Masa Muda Kedua

Picture: Here
Picture: Here

Pagi nan hujan rupanya perlahan-lahan lenyap seiring dengan kedatangan matahari, takut agaknya hujan kini dengan matahari. Sungguh salut kami dengan matahari, telah begak ia, tak berani hujan dan awan mendung menghadang kehadirannya lagi. Dan benar saja, perlahan-lahan sinarnya mulai memanaskan hari, dan tadi pakai baju hangat kini telah dibukaknya.

Tengah hari nan panas itu, Rangkayo Salimar tengah duduk-duduk di beranda rumahnya bersama Rangkayo Julimar kawannya nan sering bertandang. Bersama mereka turut pula St. Mantari seorang pejabat pada jawatan pemerintahan di bandar nan sudah dianggap adik angkat oleh Rangkayo Salimar. St. Mantari acap bertandang ke rumah Rangkayo Salimar nan tak berapa jauh dari pekan nan setiap hari Rabu dan Sabtu diadakan di bandar itu. Sambil menanti induk beras[1]nya pergi belanja ke pekan di hari Sabtu ia memutuskan untuk berleha-leha sambil bercakap-cakap dengan kakak angkatnya itu.

Bersama mereka kebetulan sedang di rumah St. Rangkayo Basa, anak adik dari Rangkayo Salimar. Dalam adat di Minangkabau, St. Rangayo Basa ini ialah anak jua Rangkayo Salimar. Anaknya nan seorang ini memang acap bertandang ke rumah maktuonya[2] sambil menyilau-nyilau keadaan sang maktuo.

Telah lama agaknya Rangkayo Salimar bercakap-cakap hilir-mudik dengan dengan kawannya itu serta dikawani oleh St. Mantari yang mengimak-ngimak[3] tiap sebentar. Hingga akhirnya St. Rangkayo Basa melihat ada nan aneh pada jalan di hadapan perkarangan di hadapan rumah. Tampak sebuah oto[4] parkir namun pengendaranya tiada keluar, dilihatnya dari kaca oto (kaca filem) nan disamarkan membayang sosok dua orang yakni seorang laki-laki yang sedang memegang kemudi dan seorang perempuan nan duduk di sebelahnya. Disangkanya mereka ini ialah calon tamu nan hendak datang bertandang. Namun rupanya tidak.

Si perempuan keluar dari oto, masih muda ia agaknya, tiada dapat dilihat wajahnya oleh St. Rajo Basa sebab pandangannya teralihkan oleh sang maktuo nan sibuk berkicau dengan kawannya itu bertanya mengenai satu perkara kepada St. Rajo Basa. Oleh karena itu ia hanya dapat memandangi bagian belakang tubuh perempuan berjilab merah nan jilbabnya bergaya terkini. Kulit si perempuan putih, tampak pada tangan dan kakinya nan hanya memakai terompah, dan agaknya memiliki bentuk badan nan bagus.

Si perempuan tegak di belakang oto Kijang bewarna abu-abu itu, cukup lama sampai datanglah oto angkutan umum berhenti di dekatnya dan kemudian si perempuan naik. Beriringan dengan kepergian sang perempuan, oto Kijang abu-abu itupun beranjak pula pergi.

“Kenapa oto itu pergi? Tak bertamu ia ke rumah kita?” tanya Rangkayo Salimar kepada St. Rajo Basa

Dengan tersenyum St. Rajo Basa menjawab “Entahlah maktuo, semula awak kira ia hendak bertamu namun rupanya si perempuan tegak di belakang otonya dan kemudian naik angkutan umum selepas itu lelaki nan membawa oto Kijang itupun berangkat pula..”

“Siapa mereka itu?” tanya St. Mantari

“Entahlah engku, tiada pula awak tahu. Melihat rupa wajahnya saja awak tiada..” Jawab St. Rajo Basa

“Aneh pula mereka itu, kenapa pula mesti naik angkot kalau ada oto rancak?” tanya Rangkayo Salimar dengan senyum jahil nan mencemooh entah kepada siapa.

Rangkayo Julimar dan sedari tadi diam saja akhirnya buka suara “Ah, rangkayo ini serupa tak tahu saja adat orang sekarang. Mungkin saja perempuan itu bini muda, gundik, atau kawan berbuat curang  si lelaki..” jawab Rangkayo Julimar sambil mengumbar senyum.

“Iya, sedang zamannya pula nan demikian kini itu..” St. Mantari menyiram minyak ke dalam bara api nan baru saja memanas kembali.

