Sesuka Awak Saja

Picture: Here
Picture: Here

Hari ini kami memutuskan berjalan-jalan mencoba mengobati gundah, kata orang berjalan kaki ria merupakan salah satu cara untuk mengobati rusuh nan sedang terasa di hati. Maka di hari nan berangin ini kami berkeputusan untuk berjalan-jalan  seorang diri, membasuh mata, mengamati keadaan di sekitar. Kata orang kampung kami, orang nan suka berjalan-jalan sendiri tak tentu arah ialah orang nan sedang terganggu fikirannya.

Di hadapan sebuah surau kami berhenti, pada halaman surau itu kami dapati beberapa orang kanak-kanak sedang asyik bermain. Ah, senang hati ini melihat kanak-kanak itu, terkenang dengan dia nan jauh disana. Tiada orang dewasa di sana, hanya kami seorang berdiri sambil memetik sebatang rokok nan mengamati kanak-kanak itu.

Beberapa kanak-kanak lelaki asyik bermain pasir dengan mainan mereka, sedangkan nan perempuan ada nan ikut bergabung dengan kelompok lelaki itu, ada pula nan bermain kejar-kejaran. Sampailah pada seorang anak, berkulit putih dan berbadan agak berisi. Diambilnya mainan kawannya lalu dilemparkannya “Awak hendak bermain di sebelah sini! engkau pindah ke sana!” hardiknya kepada anak nan berkulit coklat dan terlihat agak pendiam.

Anak nan pendiam itu tertegun, dipandanginya kawannya nan berkulit putih itu, lalu dipandanginya kawan-kawannya nan lain. Kanak-kanak nan lain tampak sama terkejutnya namun mereka hanya dapat memandangi saja.  Takut agaknya mereka dengan anak berkulit putih itu. Si anak berkulit coklat dan bertubuh kurus itu mengalah, dia beranjak pindah.

Perlahan-lahan kembali riuh-rendahlah suasana bermain mereka. Tak berapa lama kemudian si anak nan berkulit putih itupun kembali berulah. Bergerak menuju kawannya nan berkulit coklat itu, diambilnya mainan kawannya, dan dilemparkannya “Engkau pindah ke sana! Awak sekarang nan bermain di sebelah sini..!!” hardiknya.

Kembali permainan berhenti dan sekalian kanak-kanak memandangi mereka berdua “Kenapa?!” tanya si anak berkulit coklat.

“Awak tiada suka bermain dekat dia..!!” tunjuknya dengan marah dan angkuh kepada seorang kawannya nan sedari tadi bermain si sebelah si anak berkulit putih itu.

Maka kembalilah si anak berkulit coklat nan pendiam itu mengalah. Permainan kembali berlanjut, riuh rendah suara gelak tawa mendengung di halam masjid nan sedang dalam tahap pembangunan itu. Kemudian tak berapa lamanya setelah suasana ceria kembali menghampiri, si anak berkulit putih itu kembali berulah, kembali diambilnya mainan anak berkulit coklat dan kemudian dilemparnya serupa kejadian nan dua sebelumnya.

Tampaknya si anak berkulit coklat sudah mulai geram “Kenapa lagi engkau ini!!” bentaknya kepada anak berkulit putih.

“Awak hendak pindah, tiada suka bermain di dekat jalan ini..!!” bentaknya tak hendak kalah.

“Tiada dapat! engkau tiada boleh berkelakuan serupa itu! Merampas tempat orang sesuka hati engkau saja!!” jawab si anak berkulit coklat tiada hendak kalah.

“Tidak, awak tiada hendak pindah! Kalau tiada suka engkau yang pindah ke sini!!”  bentak anak berkulit putih  itu angkuh sambil memerintah.

“Tiada, kini tiada dapat lagi. Bermain saja engkau di sebelah sana!!” jawab anak berkulit coklat keras hati pula.

Si anak berkulit putih agaknya mulai gamang, sebab orang nan dibentaknya balik membentak, nan hendak ditindas bangkit melawan “Engkau ini memang mementingkan diri sendiri saja! sesuka engkau saja tempat ini!!” umpatnya lagi.

Si anak berkulit coklat diam saja dan melanjutkan permainan adapun anak berkulit putih sebentar saja melanjutkan permainannya sambil mendongkol.  tak berapa kemudian ia berbalik pulang.

Tersenyum kami memandangi kejadian itu, ah serupa agaknya dengan nan kami alami barusan. Memang terkadang orang nan katanya telah dewasa lebih acap bersikap serupa kanak-kanak belum berakal. Hendaknya orang saja nan  mengalah terus kepada dia sedang dia sendiri tiada hendak mengalah. Sukanya orang saja menahan hati, adapun dengan dia tiada memiliki rasa sabar sedikitpun. Apabila orang tiada hendak mengalah atau bahkan berbalik melawan maka orang pula nan dikata keras kepala, bersikap sesukanya, tiada pandai menenggang orang, dan lain sebagainya.

Tampaknya penyakit jiwa serupa itu sedang melanda sebagian besar orang di negeri ini. Dari pusat hingga ke daerah virus itu telah menyebar dan saling menulari. Keras hati, merasa diri benar, tiada pernah salah dan kesalahan hanya milik orang bukan awak.

Apa nan mesti dilakukan terhadap orang serupa ini duhai engku?

Dilawan percuma, sama pula tak berakal awak dengan dia. Didiamkan semakin menjadi ia..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s