Anak Perawan di Sarang Penyamun

Picture: Here
Picture: Here

Anak Perawan Di Sarang Penyamun, semenjak kanak-kanak kata itu kami dapati tanpa faham apa maksudnya. Kemudian tatkala beranjak gedang kata itu acap digunakan sebagai gurauan apabila melihat seorang perempuan berada di tengah-tengah kaum lelaki. Tatkala kata itu diucapkan maka mereka akan tertawa terbahak-bahak karena memandang itu sesuatu nan lawak sangat.

Kemudian di bangku kuliah barulah kami dapati bahwa itu merupakan judul dari sebuah roman nan di karang oleh seorang pujangga dari negeri kami. Seorang pujangga Angkatan Balai Pustaka nan belakangan kami ketahui seorang nan menganut faham liberal yang menganjurkan agar orang Timur melepaskan adat ketimurannya dan sepenuhnya menerima Adat Barat dalam pergaulan hidupnya.

Walau kurang bersesuaian dengan pengarangnya, namun beberapa bukunya telah kami baca. Dan memang terasa arah menuju kehidupan ala Barat nan dibawa dalam setiap karangannya.

Namun pada buku nan berjudul “Anak Perawan di Sarang Penyamun” tiada terasa oleh kami corak kepenulisannya nan bersifat bebas itu. Bahkan di akhir kisah, dia menceritakan perubahan nan sangat mendalam pada kehidupan tokoh utama nan dikisahkanya itu.

Berkisah perihal kehidupan seorang penyamun nan tiada mengenal belas kasih di hatinya. Hidup menguncilkan diri di rimba di Pulau Sumatera. Kehidupannya mulai perlahan berubah tatkala ia memutuskan menyamun seorang saudagar nan bergelar haji. Dalam menyamun itu ia kehilangan dua orang kawannya, serta membawa lari seorang perempuan muda yang merupakan anak gadis dari si saudagar yang dibunuhnya.

Ada nan lain terasa di hatinya tatkala memandangi gadis perawan nan dibawanya itu. Selama berada dalam tawanan si penyamun si gadis tiada disentuh sedikitpun. Ia dibiarkan hidup di dalam pondok, memasak untuk para penawannya.

Malapetaka rupanya belum usai menimpa Madesing si Penyamun, di saat berburu ia kehilangan satu-satunya kawan nan tertinggal. Mati tertusuk tombaknya sendiri tatkala berburu rusa, adapun dengan medasing mengalami patah tangan kanan sehingga membuat ia tak berdaya. Demam tinggi selama berhari-hari dan Sayu si Gadis Perawanlah nan merawatnya.

Karena bekal mereka semakin menipis, Madesing terpaksa memenuhi permintaan Sayu untuk turun ke kampung. Kampung Sayulah nan menjadi tujuan, betapa girang hati Gadis Perawan itu karena sebentar lagi akan bersua dengan ayah bunda yang telah dua musim[1] ia tinggal. Namun betapa pilu hatinya tatkala mengetahui bahwa orang lain nan menyambutnya dengan congkaklah nan tinggal di rumah orang tuanya. Kata orang “Ayahnya telah meninggal sewaktu disamun setahun nan silam..”

Hancur hatinya, dicarinya ibunya yang tinggal mengasingkan diri di tepi kampung dalam sebuah pondok. Adik angkatnyalah nan dengan penuh kasih sayang selama setahun ini merawat bundanya dan semakin hari semakin menurun kesehatannya. Tepat di hadapan pintu pondok, tepat ketika Sayu tiba, dipangkuan adik angkatnya nan perempuan itu bundanya menghembuskan nafas terakhir.

Duhai, betapa pilu hati perempuan muda itu. Turun dari rimba pada perak siang dengan hati penuh kegirangan karena akan segera melepas rindu dengan kedua orang nan teramat dikasihinya, namun duka nan semakin bertambah nan dihadapinya.

Medasing, nan selama ini tiada mengenal kasihan, telah banyak nyawa nan dicabutnya, telah banyak mata nan dibuatnya berair, telah banyak perempua dibuat menjanda olehnya, dan telah banyak pula anak-anak nan menjadi yatim akibat kebengisannya. Petang hari itu ia pergi mengucilkan diri, menangis, pilu hatinya serasa disayat sembilu.

Itulah kisah Medasing, kemudian cerita melompat ia telah beristeri dengan dua orang anak[2] pulang dari berhaji di Tanah Mekah. Kini ia bernama Pesirah Karim,[3] yang juga merupakan seorang saudagar nan kaya raya. Disenangi dan dicintai oleh rakyatnya, mereka menyambut Medasing atau sekarang telah berganti nama menjadi Karim dan karena ia seorang Dipati maka diawal namanya ditambahi Pesirah maka jadilah Pesirah Karim. Karim ialah nama nan sangat Islami yang berarti Murah Hati, berkebalikan dari tabi’atnya dahulu nan bengis.

Demikianlah, alangkah indahnya hidup Si Medasing menikahi Gadis yang telah dibunuh ayahnya dengan bengis oleh dirinya sendiri. Kini, haram akan dapat, Si Perawan akan menjadi Dewi Kali nan sangat bengis yang akan memburu si lelaki.

__________________________________

Catatan Kaki:

[1] Negeri ini hanya mengenal dua musim dalam satu tahun

[2] Perkiraan kami Sayulah yang menjadi isterinya

[3] Pesirah ialah kepala Pemerintahan Marga di Sumatera Selatan. Pesirah membawahi beberapa desa yang dikepalai oleh Ginde sedangkan desa tempat Pesirah bermukim Kepala Desanya diberi gelar Pembarab. Dibawah Ginde ada Kerio yang merupakan Kepala Dusun dan terakhir ialah Penggawo yang merupakan Kepala Kampung. Untuk lebih jelas silahkan lihat wikipedia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s