“Ah, iya..” seru Rangkayo Salimar dan tampaknya api itu telah mulai muncul dan akan besar kobarannya agaknya “Lelaki zaman sekarang memang canggih-canggih..”

“Hei, tahukah rangkayo dengan Tuan Rusman pemilik kedai kayu di sebelah itu?” Tanya Rangkayo Salimar kepada Rangkayo Julimar “Pandir haji itu, Si Salimah orang Negeri Tinjau tahukan rangkayo? Dia sebelah rumahnya ialah rumah Si Murniati dia punya anak perempuan nan sangat elok rupa dan parasnya, putih kulitnya itu rangkayo. Menikah dengan orang sana jua, menantunya ini bekerja sebagai sopir truk ke Jawa..”

“Haa, tatkala lakinya sedang ke Jawa maka oleh Tuan Rusman dinikahilah perempuan muda nan molek ini. Sempat beranak dua. Tak lama kemudian perempuan inipun kawin lari pula dengan seorang Anak Kapal[5]..” Dan apipun semakin berkobar dengan semaraknya.

“Tatkala menikahi gundiknya ini Tuan Rusman acap pulang pagi, tak hendak ia pulang malam sebab pasti ketahuan oleh bini tua. Kini telah berbini muda pula ia balik, tak kalah cantiknya pula dan telah beranak pula mereka itu. Pernah pada suatu ketika awak sapa ia ‘Hei tuan, ya sebenar canggih tuan ini ya! Jatah nan muda diambil jua, kasihan awak tak mendapat mereka itu..”

Apa jawab Tuan Rusman itu “Ah kalau rangkayo nan bercakap awak tak menjawablah..”

Adapula tatkala sedang memangku-mangku anaknya nan masih kecil itu ditanya oleh orang “Cucu tuankah ini?” dengan berat hati dan sangat malu Tuan Rusman itu menjawab “Anak..”

Pecahlah gelak tawa Rangkayo Julimar, Sutan. Mantari, dan St. Rangkayo Basa. Tatkala sedang gelak itu, tiba-tibaSt.  Rajo Basa tersadar dengan St. Mantari yang telah lama menduda karena bercerai dengan bininya itu telah berbini baru. Bini barunya dua puluh tahun lebih muda dari dirinya. Namun agaknya Rangkayo Salimar tiada sadar kalau adik angkatnya mulai salah tingkah.

Karena tiada nan hendak memadamkan maka kobaran api semakin semarak saja “Haa, ada pula Haji Saidi, berbini muda pula ia. Tatkala bininya ini sedang bunting ia bawa berjalan-jalan pagi kemudian sarapan di kedai sebelah sana. Nan namanya perempuan bunting acap mengusap-usap perutnya nan besar itu. Eh, Haji ini ikut pula mengusap-ngusap perut bini mudanya ini..”

“Awak sapa pula ‘Hei Engku Haji, tak perlu bermesra-mesra dengan bini di hadapan orang cukup di dalam bilik saja..”

“Hehe, rangkayo ya tiada dapat awak menjawab kalau rangkayo nan bercakap..” jawab Haji Saidi.

“Ada-ada saja lelaki sekarang..” keluh Rangkayo Salimar

“Itu nan namanya  kata orang Puber kedua itu..” jawab Rangkayo Julimar

Dan St. Mantaripun semakin salah tingkah, untuk mengatasi salah tingkahnya itu ia ikut bercakap untuk menyamarkan “Banyak nan demikian itu rangkayo, banyak..”

“Iya, kadang perempuan ini entah pulalah. Dari pada hidup sengsara biarlah jadi bini kesekian lelaki tua nan sepatutnya menjadi bapaknya..” oceh Rangkayo Julimar.

St. Rajo Basa memutuskan masuk ke dalam rumah, tiada hendak ikut dengan percakapan orang tua itu. Juga untuk menjaga harga diri St. Mantari agar jangan terlalu malu ia di hadapan nan muda.

________________________

Catatan Kaki:

[1] Induak Bareh, isteri

[2] Maktuo, berasal dari kata Mak dan Tuo yang bermakna Amak (Ibu) yang Tuo (Tua). Kata sapaan ini juga diberikan kepada perempuan-perempuan nan lebih tua dari ibu kita. Apakah itu isteri dari mamak ataupun perempuan-perempuan nan dipandang lebih tua dari ibu. Apabila dipakaikan untuk menyapa perempuan-perempuan diluar kerabat ibu maka maknya jadi berganti dengan bibi.

[3] Tidak begitu ikut dalam percakapan hanya memberikan pendapat sedikit-sedikit, sepatah dua patah kata.

[4] Mobil

[5] Pelaut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s