Kesan Awal

Picture: Here
Picture: Here

“Serupa mesin onda ataupun oto[1], mesti dipanaskan dahulu baru kemudian dapat dibawa..” umpama nan diberikan oleh St. Rajo Ameh.

Petang hari nan mendung dan berangin itu,  selepas pulang bekerja, St. Rajo Basa bercakap-cakap dengan kawan-kawannya menikmati secangkir kopi di lepau[2] Kak Ros. Rosdiana nama empunya lepau, dipanggil dengan panggilan Kak Ros oleh sebagian pelanggan. Lepaunya terletak di tepi jalan menghadap ke jalan besar, di samping kirinya ialah kawasan persawahan, demikian pula pada bagian belakang, sedangkan pada samping kanan ialah perumahan.

St. Rajo Basa bukanlah penikmat kopi, melainkan teh “Engkau ini serupa orang Inggris saja..” seru Bujang Abidin  menanggapi pilihan St. Rajo Basa terhadap teh pada petang hari itu “Bedanya, orang Inggris memakan biskuit sebagai kawan minum teh. Sedangkan engkau memakan pisang goreng sebagai gantinya..” cemoohan Bujang Abidin ini ditanggapi dengan senyuman dan gelak beberapa orang.

“Kembali kita kepada pokok perbincangan tadi. Jadi itulah nan tampak oleh kami selama ini engku-engku sekalian..” seru St. Rajo Ameh mengembalikan pokok perbincangan ke semula. Tadi mereka memperbincangkan berbagai macam laku orang apabila mula berkenalan. Ada yang ceria dan pandai mengambil hati sehingga lancarlah perhubungan dengan kawan-kawannya nan baru. Ada pula nan pendiam terkesan sombong karena tiada hendak menyapa dan bergaul dengan lingkungan barunya.

“Orang nan pendiam bukan berarti dia sombong, melainkan karena dia orang nan berhati-hati atau bisa juga karena masih segan sebab berada di tempat baru. Orang serupa ini juga tiada tahu bagaimana harus memulai hubungan. Eloklah kita nan mendahului membawa dirinya ke tengah untuk memulai pergaulan itu..” ujar St. Panduko.

Bersetuju ia dengan pandangan St. Panduko itu, namun ada pula nan berperilaku sebaliknya. Seperti nan dijelaskan oleh Bujang Abidin “Namun ada jua orang nan pada awal perjumpaan sangatlah elok, ramah, serta pengertian ia. Namun dalam perjalanan perhubungan itu dengan cepat sifatnya itu berubah menjadi keras dan tiada hendak mendengarkan orang lain. Ada pula tersua oleh awak nan serupa itu engku-engku sekalian..”

“Iya, serupalah dengan nan awak jelaskan tadi. Ibaratkan mesin nan mesti dipanaskan terlebih dahulu. Selepas panas berulah kelihatan aslinya..” jawab St. Rajo Ameh.

Benar agaknya pendapat kawan-kawannya ini, ada beragam cara manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. St. Rajo Basa berharap agar dia kelak dapat tampil menjadi orang nan disenangi dan disukai oleh kawan-kawannya serta berdo’a ia agar mendapat kawan seiring nan bersih hatinya, tulus sikapnya, dan jujur perbuatannya.

_______________________________

Catatan Kaki:

[1] Motor atau mobil

[2] Warung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s