Rusak Binasa Hati Lelaki

Picture: Here
Picture: Here

Kisah ini kami dengar dari cerita orang-orang di kampung perihal pahitnya hubungan sebuah pernikahan, campur tangan seorang doktator dalam keluarga, hingga terpisah perhubungan suami dengan isteri, ayah dengan anaknya. Terjadi puluhan tahun nan silam di ranah rantau, kini kisah itu tinggal cerita yang diceritakan oleh orang-orang apabila ada kejadian serupa kembali berlaku. Memanglah demikian  hidup ini, berbagai kejadian kembali terulang dengan rupa yang agak berbeda, tempat dan waktu berlainan, dan menimpa orang-orang malang yang berbeda nasab.

Dahulu ada seorang perempua menikah dengan orang kampungnya yang hidup mencari untung penghidupan di rantau orang. Kalau kami tiada salah ialah pada salah satu kawasan di Negeri Jambi. Begitu menikah mereka tak langsung berkumpul melainkan sang suami terlebih dahulu berangkat kembali ke rantau. Sebab pekerjaan tiada dapat ditinggalkan berlama-lama, tiada berasap dapurnya nanti kalau terlalu lama ditinggalkan, bagaimana pula akan menghidupi isteri nan baru dinikahi itu.

Atas pengajaran beberapa orang kerabatnya, akhirnya sang isteri pergi menyusul sang suami ke Negeri Jambi. Alangkah senang hati sang suami mendapati isterinya datang, kalau diharapkan dirinya nan akan berulang pulang ke kampung maka akan payahlah ia mendapatkan waktu. Ditambah pada masa itu perhubungan (trasportasi, komunikasi) belum serupa sekarang yang serba mudah dan cepat. Belum ada telpon apalagi telpon genggam melain berkirim surat dan wesel saja, kendaraanpun amatlah payah serta jalannya buruk serta pada beberapa tempat tiada aman.

Maka hidup bercampurlah kedua laki-bini ini, hingga akhirnya sang isteri mengandung seorang anak. Betapa senang hati kedua laki-bini ini, bertambah giat sang suami bekerja demi masa depan anak dan isterinya itu. Bilangan bulanpun usai sudah, perut nan semakin membesar itu akhirnya sampai umurnya. Lahirlah anak perempuan nan sangat buruk[1] sekali, betapa bahagia kedua laki-bini ini. Keluarga di kampungpun bahagia pula, senang karena telah mendapatkan seorang cucu, apalagi cucu perempuan. Kedudukan Perempuan dalam masyarakat Minangkabau sangatlah tinggi, karena dari merekalah garis keturunan keluarga akan diteruskan, merekalah nan akan mewarisi harta pusaka, mereka pulalah sebagai pengobat luka dan penawar duka bagi keluarga mereka.

Apabila engku berkenalan dengan orang Minangakabau[2] maka akan acap terdengar oleh engku pertanyaan “Sudah beranakkah engkau?” kemudian pertanyaan itu akan dilanjutkan dengan “Berapa orangkkah perempuan?” lalu kalau ada dijawab memiliki anak perempuan maka mereka akan berujar “Syukur Alhamdulillah, beruntungnya engkau..”

Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian tibalah surat dari kampung, dari ayah si isteri. Entah apa isi surat itu namun telah mengguncangkan kehidupan keluarga kecil ini. Tiada nan tahu apa pula nan berlaku diantara laki-bini itu selepas membaca Surat Jahanam itu. Akhirnya si isteri memutuskan untuk pulang kampung bersama anak nan masih belum hilang merah kulitnya itu.

Entah apa nan berlaku diantara laki-bini ini, namun si suami sangatlah sedih, bercerai berai hatinya, tak kuasa ia menahan, tak kuasa ia mempertahankan, dan diapun bukan jenis laki-laki nan suka memaksakan kehendak. Ia akan dipisahkan dari isterinya, dan nan lebih menyakitkan ialah dipisahkan dari Sibiran Tulang[3] nan baru beberapa bulan lahir kedunia ini. Tiada daya pada dirinya, nan ada ialah kesumat nan perlahan-lahan lahir dan menguasai dirinya. Akhirnya Dendam tumbuh subur di hatinya.

