Dua Pribadi Berlainan

Picture: Here
Picture: Here

Dahulu semasa berkuliah, kami sangat benci sekali dengan perdebatan. Terutama debat yang dilakukan di dalam kelas tatkala kawan satu kelas melakukan pemaparan di hadapan kelas. Para dosen menggunakan tambahan nilai bagi sesiapa saja nan hendak bertanya kepada kawan malang nan sedang tegak di hadapan kelas itu. Upah tambahan nilai sungguh sangat manjur sekali dimana pertanyaan dari kawan nan sedang duduk di kelas itu serupa panah beracun nan dibidik dan sedang melaju dengan kecepatan cahaya kepada manusia malang nan sedang melakukan pemaparan itu.

Dari pertanyaan sok tahu, sok mengajari, sok cerdik, hingga yang benar-benar tulus bertanya karena ada nan kurang dipahami, ada nan kurang lengkap dijelaskan. Intinya, para mahasiswa nan masih dalam proses pencarian diri itu terbagi dua, Si Jahil yang bertanya dengan maksud hendak menjatuhkan dan membuat malu kawan dan Si Lurus yang sebenar bertanya dengan niat tulus dan hati nan bersih.

Terkadang kami dapati, dua orang kawan seiring, selapik-seketiduran menjadi dua orang musuh bebuyutan yang saling menjatuhkan tatkala dosen mulai membuka medan perang di dalam kelas. Tiada peduli mereka dengan perasaan kawan, nan penting kata dia lalu dan kehendak dia jalankan, serta lawan mesti bertekuk lutut.

Tiada pengajaran dari dosen, mereka hanya tersenyum saja. Tiada diajari bagaimana cara bertanya yang baik, yang bataratik[1] dengan sikap rendah hati atau gentlemen kata orang Inggris. Dosen hanya menambahkan atau menjelaskan perselihan nan baru saja berlaku dan bahwa pandangan si anu benar dan si anu salah. Entahlah kalau masa sekarang telah berlainan keadaannya.

Kami pernah mendapat malapetaka serupa itu, seorang kawan nan kami anggap kawan dekat, menyerang kami dengan pertanyaan nan sudah jelas ada jawabannya hanya karena tiada kami sebutkan dalam pemaparan. Sebenarnya pertanyaan itu tiada perlu lagi dijelaskan karena semua orang sudah faham dengan perkara itu. Namun tidak dengan Jahanam nan satu ini, dia bertanya bukan karena tiada faham namun karena hendak menjatuhkan.

Dan agaknya karena alur nan serupa ini nan dilalui dan dijalani, dimana tiada pengajaran mengenai nilai-nilai mengenai taratik dalam bercakap di hadapan orang lain pada suatu pertemuan maka hal ini terbawa terus dan terjadilah proses tiru-meniru. Tak hanya orang nan pernah berkuliah, nan tak pernah mengecap bangku kuliahpun demikian pula. Apakah hal ini karena sudah bawaan orang semenjak lahir? Semoga saja tidak.

Orang nan ramah, baik, dan nikmat apabila dibawa bercakap-cakap bertukar fikiran namun menjadi sosok yang berbeda apabila sudah berada dalam satu pertemuan (forum). Sudah banyak kami dapati.

Seorang kawan pernah memberikan pendapat “Dimasa kuliah mereka hendak memperlihatkan kepandaian mereka kepada dosen dan seluruh kawan-kawan di kelas. Dimasa bekerja, mereka hendak memperlihatkan kepandaian mereka kepada atasan dan pegawai-pegawai nan lain..”

Kawan nan lain menambahi “Terkadang diantara mereka lebih banyak mengandalkan suara keras nan mengancam (intimidasi) daripada akal (logika) mereka. Sehingga orang-orang pandari serupa ini beranggapan apabila tiada dapat orang menjawab perkataannya maka ia telah menang dan senanglah hatinya..”

Benar kata orang bahwa menjadi tua karena umur namun menjadi dewasa karena sikap..

__________________________

Catatan Kaki:

[1] Etika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s