Belanja dari Isteri

Picture: Here
Picture: Here

Hari nan indah hendak cerah pada pagi hari secara perlahan mulai berubah tatkala tengah hari hampir menampakkan diri. Awan mendung mulai berarak hendak datang dikawani rombongan angin kencang nan membawa dingin sampai ke hati. Namun tiada setetespun air nan turun melainkan hanya mendung saja, orang-orang bertambah ramai berlalu lalang dengan kendaraannya di labuh besar. Lain perkara kalau panas berdengkang maka akan berfikir dahulu apabila hendak keluar.

Keadaan masih terus berlanjut hingga petang hari, merajuk agaknya matahari itu karena dihalangi dirinya oleh segerombolan awan hitam yang semakin hari semakin pongah. Pada petang menjelang siang itu, selepas mengantar seorang kawan nan sakit pulang ke rumah isterinya, kami di sapa oleh salah seorang kawan kantor kami, Rangkayo Rani namanya. Beliau berkisah perihal kawan kami ini nan telah acap sakit, telah disuruh untuk melancong dan berpesiar dengan mengambil Cuti Tunda[1] dan digabungkan dengan Cuti Tahun sekarang. Namun alasannya ialah “Bayang-bayang awak singkat rangkayo..”[2]

Hingga akhirnya cerita kami ketika itu beralih kepada pergaulan kehidupan laki-bini, dengan bersemangat rangkayo ini mengajari kami “Sudah awak katakan kepada kawan engku itu, uang nan didapat jangan sepenuhnya diberikan kepada isteri. Sebab orang lelaki ini pergaulannya banyak, tak mungkin apabila duduk di lepau[3] kawan tak dibayarkan. Setidaknya kopi agak segelas dibayarkan kawan nan sama duduk itu..”

“Apalagi nanti dijalan ban onda[4] bocor, dari mana uang didapat untuk menambalnya? Syukur-syukur kalau hanya ditambal, kalau sampai ganti benen bagaimana? Atau terjadi kemalangan, kendaraan orang kita langgar, tentulah mesti dibayar ganti rugi. Kalau tak ada uang! bagaimana hendak membayarnya? dimasukkan orang ke penjara awak nanti..” kisah Rangkayo Reni.

Tersenyum kami mendengar kisah Rangkayo Rani ini, kami coba membayangkan serupa apakah air muka kawan kami itu tatkala mendapat petuah dari rangkayo nan seorang ini. Engku Kepala Bidang nan ikut mendengar dari mejanya meangguk-angguk saja, salah seorang mahasiswa magang nan sedang duduk di sudut ruangan sana ikut tersenyum.

“Awak katakan kepada dia; kami Kaum Perempuan ini apabila diberi hati maka akan semakin Malunjak[5]. Jangan engku berikan seluruh uang gaji itu kepada isteri. Ini tidak, setiap hari mendapat belanja dari isteri bukankah terbalik itu! Semestinya isteri itu nan engku beri belanja..”

Tergelak kami mendengarnya “Haa.. ini rangkayo sendiri nan memberi pendapat lah..” potong kami menggoda.

“Memang benar engku, memang demikianlah watak kami kaum perempuan ini. Jadi kaum lelaki mesti memberi sedikit pengekangan agar jangan semena-mena saja isteri itu. Tidak semua isteri itu bijak dalam memperlakukan suami apalagi di hadapan kawan suaminya atau di hadapan orang ramai. Terkadang nan banyak didapati isteri nan kurang ajar menghardik suami di tengah orang ramai..” Kisah Rangkayo Rani berapi-api.

Demikianlah, kami terkejut mendengar kisah Rangkayo Rani, rupanya banyak nan dirahasiakan oleh kawan kami itu perihal kehidupannya di luar kantor kepada kami. Semoga nasib baik selalu mengiringinya. Amin..

________________________

Catatan Kaki:

[1] Cuti tahun nan lalu yang ditunda pengambilannya

[2] Maksudnya tiada cukup uangnya untuk berpesiar dan melancong itu

[3] Lepau artinya warung, lepau disini mengacu kepada Warung Kopi

[4] Motor

[5] Ngelunjak bahasa Jakartanya, semena-mena

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s