Diantarkannya anak bininya ke terminal oto[4] untuk berangkat pulang, diantarkannya naik ke oto, dipastikan dapat tempat duduk nan nyaman. Setelah memberi nafkah terakhir, setelah memangku, mencium, dan memandang lama-lama anaknya itu ia berbalik. Air mata ditahan, terpantang bagi laki-laki memperlihatkan dan mengeluarkan air matanya di hadapan isterinya, anak perempuannya, apalagi di hadapan orang ramai. Dia berbalik jalan, tiada lagi memandang kebelakang dan kenangan itulah nan terpatri di kalbu sang isteri.

Selepas itu, mereka tiada lagi bersua, tiada berkirim surat ataupun kabar. Si Suami bak hilang di telan bumi. Telah diusahakan mencarinya namun tiada bersua lagi. Dia telah pindah entah kemana, kalau masih hidup dimanakah ia tinggal, kalau sudah meninggal dimana pekuburannya?

Bilangan tahun saling berganti, si anak tumbuh besar di kampung dengan hanya bermodalkan kasih sayang bunda dan keluarga besar ibunya. Kasih sayang kakeknya nan termat sayang padanya rupanya tiada dapat menggantikan kasih sayang seorang ayah yang tiada ia dapat. Sehebat apapun seorang laki-laki, dia tiada akan dapat menggantikan laki-laki lainnya dalam hal peranan dirinya dalam keluarga. Si Tua Bangka merasa dirinya hebat, berkuasa, dan menggenggam erat-erat anak dan isterinya, mereka tiada dapat membantah. Cucunya dibesarkan dengan cerita dusta perihal ayahnya dan sang cucu percaya, ikut membenci ayah nan tiada pernah diketahuinya serupa apa rupa laki-laki itu. Adapun ibunya, mendiamkan semua hal nan berlaku itu.

Setelah cukup umurnya, akhirnya si anak dinikahkan. Menjelang akad nikah rupanya dia masih berharap ayahnya akan bersua dan datang menikahkan dirinya. Entah apa nan ada di hatinya, kembali ia bertanya kepada ibunya perihal sang ayah. Perempuan dungu itu rupanya sudah tiada tahan, akibat keputusan nan diambilnya bertahun-tahun nan lampau ia kehilangan suami dan anaknya kehilangan ayah. Akhirnya diceritakanlah oleh perempuan dungu itu keadaan nan sebenarnya perihal kejadian bertahun-tahun nan lalu itu.

Alangkah geramnya si anak, murka lebih tepatnya. Dicarinya sang kakek, dikata-katainya, menjadi cucu durhaka ia masa itu. Pecah tangisnya, sesak dadanya, mengeliat perutnya apabila memandang kakeknya itu. Akhirnya ia tiada lagi menyilau-nyilau sang kakek, tiada hendak tahu dengan si kakek, dan hidup sendiri dengan keluarga kecilnya pula.

Demikianlah si Tua Bangka itu, disangkanya akan dapat menggenggam erat-erat seluruh anak, bini, serta cucunya rupanya tidak. Lupa dia kalau hati manusia itu sedalam lautan, tiada dapat diukur. Menguasai badan manusia itu mudah namun menguasai hati dan fikirannya bukanlah perkara mudah. Tenang pada lahir namun bergejolak pada bathin. Akhirnya ia dijauhi sang cucu, bahkan dibenci dan tiada hendak bersua lagi.

Demikianlah kisah nan kami dengar, entah telah bersua si anak dengan ayahnya entah belum? apakah masih hidup atau sudah meninggal? tiada nan mengetahui. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua..

_____________________________

Catatan Kaki:

[1] Bagi masyarakat Minangkabau sangat terpantang memuji dengan kata “cantik, tampan, elok rupa, rupawan, gagah, manis,” dan lain-lain jenis pujian. Melainkan digunakan kata “buruk” sebagai kata pujian kepada kanak-kanak. Maknanya ialah agar apabila gedang (dewasa) kelak mereka tiada menjadi orang nan sombong.

[2] Orang Minangkabau yang dibesarkan di Tanah Ibunya.

[3] Anak nan teramat dicintai

[4] Terminal Bus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s