Pusing Tujuh Keliling

Picture: Here
Picture: Here

Vertigo berasal dari bahasa Yunani yang berarti Pusing Tujuh Keliling, ialah sejenis penyakit (sebagian lagi hanya menyebut gejala) dimana si sakit akan mengalami perasaan berputar atau melayang yang terjadi secara tiba-tiba.  Penyakit ini sering diawali dengan gejala hendak muntah, sakit kepala, dan ketidak mampuan menjaga keseimbangan badan.[1] Penyakit ini rupanya nan diderita oleh kawan kami Katik Rajo Agam tatkala kepalanya pening selepas Jum’at beberapa pekan nan silam. Ketika itu, tabib nan memeriksa dirinya di ruang gawat darurat belum menyatakan ia terkena penyakit itu. Penyakit Vertigo ini diketahuinya setelah ia memeriksakan diri kepada tabib keluarga.

Lebih satu pekan kawan kami ini istirahat tak masuk kantor, tampaknya Vertigo nan dialaminya merupakan nan parah. Pernah sekali dikeraskannya hatinya untuk masuk jua ke kantor, namun terpaksa kembali pulang karena peningnya kembali datang menyerang. Demikian pula hari ini, dia merasa sudah cukup sehat namun tatkala sedang berwudhu hendak menunaikan sembahyang Zuhur kembali pusing kepalanya. Setelah kami bawa makan tengah hari, akhirnya dia menyerah. Setelah bersitegang akhirnya ia bersedia diantar oleh kami.

Menurut laman nan kami baca, penyebab penyakit ini bermacam ragam, diantaranya ialah karena virus, penurunan aliran darah ke otak,  luka berat (trauma) kepala,  berkurangnya aliran darah (iskemia) sementara karena obat-obatan atau tuak (alkohol), sakit kepala sebelah, serta penyakit sawan (epilepsi).[2] Kami sangat mengkhawatirkan karena kawan kami ini semasa bujang pernah mengalami kemalangan di labuh raya di bandar kami sehingga menyebabkan ia dirawat di rumah sakit agak beberapa hari. Kalau tiada salah kepala dan pinggangnyalah nan parah kena langgar.

Namun perkiraan kami penyebabnya selain karena pernah luka berat di kepala ialah karena tekanan jiwa (stress). Sebab masalah nan satu ini terkadang hanyalah satu-satunya penyebab dari penyakit Vertigo ini.[3] Dan kawan kami ini tampaknya sedang berada dalam tekanan jiwa tersebut. Sebagai seorang lelaki bebannya sangatlah berat, hingga kini belum mendapat amanah seorang anakpun, isterinyapun sedang sakit pula, ditambah ia yang merupakan seorang piatu[4].

Kawan kami ini merupakan anak sulung dari lima orang bersaudara, tentulah berat beban nan mesti dipikulnya sebagai anak tertua. Ditambah lagi kata orang tua-tua di kampung kami bahwa jiwa anak lelaki itu terikat dengan ibunya. Kami faham dan menyadari hal itu karena sama-sama anak sulung pula. Dari lima bersaudara hanya ada satu anak perempuan yakni si bungsu yang saat ini sedang duduk di tahun kedua kuliahnya. Bagi masyarakat Minangkabau, memiliki satu dan hanya satu-satunya anak perempuan dalam keluarga amatlah beratnya. Karena garis keturunan keluarga berada di tangan dia. Dan lagi agama kita telah mengingatkan “Baik buruknya suatu bangsa ditentukan oleh perempuannya. Baik perempuannya maka baik pula bangsa itu, apabila sebaliknya buruk, maka buruk pula ia..” demikian pula dengan sebuah keluarga, perempuanlah penentunya.

Kini, agaknya ada masalah nan sedang dihadapinya dengan adik bungsungnya ini. Semasa gadis kecil ia telah ditinggalkan oleh ibunya, tentulah kehilangan pegangan ia sebagai seorang anak dan kehilangan contoh panutan ia sebagai seorang perempuan. Kini kuliahnya sedang tergaduh, entah apa penyebabnya dan hal tersebut menjadi beban fikiran bagi kawan kami ini. Adik perempuan satu-satunya, kembanggaan serta kehormatan keluarga.

Kami tiada hendak menyelidiki lebih dalam, takut menyirami cuka di hatinya nan tengah luka itu. Tiada kami bahas melainkan menanyakan perkara nan lain saja. Sebenarnya masih ada satu lagi beban fikirannya namun tiada dapat kami ungkapkan disini, tiada perlu dan patut. Sebab dimana-mana permasalahan nan di hadapi kawan kami ini sebagai seorang lelaki dan suami dihadapi oleh lelaki dan suami lainnya, hanya rupa saja nan berlainan. Kami do’akan semoga sabar dan tabah ia.

Faham betul kami betapa berartinya peranan seorang ibu dalam kehidupan seorang lelaki. Walau telah berbini namun tetap ia membutuhkan kehadiran seorang ibu. Apakah sebagai tempat mengadu berkeluh-kesah atau sekadar tempat bersandar. Terkadang bagi seorang lelaki cukup dengan melihat dan bersua dengan sang bunda saja sudah memberikan kekuatan baginya untuk menghadapi ganasnya pertarungan di rimba kehidupan ini. Dan kawan kami ini sedang kehilangan tempat untuk bersandar, segala permasalahan dipendam dan diterimanya seorang diri.

Sabar kawan, salut awak, awak do’akan berjaya jualah engkau..

________________________

Catatan Kaki:

[1] Silahkan baca lebih lanjut di alodokter.com dan wikipedia.com

[2] Silahkan baca penyakitvertigo.com pada paragraf 1 (satu)

[3] ibid paragraf 2 (dua)

[4] Kematian ibu, Yatim: kematian ayah. Yatim-piatu: kematian ayah-ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s