Kendali Diri

Picture: Here
Picture: Here

Dahulu seorang kawan pernah mencemooh kami “Engkau itu pantang,.”

Kami heran “Pantang apa maksud engkau..?”

“Pantang dipuji..” jawabnya dengan senyum tersungging.

Hal ini karena ia baru saja memuji gambar nan kami ambil yang menurutnya sangatlah bagus. Namun entah kenapa seketika gambar-gambar nan kami ambil berikutnya berubah menjadi kurang memuaskan. Maka seketika berkatalah ia dengan kesal kepada kami.

Kejadian bilangan tahun nan silam kembali mengemuka dalam ingatan kami. Masa itu kami sendiripun heran kenapa bisa berubah menjadi buruk dan tidak menarik semua gambar-gambar nan kami ambil selepas mendapat pujian itu. Mungkinkah ada keguatan gaib nan ikut mempengaruhi hal tersebut?

Seingat kami, tiada rasa sombong dan takabur terbesit di hati kala itu. Nan ada ialah rasa senang dan bahagia karena pekerjaan kami mendapat pujian. Sesuatu nan tiada pernah kami dapatkan sebelumnya. Penghargaan, itulah nan sangat mahal, nan ada ialah orang nan berusaha menjatuhkan harga diri kita di hadapan orang lain.

Takut kami kejadian itu akan kembali terulang, sungguh cemas kami. Karena apabila dikenang kembali kejadian masa silam, tiada didapat penjelasan kenapa dapat berubah seratus delapan puluh derajat. Kenapa dengan sangat tiba-tiba kami berubah menjadi pandir.

Adakah engku, rangkayo, serta encik sekalian mengalami hal nan serupa?

Advertisements

4 thoughts on “Kendali Diri

  1. Ya engku, seringkali daku merasa seperti itu pula. Mungkin tiada lagi percaya diri dan kebanggaan akan kerja keras dan proses guna menghasilkan karya tersebut yang jadi penyebabnya. Sudah jamak dan tak bisa di pungkiri lagi… Orang-orang termasuk diri kita sendiri lebih menghargai hasil daripada proses itu sendiri. Jadi wajar kekaguman akan selalu berevolusi.

    Liked by 1 person

    1. dan tampaknya kita mesti berjuang dengan sangat keras untuk itu. di tengah ketiadaan kepercayaan diri yang semakin menumpuk, membuat kita serupa beo nan selalu meniru tanpa berfikir. dilain sisi penghargaan nan tiada didapat menjadi sandungan nan menyakitkan.

      terima kasih engku andi..

      Liked by 1 person

      1. Daku sepakat dengan engku. Kita tak usah menjadi beo yang tiada mengerti mengapa harus meniru. Pula mengapa kita mesti menjadi rendah diri hanya karena tiada pujian untuk kita? Sebab segala puji hanya pantas untuk Tuhan Semesta Alam.
        Pun daku jadi mengingat yang pernah dikatakan Raysuke Minami, “Eddie berkata: ‘seseorang yang menjadikan orang lain sebagai standar hidupnya, maka ia tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri.'”

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s