Bersua dengan Geri

Picture: Here
Picture: Here

Geri, terkenang kami dengan sosok nan entah ada-entah tidak dalam roman karangan empat orang mantan mahasiswa asal negeri ini nan pernah berkuliah di Negeri Belanda. Seorang laki-laki muda nan elok rupa, pandai, dan berjiwa halus serta idaman para perempuan. Atau kawan-kawan lelakinya dalam roman tersebut memberi dia julukan – tentunya tanpa sepengetahuan empunya – sebagai ” Laki-laki nan merusak standar para pria Indonesia “.

Ya, tampaknya malam ini kami dipertemukan dengan sosok itu namun dia bukan mahasiswa nan sedang berkuliah di Negeri Belanda. Melainkan seorang lelaki muda nan terpaut dua tahun di bawah kami umurnya nan sedang bekerja sebagai pegawai tidak tetap pada salah satu jawatan pemerintah pusat. Entah kebetulan atau tidak, kampung asalnya sama pula dengan Si Geri yang ada di dalam roman nan jenaka itu.

Kulit putih layaknya anak hasil perkawinan campuran, badannya kurus dan tinggi. Penampilannya layaknya anak muda masa sekarang. Pandai bergaul, supel kata orang Jakarta, dan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Dan satu lagi nan membuat mereka semakin mirip ialah bahwa ia juga perokok.

Entah kenapa tatkala berasua dengan dirinya kami terkenang dengan Geri. Telah kami tengok cuplikan proses pembuatan filem dari roman ini. Walau agak kecewa namun kami mesti faham bahwa masing-masing kita memiliki pemahaman dan penafsiran nan berlainan. Termasuk dalam hal ini sutradara, penulis skenario, dan para penulis roman tersebut.

Anehnya, pertemuan kami dengan orang nan bukan bernama Geri nan menurut kami serupa dengan Geri seperti nan digambarkan dalam roman itu, ialah dikarenakan rokok pula. Geri karena terkena badai, bersama keempat kawannya dipertemukan karena rokok di sebuah stasiun kereta  api di Negeri Belanda. Adapun kami dipertemukan di hadapan sebuah kedai barang harian yang merupakan sebuah kedai berjaringan, dikarenakan mencari tempat merokok serta sambil menanti acara mulai dibuka.

Bedanya kami berdua tiada saling berkenalan, kami hanyalah pelengkap dalam pertemuan itu. Orang-orang ini telah saling kenal karena telah acap bersua dalam acara nan biasa diadakan oleh jawatan pusat ini. Menengok kepada kamipun dia tiada, dan kamipun tiada pula pandai beramah-ramah dengan orang.

Demikianlah engku, rangkayo, serta encik sekalian. Sungguh beruntung orang nan memiliki rupa seelok itu, idaman para perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s