Penderitaan Anak

Picture: Here
Picture: Here

Orang kata dunia kita masa sekarang bertambah gila, banyak saja kejadian nan tak masuk di akal nan berlaku. Nan sangat memilukan ialah perlakuan yang diterima oleh kanak-kanak, apakah dari kawan sama gedang ataupun dari orang dewasa. Apakah dari orang lain atau justeru dari kerabat dekat sendiri. Sungguh tiada habis fikir kita ini dibuatnya, apa nan ada di kepala mereka itu? Tiada berhatikah mereka?

Dalam percakapan berkumpul-kumpul dengan kerabat, sambil mengobati rindu karena lama tak bersua, tatkala menyilau salah seorang nenek kami pulang dari berhaji. Pada kesempatan itulah kami mendengar berbagai kabar berita nan menyesakkan dada itu. Mulai dari kejadian nan dilihat di tivi, dibaca di internet, bahkan berlaku kepada kaum keluarga kami sendiri.

Dari tivi dilihat seorang ibu tega menyayat pipi anaknya sampai terbelah hanya karena sang anak menghilangkan uang belanja yang dititipkan kepadanya. Si anak di suruh pergi berbelanja namun uang itu hilang olehnya. Entah ibu kandung ataukah ibu tiri, kami tiada pula bertanya. Sesak dada ini dibuatnya, takut menjadi beban fikiran.

Di internet terbaca oleh adik kami sebuah berita dimana seorang ibu tega menyayat kedua telinga anaknya nan masih berusia satu tahun. Sungguh jahanam kelakuan kedua orang ibu itu, sungguh jahanam. Anak nan belum berakal itu diperlakukan sedemikian rupa, rusak sudah masa depannya.

Ada jua seorang anak nan diinjak-injak, terbaca oleh kami berdasarkan status seorang kawan di fesbuk. Entah orang tuanya, atau kerabat dekatnya, kami tiada pula mencari tahu. Ada pula seorang anak laki-laki nan dipukul dengan keras serupa memukul binatang, meraung-raung ia namun pukulan itu tiada berhenti. Kedua kabar itu kami lihat di fesbuk dan berlaku di luar negeri.

Picture: Here
Picture: Here

Adapun dari fihak kerabat kami, kejadiannya ialah karena kekerasan yang dilakukan oleh kawan sama gedang. Ia disekolahkan di sekolah asrama, karena terlihat lemah dan culun ia menjadi sasaran kekejian oleh kawan-kawannya. Barangnya dipakai oleh kawan-kawannya, sering dimintai uang, dan dimintai pulang makan. Apabila ada nan kehilangan maka kepada dialah kawan-kawannya meminta uang untuk membeli gantinya. Kalau menolak maka akan diadukan kepada guru pengawas kalau dialah tukang malingnya. Tiada tenang ia, habis pula kena lecut dengan rotan. Tatkala ditanya oleh ibundanya kepada engku guru “Demikianlah cara kami mengajar disini!” jawab engku guru.

Akhirnya si anak minta pindah “Sabarlah buyung, tinggal tujuh bulan lagi masa engkau bersekolah. Lepas itu engkau akan tamat..”

“Tiada bunda, sehari berasa setahun disini..” jawabnya. Sungguh lintuah hati kami mendengarnya, betapa berat perasaiannya disana.

Akhirnya dia dipindahkan, badan nan semula kurus kini telah berisi. Dahulu dia lebih sering tidur di masjid dibandingkan di asrama. Tiada berani dia kesana, takut dia dengan kawan-kawannya.

Kisah sepupunya berlainan lagi. Selain mendapat perlakuan buruk dari kawan-kawannya, keluarganya ikut pula mengambil andil. Sebagai anak sulung dan laki-laki satu-satunya, tampaknya dia dididik sangat keras, ayanya keras hati dan kasar demikian pula dengan bundanya. Kedua adiknya acap menjadi pembanding. Semasa berkuliah ia mendapat perlakuan buruk, disuruh mencuci pakain kawan-kawannya dan mendapat ancaman apabila tiada dicuci maka ia akan dikuncikan dan tiada dapat berkuliah.

Kuliah tiada tamat, orang tua menyalahkannya, kini ia tinggal di rumah orang tuanya. Acap menyendiri, melarikan diri dan tidur di loteng apabila bersengketa dengan kedua orang tuanya. Pernah pula kedapatan tidur di sebelah kulkas. Semua orang heran, kenapa dia tidur di sebelah kulkas?

Tiada nan hendak memahami dirinya, dia seorang diri di dunia ini pernah dia berujar kepada orang tuanya “Bunuh saja saya ayah, bunuh saja saya bunda..” sungguh telah putus asanya dia.

Tiada berani dia bersua dengan orang lain, terutama kawan-kawannya. Sebab nan lain telah berjaya dengan kehidupannya sedangkan dia menjadi beban tanggungan keluarga. Orang tua nan keras, egois, mementingkan diri serta ambisi mereka sendiri. Itulah penyebab utamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s