Alamak Jang

Picture: Here
Picture: Here

Bandar Padang tiada begitu panas terasa tengah hari itu, mungkin karena pengaruh musim nan tiada menentu ini. Pagi mendung membawa udara agak sejuk, terkadang lepas itu panas berdengkang datang dan kemudian kembali mendung dan syukur Alhamdulillah kalau sampai hujan, sejuk udara itu dibuatnya. Pada hari Senin ini tampaknya mendung yang sempat datang pada pagi hari masih menyisakan sejuk di bandar ini. Tampaknya udara panas dari pantai belumlah sampai benar.

Pada tengah hari itu selepas makan tengah hari di sebuah rumah makan nan cukup ternama di Bandar Padang bersama kawan-kawannya, St. Rajo Basa memutuskan untuk undur diri agak sejenak dari ruang makan. Hendak merokok ia, segan dia kalau merokok dekat dengan dua orang rangkayo kawannya itu. Kaum perempuan memang sangat membenci rokok beserta asapnya walau terkadang mereka cinta mati kepada para perokok itu. Begitulah perempuan, mereka suka pilih-pilih tiada hendak menerima Kaum Lelaki apadanya sedangkan mereka menuntut Kaum Lelaki menerima mereka apa adanya, mencintai diri mereka sepenuhnya beserta segala kekurangan nan ada pada mereka. Demikian pula dengan masa lalu, mereka membujuk “Kalau tuan cinta, tentunya tuan akan menerima masa lalu dinda apa adanya..”

Dan tatkala menghisap rokoknya nan sebatang itu sambil memikirkan nasib untung perasaian Kaum Lelaki ia didekati oleh seorang perempuan cantik. Sebenarnya perempuan nan semok, montok, dan bohai itu didapatinya baru masuk tatkala ia hendak keluar dari rumah makan tempat ia menyantap makan tengah hari bersama tiga orang kawannya. Salah seorang lelaki muda menyapanya dengan senyum ramah “Maaf engku, kami hendak memperkenalkan salah satu barang baru keluaran perusahaan kami..”[1] dan tampaknya si engku itu hendak agar St. Rajo Basa kembali ke tempat duduk.

“Tiada mengapa engku, itu ada kawan-kawan awak masih duduk disana..” jawabnya dengan senyuman pula sambil menunjuk ke meja tempat ketiga kawannya masih asyik bercakap-cakap. Tampaknya lelaki muda itu ialah induk semang dari para perempuan semok, montk, dan bohai itu.

Maka bergerilyalah beberapa orang perempuan nan semok, montok, dan bohai ini dalam rumah makan memperkenalkan salah satu barang baru keluaran perusahaan mereka, perusahaan rokok. Barang nan dibawa tiada menarik perhatian namun nan menjadi tatapan setiap laki-laki dari sudut mata mereka nan liar itu ialah penampilan dan pakaian mereka nan ketat membalut badan itu, tampak pula ketiaknya.

Salah seorang dari perempuan semok itulah nan mendekati St. Rajo Basa nan tengah menumpang duduk pada onda[2] yang sedang diparkir di hadapan rumah makan itu. Terdengar olehnya si perempuan berkata kepada lelaki nan menyapanya tatkala hendak keluar tadi “Eh, itu ada seorang engku sedang merokok. Biarlah awak dekati dahulu..”

St. Rajo Basa pura-pura tak mendengar, sekilas dilihatnya si perempuan sungguh menawan, dengan pakaian hitam ketat membalut badan, sepatu hak tinggi, kulit kuning langsat, tinggi semampai, rambut diikat ekor kuda, mata bulat menawan, alis tipis mengintip dari atas matanya, bulu matanya agak lentik, bibir nan merah menggoda, dan hidung yang tiada mancung tak pula pesek, sempurna rasanya lukisan wajah si encik bohai ini. Kulit tangannya nan kuning itu ditumbuhi oleh bulu halus, dan pada lehernya nan putih berjenjang tampak sehelai dua helai rambut terlepas dari ikatannya. “Alamak jang, sudah kawinkah ia ini..!!”

Berjalan ia ke arah St. Rajo Basa, ia diam saja pura-pura tak tahu. Kemudian sampailah si encik di hadapan St. Rajo Basa, tepat berdiri di hadapan St. Rajo Basa, tak sampai setengah langkah dari dirinya. Cobalah engku bayangkan betapa dekatnya jarak mereka itu. Hal ini karena tiada onda lain nan diparkirkan di sebelah onda nan sedang diduduki oleh St. Rajo Basa. Sungguh rejeki tengah hari nan didapatnya.

