Gadis Jolong Gedang

Matahari tengah hari amatlah teriknya, jalanan agak lengang dibuatnya. Walau angin sepoi-sepoi menyapa sesiapa nan dialaluinya namun hawa panas itu tetaplah tak jua hendak pergi. Beruntung bagi nan sedang berteduh di dalam rumah, berleha-leha mereka sambil menonton tivi. Bagi nan tidak, bagi nan mesti bekerja jua tentulah ditahan saja panas garang itu. Walau bandar kami terkenal sejuk namun apabila didera panas berdengkang ini tetap sejuknya berkurang.

Tengah hari itu, disaat matahari sedang garang-garangnya, pada sebuah museum di bandar kami kami dapati pengunjung nan tak seberapa. Diantara pengunjung itu ialah dua orang gadis remaja yang kemungkinan baru bersekolah di sekolah SMA. Pada masa sekarang, setiap murid, guru, dan pegawai telah diwajibkan untuk memakai hijab apabila bersekolah. Namun lepas dari sekolah biasanya mereka melepas hijab itu. Menurut pandangan para perempuan nan”mati karancak an” ini mereka lebih cantik dan menarik hati apabila rambut tergerai, lengan nan putih itu ditampakkan, kaki nan jenjang itu dipertontonkan, pinggul nan diperlihatkan dari bali rok ataupun celana, dan buah dada nan tak seberapa besar itu ditonjolkan dari balik baju nan tipis itu.

Ah, sudah sakitkah semua perempuan itu?

Kedua gadis ini memakai celana levis ketat namun tiada memakai baju ketat tapi salah seorang dari mereka memakai baju warna hitam yang bercorak (motif) bulat-bulat putih. Lengan bajunya tampaknya tersangkut pada paku di dinding rumahnya, hal ini karena lengan baju itu cabik (robek) sehingga memperlihatkan bahunya nan mulus itu.

Duhai gadih jolong gedang (gadis remaja), hendak diapakan engakau ini? Kata orang “Itu pengaruh hormon engku..”

Sungguh durjana Si Hormon itu, dapat mereka mempengaruhi para gadis dan perempuan lainnya berlaku jahilayah serupa ini. Sibuk tengan tongkat yang dapat ditaruh hape di ujungnya lalu sambil memegang tongkat itu mereka bergaya dan gaya nan aneh-aneh. Kata orang mereka sedang mengambil gambar diri sendiri untuk dipamerkan di jejaring sosial.

“”Nanti mereka akan menulis: Sedang di museum, menghayati perjuangan generasi terdahulu.. cis, padahal mereka sedang bergaya-gaya, gelak-gelak, berpacaran, dan lain-lain kelakuan yang tak ada hubungannya dengan – menghayati – tadi..” ujar seorang rangkayo yang entah dari mana asalnya.

Rambut panjang tergerai dan gigi mereka diberi pagar (behel), ditambah kaca mata bening mengapit kepala mereka itu. Setelah kami amat-amati, kaca mata itu ialah kaca mata biasa, tiada diberi resep. Kalau tak beresep berarti mata mereka tiada sakit, kalau tiada sakit kenapa pula mereka memakai kaca mata?

“Sungguh suatu pertanyaan nan pandir karena kaca mata sudah bukan lagi barang yang hanya boleh dipakai oleh orang nan sakit mata saja. Pada masa sekarang, orang nan tiada sakit matanyapun boleh memakai kaca mata itu..?” jelas seorang kawan.

Kami heran “Sungguh janggal sekali, kenapa demikian engku?” tanya kami penasaran.

“Itu yang namanya fashion dan mereka digelari dengan Fashionista..” jawab kawan kami lagi.

Kami terkejut, sungguh durjana mereka itu “Jadi masih berdunsanak[1] ia dengan Ijuih Boutista itu?”

??????????????

________________________

Catatan Kaki:

[1] Saudara, memiliki hubungan keluarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s