Nenek2 pergi Pesiar

PIcture: Here
PIcture: Here

Pernah suatu ketika kami mendapati para orang tua ramai basihondoh[1] mengantar anak-anak mereka nan hendak melakukan pesiar bersama kawan-kawan sekolah dan guru. Tak sekali dua kali kami dapati melainkan sudah beberapa kali. Gelak tawa kanak-kanak, para orang tua nan menyinyir kepada anak-anak mereka, senyuman dan canda nan menghiasi.

Bagaimana apabila kita balik? Para anaklah nan mengantar orang tua mereka nan hendak pergi berpesiar, bagaimana pula keadaannya?

Itulah nan berlaku pada malam satu Muharam 1438 H ini pada kami. Para nek uci dan nyiak aki[2] hendak berangkat pergi berpesiar. Rombongan ini ialah rombongan jamaah surau di kampung kami yang dikepalai oleh imam surau. Telah lama terdengar kabar perihal rencana pesiar dan melancong tersebut.

Tujuan mereka ialah Masjid Agung Madani Islamic Centre Rokan Hulu di Pasia Pangiraian[3]. Banyak para jamaah nan mengatakan kalau masjid itu serupa dengan Masjid Nabawi, dan itupun berdasarkan keterangan dari orang-orang nan pernah datang ke sana.

Rombongan para tetua ini berangkat pada malam hari selepas Isya dari kampung kami. Alasannya ialah karena lamanya perjalanan ialah delapan jam dan apabila berangkat malam maka diperkirakan subuh mereka telah sampai di tempat tujuan. Kenyataannya rombongan ziarah ini telah sampai pukul tiga pagi rencananya mereka akan berangkat pulang selepas zuhur.

Sebagian besar memanglah para tetua namun terdapat juga orang tua dengan beberapa orang anak-anak mereka nan masih kecil. Para anak, menantu, serta cucu (bahkan cucu yang masih dalam pangkuan) ikut melepas kepergian nek uci dan nyiak aki mereka itu.

“Tak ikutkah engkau?” tanya seorang nenek-nenek kepada adik perempuan kami dan tegak di sebalah kami.

“Tak maktuo[4]..” jawab adik kami.

“O iya, siapa pula nan menjaga rumah kalau ikut pula pergi..” si nenek menjawab sendiri pertanyaannya.

Ada jua nan bergurau “Haa. kini masanya nenek-nenek dan para aki nan pergi. Nan muda menunggu rumah saja dahulu..” seru mereka tatkala pera pengantar nan masih muda menertawakan tingkah mereka ini.

Demikianlah, sungguh terbalik keadaan nan berlaku namun kami semua menikmati. Sungguh suatu kejadian nan janggal dan jarang berlaku. Sekali berlaku patut untuk dikenang-kenang.

__________________

Catatan Kaki:

[1] Berbondong-bondong

[2] Nenek dan kakek

[3] Beberapa orang menulis Pasir Pengaraian

[4] Maktuo merupakan sapaan bagi perempuan nan lebih tua dari ibu kita dalam masyarakat Minangkabau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s