Terusir

Picture: Here
Picture: Here

Tiada jemu kami membaca roman-roman karangan Buya Hamka, ada-ada saja kisah nan akan beliau karang guna menjadi pelajaran bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Bahasa nan beliau pakai sungguh sangat menawan, karena beliaulah kami berkeinginan hendak melestarikan bahasa nan telah berangsur-angsur ditinggalkan oleh orang pada zaman sekarang.

Terusir, ialah salah satu roman karangan Buya Hamka. Meangkat keadaan kehidupan orang Melayu di Negeri Medan pada tahun 1930-an dimana Belanda masih berkuasa di negeri ini. Roman ini mengisahkan kehidupan seorang perempuan, Mariah namanya, nan difitnah berlaku curang terhadap suaminya. Hidup menumpang pada Pakciknya di Bandar Medan namun hanya beberapa saat lamanya. Maklumlah orang menumpang dianggap menambah beban, apalagi seorang perempuan nan memiliki rupa cantik jelita. Isteri Pakciknya memfitnah dirinya memaling tusuk konde yang terbuat dari emas.

Nasib mengantarkannya menjadi Orang Gajian[1] di rumah seorang Belanda. Terobati hatinya disana karena induk semangnya memiliki dua orang anak yang diasuh dan dipeliharanya. Acap termenung ia karena teringat dengan Si Buyuang yang ditinggalkannya tengah malam tatkala diusir dari rumah lakinya. Kemudian induk semangnya pindah ke Jakarta, ia bersama Tukang Kebun dibawa serta. Tak berapa lama di Jakarta induk semangnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya Negeri Belanda. 

Disinilah babak baru dari kisah perasaiannya dibuka kembali. Termakan bujuk rayu si Tukang Kebun maka Mariah nan Jelita itu bersedia dinikahi. Namun dasar orang tak tahu diuntung, Si Tukang Kebun hanya memanfaatkan emas simpanan Mariah. Akhirnya merekapun bercerai karena Mariah tiada tahan lagi dengan kehidupan rumah tangganya nan kedua itu, untung tak mendapat anak mereka itu.

Karena kurangnya pendidikan agama nan ada pada dirinya akhirnya ia terjerumus ke dalam lembah dunia hitam. Menjadi kupu-kupu malam ia yang terus dilakoninya sampai umur membuat dirinya tiada laku lagi. Di hari tuanya itulah ia bersua dengan anaknya nan telah Jadi Orang. Betapa pilu hatinya melihat sang anak nan telah jadi orang itu, gagah rupanya, dan telah bertunangan dengan gadis nan jelita pula. Ditahannya hati nan merintih itu, tiada hendak ia mengungkapkan diri ke hadapan anak nan semenjak kecil tiada pernah dapat ia pangku, cium, dan manjakan. Kehidupan mereka ibaratkan bumi dengan langit, takut ia keburukanlah nan akan menimpa anaknya apabila ia memaksakan diri.

Dan babak terakhir dari perasaian hidupnyapun telah sampai. Ia membunuh seorang lelaki yang menjadi langganan di Rumah Hina[2] tempat ia tinggal. Si lelaki yang bernama Wirya rupanya berniat mencelakakan Biji Matanya[3], tiada hendak ia. Lelaki laknat itu ditikamnya sampai mati. Telah redha ia, telah pasrah ia akan nasib, tiada menolak apalagi melawan tatkala ditangkap. Semua perbuatan diakuinya.

Namun pihak pengadilan justeru mengirim anaknya nan telah menjadi pengacara itu untuk membela dirinya. Lunak segala persendiannya terasa, tiada sanggup ia memandangi anak nan selama ini dipandanginya dari jauh saja. Dirindukan, disebut-sebut namanya, dan teramat dicintainya itu. Kepada anaknya nan tiada tahu kalau perempuan nan hendak dibelanya itu ialah ibu kandungnya ia menolak mengungkapkan alasan pembunuhan. Melainkan hanya menyebut untuk melindungi orang yang sangat ia cintai. Demikian juga tatkala di hadapan ke muka pengadilan, ia tetap mengunci rapat mulutnya.

Di pengadilan Mariah bersua kembali dengan mantan suaminya. Dimana sang suami diminta oleh anaknya untuk hadir di persidangan pertamanya karena hasil persidangan ini akan menentukan apakah jalan nan akan ditempuhnya akan mulus atau justeru tersendat. Tatkala mereka bertatap mata, sakit nan dirasakannya semakin menjadi. Belum dapat dimaafkannya laki-laki nan memisahkan dirinya dengan jantung hatinya itu.

Sebagai penutup bab terakhir perasaian hidupnya, karena tiada sanggup lagi menahan beban di hatinya itu mariah mulai terserang penyakit. Badannya menggigil dan akhirnya ia meninggal tatkala menanti keputusan sidang dirinya. Nasib baik agak sedikit masih berbelas kasih kepada dirinya, disaat terakhir hidupnya itu ia akhirnya dapat memeluk dan menciumi kening anaknya itu.

Demikianlah kisah nan mengharukan dan memilukan itu engku, rangkayo, serta encik sekalian. Kini kami hendak bertanya: Bagaimana kalau kisah itu kita balik, nan menjadi Mariah ialah suaminya, seorang laki-laki. Bagaimana kiranya pendapat engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Jangan menolak dahulu, masa sekarang yang kata orang zaman moderen itu ialah Zaman Terbalik. Kesemua perkara menjadi terbalik. Banyak nan terpantang menjadi boleh, tak lazim menjadi lazim. Banyak perempuan nan menceraikan lakinya dari anak-anaknya, banyak jua nan mengusir suaminya, atau bahkan membunuh suaminya.

Banyak laki-laki yang terusir keluar dari rumah isterinya, tiada dapat lagi bersua dengan Sibiran Tulang[5]. Menahan perih di hati, membawanya dalam setiap tarikan nafasnya dalam keseharian. Banyak kejadian serupa itu, banyak berlaku seorang ayah dipisahkan dari anaknya, tak hanya oleh isterinya melainkan nan memisahkan itu ialah orang tua isterinya (mertua).

Katakan engku, rangkayo, serta encik sekalian; tak kalah jahanamkan dengan kisah Si Mariah nan dikisahkan oleh Buya Hamka?

___________________________

Catatan Kaki:

[1] Sangat menarik mengetahui dari roman ini kalau kata Orang Gajianlah yang dipakai untuk menyebutkan Pembantu Rumah Tangga. Kata Orang Gajian pada masa sekarang merujuk pada pegawai kantoran. Marilah kita tengok perubahan kata dengan makna yang sama dari masa ke masa di negeri kita: Orang Gajian – Babu – Pembantu – Pembantu Rumah Tangga – Asisten Rumah Tangga. Manakah nan engku, rangkayo, serta encik suka menggunakannya? Kami sendiri lebih suka menggunakan kata Orang Gajian, lebih terhormat dari pada julukan Asisten Rumah Tangga. Bahasa asli kita, bukan bahasa orang nan kita ambil lalu kita campurkan dengan bahasa kita.

[2] Rumah Bordir, sekali lagi kami suka dengan istilah ini, lebih tajam dan menusuk. Adapun dengan Rumah Bordir kami tiada suka, bukankah “bordir” itu sejenis seni keindahan dalam menghiasi pakaian. Entah kenapa julukan itu nan dipakai..!

[3] Anak Tersayang

[4] Anak kandung, sibiran tulang. Anak tersayang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s