kami telah melalui ritual adat nan bercampur dengan agama itu, sesuai dengan falsafah negeri kami Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah. Namun ada nan janggal berlaku kepada kami, dimana belumlah khatam kami membaca Qur’an itu, kami telah diperbolehkan untuk ikut dalam Khatam Qur’an. Dalam acara itu nan diperdengarkan bukan telah penuh membaca Qur’an melainkan keindahan bacaan Qur’an. Menurut kami tiada berlainan dengan Musabaqah, bedanya tiada arak-arakan, dan tiada pula kenduri diadakan.

Setiap anak nan hendak ikut Khatam Qur’an akan dilatih dengan khusus oleh Engku Guru karena keindahan bacaan Al Qur’an mereka itulah nan akan dinilai disaat perayaan. Biasanya tatkala latihan nan diadakan setiap hari dengan Engku Guru telah tampak siapa gerangan yang akan menjadi juara pertama, walaupun dia belum khatam membaca Qur’annya.

Kejadian nan mengesalkan berlaku disaat adik bungsu kami hendak khatam. Disaat latihan Encik Gurunya telah mulai membuat peringkat dan mengumumkannya di hadapan murid-muridnya. Adik perempuan kami menjadi juara pertama dalam daftar peringkat tersebut. Sungguh sangat disayangkan karena daftar itu dibuat oleh Encik Guru sedangkan nan akan melakukan penilaian bukanlah mereka melainkan guru lain nan telah dipanggil dari luar.

Akibatnya hati adik kami hancur, malu ia karena sebelumnya hatinya telah gedang karena yakin akan menjadi juara pertama dalam perayaan Khatam Qur’an tersebut. Terbit tangisnya, menjadi tontonan orang dalam surau, Encik Gurunya merasa bersalah dan mencoba menenangkan. Ayahanda nan ada di suraupun terkejut pula, terkejut karena melihat anak gadisnya berlinang air mata. Dengan terisak dan air mata berlinang ayah dan anak itu pulang, menjadi tontonan bagi setiap orang nan lalu serta berselisih dengan mereka.

Sungguh pahit memang, setelah hati digedang-gedangkan rupanya tiada serupa nan diharapkan nan berlaku. Kata orang patah hati, nan lain berkata remuk-redam, entah apa lagi julukan untuk kemalangan nan satu ini. Maksud Encik Guru adik kami mungkin baik namun sayang mereka lupa bahwa bukan merekalah nanti nan akan memberi nilai. Masing-masing orang memiliki penilaian nan berlainan.

Diri kita inipun salah jua, walau tahu hati ini dilambung-lambungkan, walau tahu bahwa ianya merupakan perkara nan belum pasti namun tetap berharap jua. Tatkala kenyataan nan bercakap, serasa disayat sembilulah hati nan lemah itu dibuatnya.

Demikianlah, tiba-tiba kisah pilu itu kembali terkenang oleh kami tatkala menanti waktu Isya di hari nan berhujan di Ahad petang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s