Riders di negeri kami

Picture: Here
Picture: Here

Beberapa waktu nan lampau kami membaca sebuah tautan di fesbuk kami perihal sebuah karangan (tulisan) yang mengungkapkan beberapa orang pesohor di republik ini yang rupanya juga seorang pengendara[1]-Nan dimaksudkan dengan pengendara disini ialah Pengendara Motor-Tulisan itu menyebutkan nama pesohor beserta gambar mereka bersama onda[2] atau sedang mengendarai onda mereka nan tampaknya mahal itu. Tersenyum kami membaca karangan itu. Manja sangat mereka nan berada di puncak ketenaran itu..

Bagi orang berduit yang kemana-mana selalu menggunakan oto[3] rancak[4] dimana tak kena hujan ataupun panas, selalu bersih pakaian mereka dari debu, tiada terasa panasnya hari karena setiap oto memiliki pendingin udara. Demikianlah kehidupan masing-masing orang, berlainan sangat.

Serupalah agaknya dengan pandangan antara orang kampung dan orang bandar. Bagi orang kampung mereka nan telah terbiasa melihat pemandangan hijau dan permai. Oleh karena itu mereka biasa saja tatkala menyumpai gunung, bukit, hutan, dan lembah nan sangatlah elok pemandangannya. Namun bagi orang di bandar-bandar besar sangatlah langka pemandangan serupa itu, apabila tersua pemandangan nan permai maka mereka akan berhenti untuk menikmati, berdecak kagum mereka. Apabila tersua orang kampung nan biasa-biasa saja tanggapan mereka maka dengan cepat mereka menilai “Huh, tak pandai menilai keindahan, tiada pandai bersyukur. Tengoklah betapa alam nan permai itu merupakan suatu karya seni nan tak ternilai harganya..”

Namun apabila orang kampung pergi ke bandar-bandar besar dan mengagumi keindahan bangunan-bangunan besar nan menjulang tinggi ke langit. Maka orang-orang nan merasa lebih maju pola berfikirnya ini mencemooh “Sungguh orang kampung, baru mendapat bandar nan seramai ini dan menengok gedung setinggi itu saja mereka sudah kagum. Tak tahu mereka kalau diluar negeri banyak nan lebih tinggi dari nan ini..”

Demikianlah, kami kembali tersenyum karena di bandar kami banyak sekali pengendara. Mereka mengendarai onda pulang pergi dari rumah ke tempat kerja yang puluhan kilometer jaraknya. Panas ditahan, kalau hujan apabila masih bisa ditempuh maka akan ditempuh apabila tidak mereka akan berterduh.

Di negeri kami para pengendara memiliki musuh utama dalam perjalanan. Musuh utama itu ialah; angkutan umum yang berhenti sesuka mereka, terkadang laju dan terkadang lambat serupa siput jalannya. Apabila sudah berjalan serupa siput, tak jarang terjadi keadaan jalanan menjadi tersendat. Muncul ular panjang di jalan dengan angkutan umum itu sebagai kepala ularnya. Mereka tiada boleh disalahkan karena mereka ialah raja jalanan nan pertama. Bagi pengendara onda sangatlah mudah mengatasi mereka lain perkara bagi pengendara kendaraan nan lain.

Kedua ialah para sopir travel yang merupakan raja jalanan nomor dua, mereka selalu membawa oto mereka serupa orang sedang dikejar polisi. Laju sangat sehingga tak jarang hampir melanggar atau menyinggung kendaraan lain. Tak jarang mereka panen umpatan dari pengendara lain atau bahkan pejalan kaki. Mereka tiada peduli dengan pengendara lain, onda ataupun oto mereka salib.

Ketiga ialah oto truk beroda sepuluh atau lebih, apabila muatan mereka penuh maka mereka akan berjalan serupa siput. Beruntung bagi pengendara onda mereka dapat mendahului kendaraan ini dengan mudah berlainan dengan pengendara oto karena mereka mesti ikut dalam barisan nan terkadang panjang sangat.

Jalanan di negeri kami tak selebar di pulau seberang, jalan tolpun tiada punya dan semoga saja tiada pernah ada. Jalan dibuat oleh para Saudagar itu berdiri di atas tanah kita namun setiap hendak lalu kita mesti bayar. Sungguh tiada masuk akal..

Demikianlah, bagaimana pula keadaan para “pengendara” di negeri engku, rangkayo, serta encik sekalian?

__________________

Catatan Kaki:

[1] Dalam tulisan itu digunakan kata rider yang merupakan kata Bahasa Inggris yang berarti “Pengendara”. Adalah suatu kelaziman pada masa sekarang dimana banyak orang “latah” mengambil kata dalam Bahasa Inggris untuk mereka gunakan dalam berbahasa (lisan ataupun tulisan). Padahal padanan kata itu ada dalam Bahasa Melayu (Indonesia), lain perkara kalau tiada padanan katanya barulah dapat kita ambil.

[2] Motor

[3] Mobil

[4] Bagus

Advertisements

4 thoughts on “Riders di negeri kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s