Si encik nan temok itu tersenyum, Sutan Rajo Basapun tersenyum dan berdua mereka saling melempar senyum. Kalaulah ada kamera ketika itu dan kejadian tengah hari di depan rumah makan di Jl. Khatib Sulaiman Bandar Padang itu diabadikan dalam bentuk gambar ataupun gambar bergerak. Ditambahi dengan lagu latar ialah lagu India tentulah sudah bernyanyi dan bernari pula mereka berdua, saling mengerlingkan mata, saling melempar senyum dan kemudian saling menarik pegangan tangan. Itu hanya khayalan saja engku, rangkayo, serta encik sekalian, janganlah terlalu serius pula membacanya.

“Ah, tuan merokok agaknya. Apakah gerangan rokok tuan itu?” tanya si encik dengan suara merdunya. Duhai, tiada dapat mengapa si St. Rajo Basa ini tersenyum saja ia kemudian disebutkannya merek rokok nan dihisapnya itu.

“Sudah tahukah tuan kalau perusahaan kami memiliki rokok jenis baru?” tanyanya sambil memperlihatkan dua bungkus rokok nan sedang digenggam di tangan kanan oleh jari-jarinya nan lentik itu. St. Rajo Basa masih tersenyum dan menjawabnya dengan anggukan. Entah apa nan ada difikirannya kala itu, senang hatinya, melonjak kegirangan karena didekati seorang perempuan dan aduhai? mungkin.

Si encik masih tersenyum menggoda “Sudah pernahkah tuan menghisap rokok kami ini?” tanyanya lagi.

“Sudah encik..” jawab St. Rajo Basa sambil mengerling ke arah rokok nan digenggam itu. Dia ragu, kalau dipandangi terus wajah si encik dan aduhai ini maka akan jelaslah belangnya sebagai lelaki.

“Bagaimanakah rasanya tuan..” tanya si encik menyelidik. St. Rajo Basa nan ditanya hanya tersenyum dan bergumam sambil membuang muka. Tampaknya si encik nan semok ini faham.

“Ah, tuan tentu terbiasa menghisap rokok mild sedangkan ini berlainan jenisnya..” jawab si encik atas perntanyaannya sendiri. St. Rajo Basa hanya melempar senyum saja kerjaannya dari tadi “Jadi tuan tampaknya tetapa setia dengan rokok tuan itu..” ujarnya pasrah “Tak mengapalah tuan, terima kasih ya tuan..” dan si encikpun berlalu.

“Alamak jang, kenapa cepat sekali ia berlalu..!!??” umpat St. Rajo Basa dalam hati “Tak pandaikah engkau membawanya bercakap-cakap agak sebentar?! bertanya tentang ini dan itu atau mengenai rokok dan dijualnya?! Bengaknya engkau!!”

Tatkala sedang mengumpat kepada diri sendiri dalam hati, tiba-tiba si engku tukang parkir mendekat kepadanya “Ah, macam-macam saja pakaian perempuan muda masa sekarang ya engku?” ujar si tukang parkir kepada dirinya. Sedari tadi engku tukang parkir tak lepas matanya memandangi rombongan perempuan semok, temok, dan bohai itu bergerilya masuk ke kedai-kedai di sekitar. Jakun lelaki mana nan takkan naik melihat perempuan semok, temok, montok, dan bohai itu berpakaian ketat melilit badan, dengan betis, ketiak, dan bahu dibagikan gratis kepada setiap lelaki nan memandangnya.

Anehnya kami dapati kesemua perempuan ini memiliki ciri-ciri nan sama, rambut panjang lurus ataupun ikal diikat ekor kuda, mereka berkulit kuning/putih semua, serta memiliki tinggi yang sama pula, kalau tiada salah sekitar 163-165 cm. Dari manakah mereka berasal? Bagaimana cara mencari mereka? Dan sudah kawin atau belum mereka itu?

Bagaimana pula dengan bandar engku? adakah sama? atau justeru lebih lagi..? Berbagi kisahlah awak ini hendaknya.. 🙂

__________________________

Catatan Kaki:

[1] Maaf tuan, kami hendak mempromosikan produk baru dari perusahaan kami.

[2] Sepeda Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s