Ciluah

Picture: Here
Picture: Here

Pada suatu hari di hari Jum’at nan berangin, kantor tempat St. Rajo Basa bekerja menggelar gotong royong (Goro). Mereka melakukan bersih-bersih di gudang kantor nan keadaanya telah menggenaskan. Hal ini merupakan salah satu gebrakan dari salah seorang pejabat baru nan baru beberapa pekan dilantik di kantornya. Dan agaknya, kegiatan bersih-bersih gudang ini hanya diperuntukkan bagi lelaki adapun nan perempuan menyediakan minuman serta makanan kecil kemudian tetap melanjutkan kerja.

St. Rajo Basa bukanlah jenis orang nan acap melakukan kegiatan gotong royong ini. Di kampungnya hanya sesekali dia ikut dan itupun semasa remaja dahulu, kini kegiatan gotong royong sudah jarang dilakukan. Dia malas ikut dengan alasan tiada kawan nan dia kenal nan ikut serta nanti semasa bergotong-royong orang-orang akan memanfaatkan hal tersebut untuk menggunjingkan orang lain dan saling sindir perihal diri seseorang.

Pada kesempatan kali ini ia tiada ikut pada mulanya bergotong-royong, karena agak terlambat dia datangnya. Namun tatkala beberapa orang datang ke ruangan tempat dia bekerja mengantarkan beberapa berkas yang berkaitan dengan bidang tempat dia bekerja maka terkejutlah dia “Arsip-arsip ini mesti diselamatkan..”

Memang, gudang nan menjadi sasaran tempat bergotong-royong ialah gudang tempat arsip. Keadaannya menyedihkan karena tiada pengurusan dan dia yakin bahwa sekalian orang-orang nan ikut bergotong-royong tiada faham akan kegunaan arsip. Bagi mereka, begitu kegiatan selesai maka putus sudah hubungan mereka dengan berkas-berkas selepas itu dicampakkan. Dan kini menjadi sasaran untuk dimusnahkan.

Benar saja, tatkala dia ikut serta banyak nan dapat olehnya, sejauh kemampuannya diselamatkan, namun dia yakin masih banyak nan luput dari usahanya itu. Tatkala dia memutuskan untuk turut serta itu maka mulailah tampak olehnya tabi’at kawan-kawan kantornya. Ada nan perlahan-lahan mundur dan ada jua nan melarikan diri dengan alasan mengurusi pekerjaan nan tertinggal. Padahal di hari biasa mereka tiada begitu giat bekerja, namun disaat goro ini seketika mereka menjadi pegawai nan rajin duduk di meja mereka masing-masing. Sampai akhirnya, hanya tinggal empat dan kemudian tiga orang termasuk dirinya dalam bersih-bersih gudang itu.

Dia hanya tersenyum, jelaslah tabi’at orang-orang ini..

Nan paling membuat dia kesal ialah tatkala melanjutkan goro selepas Jum’at. Kali ini ialah memasukkan segala kertas-kertas malang itu ke dalam karung yang entah bagaimana nasibnya selepas itu. Pada saat pengerjaan memasukkan kertas itu cukup ramai nan turut serta walau ada jua seorang kuciang aia[1]. Tiada turut dia bekerja padahal pekerjaan ini merupakan tanggung jawab Bagian tempat dia bekerja. Seorang anak muda yang sok idealis, sok cerdas, memandang rendah pendapat orang lain, pandai menebar dan mencari jaringan, serta tidak tahu cara menghargai orang lain.

Pada saat ini masih diusahakannya menyelamatkan berkas arsip semampunya, namun salah seorang mandor agaknya kesal “Hah.. capatlah engkau masukkan kertas-kertas itu, nan lama pula selesainya. Engkau sisihkan jua kertas-kertas itu nanti bertumpuk pula ia disana..” kata si mandor kesal sambil memonyongkan bibirnya ke arah tempat St. Rajo Basa menaruh berkas.

“Tiada engku, nanti awak bawa kedalam..” jawabnya sedih.

Perangainya itu rupanya menular kepada kawan-kawannya nan lain, maka beberapa orangpun mulai memilah-milah dan memeriksa berkas nan hendak mereka masukkan ke dalam karung, kemudian menyelamatkannya.

Kejadian kedua nan membuat di kesal ialah tatkala para perempuan menawari untuk dibelikan nasi bungkus. Maka salah seorang dari para pekerja ini memutuskan untuk memesan nasi  dengan sambal cancang. Tatkala ditanya kepada St. Rajo Basa dia hendak memesan apa maka dijawablah kalau dia hendak memesan martabak saja dan kemudian ditukar dengan nasi goreng karena martabak belum ada. Hal ini karena dia baru saja selesai makan tengah hari, makan tengah hari nan terlambat akibat hujan nan sedari tadi melanda.

Segeralah mandor nan tadi mencemooh dirinya itu berujar “Bisa pula memesan ya..”

Disambung oleh mandor baru nan punya ide goro ini “Kalau demikian awak minta mentahnya sajalah..”

Salah seorang pegawai nan teramat benci akan St. Rajo Basa merasa mendapat kesempatan lalu menambahi “Awak diberi kupon makan sajalah..”

Kemudian ramailah cemoohan bersahut-sahutan, St. Rajo Basa diam saja tiada menanggapi dia putuskan untuk terus bekerja menyelamatkan arsip nan dapat diselamatkannya. Dengan sendirinya sindiran dari para manusia busuk hati itu akan berhenti sendirinya. Dan memang berhenti dengan sendirinya.

Bullying tak hanya menimpa anak sekolah ataupun mahasiswa. Namun agaknya juga kerap berlaku di tempat kerja dan lingkungan tempat tinggal. Apabila kita tampil berbeda ataupun memiliki pendapat berlainan maka akan ramailah cemoohan serupa banjir bandang.

Tatkala pembagian nasi akhirnya diketahui bahwa seluruh nasi dipesan dengan sambal yang sama yakni cancang. Fahamlah ia akibat kicauan para lelaki busuk hati itu maka para perempuan memutuskan untuk memesan nasi dengan sambal yang sama demi mencegah terjadinya persengketaan.

St. Rajo Basa tersenyum, nasi itu tiada hendak dimakannya melainkan dibawanya pulang untuk dimakan oleh adik dan ibunya. Mereka pasti senang mendapatkan nasi bungkus dari salah satu rumah makan terkenal di bandarnya itu. Keesokan harinya dia tahu kalau nasi itu tiada habis, mungkin tiada nikmat oleh ibu dan adik perempuannya. Bukan karena nasi ataupun sambalnya sebab rumah makan tempat nasi itu dibungkus ialah rumah makan terkenal akan kenikmatan segala masakannya. Melainkan karena terasa oleh adik dan ibunya itu keadaan hati St. Rajo Basa nan terluka disayat sembilu akibat sindiran kawan sekantornya.

Kata orang lidah itu lebih tajam dari pada pedang..

_________________________________________

Catatan Kaki:

Ciluah; licik, cari selamat sendiri, busuk hati, lain di luar lain pula di dalam

[1] KUcing Air, Berang-berang, mau cari selamat sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s