Selmat Hari Raya Idul Adha 1437/2016

Picture: Here
Picture: Here

Hujan sedari subuh menyambut pagi di hari ke sepuluh di bulan Zulhijjah tahun ini, udara nan telah dingin di kampung kami bertambah dingin, menggoda untuk kembali membawa kami ke alam mimpi. Dapur bunda telah mengeluarkan bunyi khasnya, suara ayah terdengar satu-dua nan membuat heran ialah tiadanya terdengar suara kedua adik kami. “Takkan hendak shalat hari rayakah mereka?” tanya kami dalam hati.

Adapun dengan kami, dengan udara dan sedingin es ini, ditambah hujan nan tiada hendak usai mulai dihinggap ragu. Namun tatkala bersin berantai datang menyapa kami, hidung nan mulai tersumbat dan berair, maka bulatlah tekad kami untuk tak pergi shalat hari raya. Sungguh tiada patut untuk ditiru..

Sebenarnya kedua alasan ini hanyalah alasan yang muncul tiba-tiba. Alasan sebenarnya sudah tiba semenjak kemarin, semenjak bunda memberi tahu perihal waktu pelaksanaan Shalat Hari Raya yang memang tidak mengikat serupa shalat lima waktu. Beberapa bulan sebelum hari raya ini telah dibentuk pengurus baru untuk Masjid Jami’ di kampung kami. Adalah pengurus baru ini tampaknya sedang hangat-hangatnya bekerja, mereka mengumumkan bahwa Shalat Hari Raya tahun 1437 ini akan ditunaikan pada pukul tujuh pagi. Terkejar-kejarlah awak ini dibuatnya di hari sepagi itu.

Hanya dua jam selepas Shalat Subuh maka diselenggarakanlah shalat hari raya, ini nan pertama kalinya di kampung kami shala hari raya ditunaikan secepat ini. Dipagi di bulan September, di musim penghujan ini “Mungkin karena orang hendak membantai[1], makanya cepat ditunaikan..” jawab bunda.

Hujan tiada juga hendak teduh, ayah telah berangkat dahulu menggunakan onda[2]. Tiada hendak menanti bunda nan sedang mandi, mungkin karena terlalu lama namun hati kami berkata “Mungkin ayah-bunda engkau segan naik onda berdua dilihat orang kampung..” memang demikian adat di negeri kami pada masa dahulu. Sangat terpantang bagi laki-bini memperlihatkan kemesraan di hadapan orang ramai. Sesuai dengan ajaran Syari’at Islam, kemesraan diantara laki-bini hendaknya diperlihatkan di dalam bilik mereka saja.

Pengajaran serupa itulah nan tiada pada masa sekarang, kebanyakan orang-orang di zaman kini gemar mempertontokan kemesraan di hadapan orang ramai. Bangga mereka, tanda rumah tengga mereka rukun dan bahagia. Bahkan tak jarang mereka merekam gambar mereka berdua dan memperlihatkan kepada orang banyak di jejaring sosial milik mereka di Ranah Maya. Tiada malu, sebaliknya bangga sangat.

Karena hujan masih turun walaupun tiada lebat ditambah hari nan dingin membalut tulang maka kami putuskan untuk mengantar bunda ke masjid. Bunda tiada menolak melainkan langsung mengamini, tanda bunda mengharapkan tawaran itu. Tak ramai betul orang di jalan nan berselisih dengan kami, lengang. Selepas mengantar bunda kami berkeliling kampung dahulu, telah lama kami tak berpesiar melihat-lihat keadaan kampung. Sungguh indah dan nikmat, walau alam agak murung namun kecantikannya memiliki daya pikat tersendiri. Demikianlah kampung kami.

Perkiraan kami, di pasar di bandar kami kedai-kedai hanya sedikit yang tutup. Pengalaman hari raya besar[3] beberapa bulan nan lalu, para pedagang tetap membuka kedai mereka karena di cuti hari raya itulah orang ramai datang berkunjung. Namun perkiraan kami meleset jauh.

Disepanjang jalan menuju ke bandar jalanan lengang, kedai-kedai di kampung-kampung nan kami lalui tutup semua. Padahal sudah menjelang tengah hari walau awan mendung dan udara dingin masih tetap serupa pagi tadi. Tiba di bandar, jalanan di bandar rupanya tak seramai perkiraan kami, tiada macet, tiada kendaraan nan berjalan lambat. Bahkan di kawasan serupa Pasa Ateh dan Aua Kuniangpun kedai-kedai banyak yang tutup.

Berjalan berkeliling, berpesiar di Hari Raya ini menimbulkan kesan tersendiri bagi kami. Senang hati kami karena banyak orang lebih memilih menunaikan Ibadah Qurban. Nikmat rasanya di jalan karena lengang dimana hal tersebut sesuatu nan langka bagi kami.

Hingga petang matahari masih enggan memperlihatkan wujudnya kepada kami penduduk di Agam Tua,[4] udara dingin masih melingkupi negeri kami. Tak perlu memakai pendingin udara karena udara sudah dingin, bahkan lebih dingin dari pada udara yang dihasilkan oleh pendingin udara. Bahkan teh nan kami biarkan agak beberapa menit tak disentuhpun akan dingin serupa keluar dari lemari es (kulkas).

Selamat berhari raya engku, rangkayo, serta encik sekalian..

______________________

Catatan Kaki:

[1] Menyembelih hewan Qurban

[2] Motor

[3] Idul Fitri

[4] Luhak Agam terbagi dua yakni Agam Baruah yakni wilayah dibawah Kelok Ampek Puluah Ampek seperti Maninjau, Lubuak Basuang, dan sekitarnya. Agam Tua yakni wilayah Kabupaten Agam yang berada di antara Gunung Marapi dan Singgalang atau pada masa sekarang lebih dikenal dengan Agam Timur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s