Mustika nan Ditinggalkan

Picture: Here
Picture: Here

Kata orang telah banyak nan hilang dari negeri kami, kata orang telah banyak nan bertukar pada negeri kami. Tiada terjumpa adat nan bertenggang rasa, tiada tersua perilaku nan halus budi bahasa. Banyak nan kecewa dan memandang rendah anak negeri, karena sikap mereka nan tak tahu diri.

Tiada banyak orang nan mencari tahu, lebih banyak nan tiada hendak tahu. Bagi kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk menjalani hidup yang mereka tahu. Perkara makan dan kesenangan lebih perlu, dibandingkan perkara adat nan tak lagi berlaku.

Kata kawan kami, karena tiada pewarisan dari nan dahulu. Hidup anak dan kamanakan dilepas tiada dipandu, tiada pengajaran akan masa lalu, nan ada ialah memandang rendah adat dan agama yang dianggap bagian dari masa lalu. Pada pandangan mereka, masa lalu ialah untuk dilepas bukan dipegang apalagi dipuja mengharu-biru.

Lupa mereka, pada kehidupan orang nan dahulu tersimpan mustika berharga kepunyaan negeri. Terlalu terpaku pada pelajaran nan mereka dapati, di sekolah ataupun perguruan tinggi. Ajaran barat menjadi sakti, petuah filsuf barat begitu diikuti, dan bagi mereka kesemuanya mesti dipenuhi.

Orang barat menghujat agama dan adat istiada negeri mereka, awak disini berlaku sedemikian pula. Lupa kalau agama dan adat kita berlainan dengan mereka. Orang barat menukar segala landasan hidup, menjadikan kesenangan pribadi sebagai tumpuan nan tiada boleh diganggu dan dipungkiri.

Lupa mereka walau orang Melayu ini menukar nasi dengan keju, nan kulit itu takkan berubah menjadi putih, nan salju itu tiada akan pernah turun dari langit. Lupa mereka kisah si Hanafi pada roman Salah Asuhan. Itulah nan mereka lakoni, mengingkari jati diri, mendurhakai negeri sendiri, menjahanami adat negeri.

Sedang berada pada kemajuankah kita ini? atau justeru kemunduran?

Tak tahu mereka, kalau orang datang memandang rendah pada diri, negeri, dan adat mereka sendiri. Disaat mereka berbangga dengan budaya luar, disaat nan sama orang datang memandang rendah kehidupan masa kini mereka.

Walau belum tentu kehidupan orang lebih baik, namun tetap hati ini sakit mendengar negeri bertuah ini diremehi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s