Semut di seberang lautan tampak..

Picture: Here
Picture: Here

Di petang hari nan cerah ini kawan kami Katik Rajo Agam mendatangi kami nan tengah asyik bekerja. Sesuatu hal nan telah tiada pernah dilakukannya. Memang hubungan persahabatan kami sudah mulai merenggang semenjak beberapa pekan ini. Kawan kami nan seorang ini sudah semakin jauh saja rasanya, menjadi orang lain.

Dengan air muka keruh Katik Rajo Agam menyampaikan keinginannya untuk berhenti menjadi Ketua salah satu Kegiatan di kantor kami. Dimana pada kegiatan itu kami ikut membantu menjadi salah seorang anggota. Tampaknya, kawan kami ini hendak melimpahkan segala wewenang dan tanggung jawab kepada kami. Dan semua ini terjadi karena kawan kami ini mendengarkan pembicaraan orang atas kegiatan nan kami kerjakan itu.

“Setelah awak mendengar masukan dari beberapa orang kawan-kawan engku, awak rasanya tiada sanggup untuk menjadi ketua. Biarlah awak mundur saja, memang pada dasarnya awak tiada pandai dan menguasai pekerjaan nan tengah kita lakukan itu..” ucapnya dengan nada suara mengiba.

Kami heran dan langsung maklum, sebab tadi tatkala berjalan ke luar kantor hendak memesan minum ke lepau di sebelah kantor, kami mendapati Katik Rajo Agam sedang bercakap-cakap dengan Upin dan Ipin. Pastilah kedua makhluk ini nan memberi masukan kurang baik kepada kawan kami ini sehingga patah semangatnya.

Engku tentu heran, siapa pula Upin dan Ipin ini? Mereka bukan tokoh dalam serial animasi kanak-kanak,  mereka berdua ialah manusia nyata yang wujudnya serupa dengan Upin dan Ipin. Miskin rambut kepala mereka berdua, dan selalu kompak, saling membela dalam kezhaliman.[1]

Kawan kami ini langsung terkejut mendengar terkaan kami, dan rasa rendah diri kembali menguasainya. Kami marahi dia “Bengak engku, kenapa ucapan kedua makhluk itu pula nan engku dengarkan! Mereka saja tiada pandai bekerja! Pekerjaan mereka saja orang lain nan mengerjakan! Tahu tak engku? Si Ipin itu saja tiada pandai memegang komputer..”

Kawan kami ini diam saja, Engku Kepala nan ketika itu juga hadir mendengarkan perbincangan kami berujar “Usah didengarkan perkataan orang nan tiada pandai bekerja itu. Kita serahkan pekerjaan ini kepada mereka takkan pandai mereka mengerjakan..”

“Iya, mereka hanya pandai bercakap saja. Kalau bercakap memanglah hebat mereka berdua itu..!!” sambung kami kesal “Dan sebenarnya nan mereka tuju bukan engku melainkan awak ini. Sudah lama mereka berdua menyimpan dengki dan memendam dendam kepada kami..” tambah kami lagi.

Pada kesempatan ini lepaslah segala sesak di hati kami “Engku itu tengok-tengoklah berkawan, selama ini dengan siapa engku berkawan? Tak tahu engku mana nan kawan dan mana pula nan lawan!!” maksud kami ialah mengungkapkan sedih nan terasa karena kawan kami ini sudah jauh dari kami. Acap dia pergi beriringan dengan para haters kami bahkan dekat serta saling bertukar gurauan mereka. Cemburu, mungkin..

Akhirnya Katik Rajo Agam diam, tiada disebut-sebutnya perkara mengundurkan diri itu lagi. Dan perbincangan kamipun teralihkan kepada pokok nan lain. Adapun dengan engku Kepala telah dipanggil karena ada urusan nan sedang menanti di ruangannya.

_________________________________

Catatan Kaki:

[1] Beribu maaf kami pintakan kepada pembuat tokoh Upin dan Ipin beserta pengaggum dan penggemar mereka. Tiada maksud kami merendahkan ataupun melecehkan mereka. Kami sendiri termasuk penggemar Upin dan Ipin semenjak permulaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s