Lupa Diri karena Kuasa

Picture: Here
Picture: Here

Terdapatlah pada suatu kampung di suatu nagari seorang Kepala Kampung nan sangat dibenci oleh sekalian orang kampung. Namun apalah daya, cara kampung yang mengutamakan mufakat dalam memutuskan segala perkara tiada mempan menghadapi kepala kampung nan congkaknya minta ampun. Masih muda ia, dahulu pernah melawan kepada seorang datuk namun terselamatkan berkat campur tangan Tuanku Laras. Kalau tidak, sudah kena denda seekor kerbau dia itu.

Kini menjadi kepala kampung ia, Engku Kepala Dusun pernah dilawan dan dipacaruik-i[1] olehnya, kini Kepala Dusun itu telah diberhentikan dan digantikan oleh orang lain. Engku Kepala Nagaripun tiada berdaya pula, sudah diusulkan untuk mengganti Kepala Kampung nan seorang ini namun Kepala Laras nan sangat besar kekuasaannya itu tiada hendak. Pernah terucap oleh Asisten Kepala Laras untuk mengganti Kepala Kampung nan seorang itu, namun buktinya justeru Kepala Dusun nan ditukar.

Kepala Kampung nan durjana ini tak hanya seorang, dia punya kawan dekat seorang Kepala Kampung lainnya nan seiya-sekata dengan dirinya. Sama-sama masih muda, sama-sama besar kepala, sama-sama kasar, maklumlah orang balai[2]. Tak mengenal kata yang empat[3] mereka itu, baru  menjadi Kepala Kampung mereka telah merasa menjadi Tuanku Laras Pula. Setiap orang nan ada di kampung mesti bersejud di kaki mereka dan melakukan segala apa nan mereka hendaki. Tiada pernah merasa salah apalagi merasa bersalah, kesalahan itu bagi mereka ialah kepunyaan orang-orang kampung nan berada di bawah telapak kaki mereka.

Sudah benar-benar serupa Fir’aun mereka itu..

Sudah banyak orang kampung nan terbit tangis dibuatnya namun ada jua nan berjiwa iblis. Mendekat kepada Kepala Kampung Durjana itu, bermanis-manis mulut mereka, bersenda-gurau menunjukkan  keakraban. Mereka sangka akan selamanya orang itu menjadi Kepala Kampung. Lupa mereka kalau jabatan Kepala Kampung ialah jabatan paling rendah dan dapat ditukar bila saja.

Namun, agaknya pertukaran beberapa orang kepala beberapa pekan nan silam yang merupakan arahan dari Kepala Laras membuat mereka yakin kalau Kepala Kampung ini benar-benar kuat takkan pernah dapat digeser oleh sesiapapun jua. Banyak nan heran “Kenapa bukan Kepala Kampung itu nan ditukar?”

Ada jua nan penasaran “Siapa sesungguhnya nan berada di belakang dirinya. Selamat dia dari pertukaran para kepala?”

Banyak kabar nan beredar, banyak pendapat nan dikeluarkan namun semuanya masih bergalat karena tiada berdasar. Orang kampung semakin makan hati dibuatnya, semakin sengsara hidup mereka. Sudah mual perut mereka melihat kedua Kepala Kampung Durjana itu. Entahlah esok mereka akan ditukar, atau justeru tetap bertahan.

Memang demikianlah bak kata Gurindam Lama Minangkabau:

Daulu rabab nan batangkai\Kini kucapi nan babungo\Daulu adat nan bapakai\Kini rodi nan paguno\Daulu samak nan manyeso\Kini tali nan tajelo\Daulu mamak nan kuaso\Kini pitih dan bajaso\

Bahasa Melayu:
Dahulu rebab yang bertangkai\ Kini Kecapi nan berbunga\ Dahulu Adat yang Dipakai\ Kini Rodi[4] yang berguna\ Dahulu Semak yang Menyusahkan\ Kini tali yang terjulai\ Dahulu Mamak[5] yang berkuasa\ Kini Uang yang Berjasa.

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Diumpat dengan kata nan sangat kasar. Saking kasarnya sangat terpantang untuk disebut oleh orang baik-baik dan hanya menggunakan perandaian “ampek”

[2] Balai memiliki banyak makna, (a) bermakna Majelis tempat rapat para penghulu. (b) pasar atau biasa disebut dengan “pekan” tempat orang berjual-beli, (c) gelanggang tempat anak nagari bermain-main.
Dalam Gelanggang tempat bermain itu tidak semua permainan nan dimainkan itu permainan nan elok-elok saja namun ada jua nan bermain judi sambil bertaruh. Semisal sambung ayam. Dan apabila sudah bermain permainan terkutuk itu maka akan diiringi pula dengan meminum tuak.
Pada tulisan ini, Balai nan dimaksud ialah Tempat orang bermain Judi sambil Bertaruh dan Minum Tuak.

[3] Empat jenis cara bertutur dalam masyarakat Minangkabau; Kato Mandaki, cara bertutur kepada orang nan lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya. Kato Malereng, cara bertutur secara resmi antara orang sama besar atau sama kedudukannya dalam lingkungan pergaulan di masyarakat. Kato Mandata, cara bertutur tidak resmi antara orang yang sama besar. Dan Kato Manurun, cara bertutur kepada orang nan lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
Keempat jenis cara bertutur sama-sama mengedepankan etika dan rasa (perasaan), sehingga tidak ada kata-kata kasar menusuk jantung walau yang digunakan ialah Kata Menurun.
Oleh karena itu, orang yang cara bertutur diluar aturan yang Empat di atas digelari oleh orang dengan Orang Nan Tak Tahu dengan Nan Empat. Artinya orang barbar, tak berpendidikan, tak berkemajuan, masih rendah pola fikir, atau singkat kata Orang Rendahan tak Berotak.

[4] Kerja paksa bagi orang hukuman di zaman Kolonial Belanda.

[5] Saudara lelaki dari Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s