Terlalu

Picture: Here
Picture: Here

Masjid masih lengang tatkala kami bersama dua orang kawan sampai disana. Hanya ada beberapa orang nan sedang bersiap-siap hendak pergi dengan motor mereka, beberapa orang tukang bangunan yang sedang bekerja membuat tempat wudhu baru bagi masjid ini, satu orang engku-engku nan tampaknya salah seorang pengurus masjid yang sedang duduk-duduk di bangku panjang di teras masjid. Di sebelahnya duduk seorang rangkayo yang langsung berseru tatkala kami bertiga sampai “Hei, kata rangkayo hendak memakai baju sama (seragam), tapi ini kenapa rangkayo berdua?!” beliau ialah Pegawai Gaek (Senior) di kantor kami dan kedua orang kawan perempuan kami ini telah berjanji akan memakai baju yang sama.

Rangkayo Wati telah lebih dahulu tiba dari kami rupanya, mungkin beliau nan pertama. Perempuan yang telah hampir berumur 60 tahun ini menjanda kurang lebih setahun nan silam dengan empat orang anak nan telah besar-besar. Nan bungsu baru saja tamat kuliahnya. Masih sehat, kuat, dan semangat pergi bekerja dan semangat pula datang ke Majelis Pernikahan induk semang kami ini. Ya, ini ialah pernikahan kedua induk semang kami di kantor. Telah cukup lama menduda akhirnya bersua jua dengan tambatan hati.

Belum ada nan datang, baru kami berempat. Sambil menanti kedatangan Si Marapulai dan kawan-kawan kantor maka berkisahlah Rangkayo Wati perihal pengalamannya barusan. Sungguh tiada habis fikir kami dengan orang sekarang selepas mendengar kisah beliau ini. Beginilah kisahnya:

Tatkala baru sampai di pekarangan masjid, awak disapa oleh seorang engku yang rupanya salah seorang pengurus masjid “Rangkayokah nan hendak menikah hari ini?” tanya si engku penasaran.

Terkejutlah awak dibuatnya, sungguh gemas hati ini mendengar si engku bertanya “Bukan engku, awak ini nan akan menghadiri pernikahannya..” jawab awak.

Kami nan mendengar kisah Rangkayo Wati gelak terbahak-bahak. Memang hari ini Rangkayo Wati beserta kedua orang kawan kami berencana memakai baju seragam kantor yang dibagikan menjelang hari raya besar[3] nan silam. Baju itu ialah baju kebaya, namun tampaknya kedua kawan kami menjadi surut semangatnya untuk memakai baju itu. Penyebabnya ialah kabar burung nan beredar selama ini kalau kami ialah anak buah kesayangan induk semang.

Maka jadilah Rangkayo Wati memakai baju kebaya seorang diri, geram ia agaknya namun disabar-sabarkannya jua hatinya nan kecewa itu “Tak mengapa, awak inikan sudah tua. Tak apalah awak seorang diri nan memakainya..” ujar Rangkyo Wati.

Setelah kedatangan kami maka beriringan datang beberapa orang kawan kantor, dan kemudian baru Si Marapulai[1] beserta keluarga datang. Tatkala beru keluar dari oto[2]nya, kawan-kawan kantor ramai menggoda “Ah, gagah engku ini. Kalah awak..” ujar salah seorang kawan laki-laki sambil tertawa. Nan lainpun tak hendak kalah, ikut pula menimpali dengan berbagai macam gurauan nan membuat kikuk Si Marapulai.

______________________

Catatan Kaki:

[1] Mempelai Pria

[2] Mobil

[3] Idul Fitri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s