Mengendap-ngendap

Picture: Here
Picture: Here

Kalau di bilik kami ini ada Doraemon sudah kami minta ia membawa kami naik mesin waktu ke masa kanak-kanak. Itulah nan pertama terifkirkan oleh kami namun kami kenang-kenang kembali kalau mesin itu akan membawa raga kita ke masa lalu dengan tubuh orang dewasa ini. Nan kami hendak ialah kembali ke masa kanak-kanak dengan badan anak kecil. Adakah alat serupa itu duhai Doraemon?

Telah miring otak kami ini agaknya..

Kembali ke masa kanak-kanak ialah salah satu impian orang dewasa, tiada nan mesti dicemaskan dan ditakutkan kecuali mesti balik ke rumah sebelum magrib kalau tidak akan kena marah oleh bunda. Mesti masuk sekolah esok hari dengan Pekerjaan Rumah sudah sedia dan dikumpulkan kepada guru. Mesti menahan diri tatkala guru nan teramat dibenci tagak mengajar di kelas. Menghindari kawan nan serupa Si Takeshi (Giant) nan suka menindas anak nan dipandangnya lemah. Dan lain sebagainya..

Bermain dan bermain, itulah kerja kanak-kanak. Berlari-lari, berkejar-kejaran, masuk perak – keluar perak,[1] diburu orang dewasa, gelak-gelak keras-keras, dan bersiap kena pukul dengan penggaris apabila ketahuan kemarin berbuat gaduh. Baju kumuh, berbau peluh, kusut, dan sama sekalit tiada sedap dipandang. Sampai di rumah kena marah karena bunda pening sebab kain nan hendak dicuci semakin bertambah. Si buyung ini hanya pandai mengumuhkan tanpa pandai membersihkan.

Berlari berkejaran meninggalkan segala susah nan terasa, berpacu dengan kawan-kawan sambil gelak keras-keras, sembunyi dan mengendap menghilang dari pandangan orang dewasa. Dalam hati hanya ada kesenangan belaka, bebas dan merdeka itulah nan terasa. Satu-satunya penjajahan ialah sekolah, pe-er, dan encik guru bermulut tajam serta Si Takeshi nan jahanam.

Kini para Takeshi itu telah berjaya menjadi pecundang, kekuatan badan mereka tiada sanggup menahan kekuatan alam. Alam lebih kuat dari mereka, itulah nan tiada mereka ketahui dan sadari. Kalaupun ada nan berjaya mereka tiada lebih serupa nan dikatakan oleh Buya Hamka; agama tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, ilmu tanpa agama bagaikan lentera di tangan pencuri.

Astagfirullah.., usahlah kita bahas mereka itu, marilah kita bersenang-senang.

Paculah lari engkau kawan, akan aku kejar dan lampaui engkau. Larilah yang kencang kawan, ke atas bukit itu, ke atas tebing itu. Awas, jangan sampai engkau jatuh. Berlari di pematang sawah memanglah mengasyikkan namun apabila engkau terjatuh maka engkau akan bergulimang lunau[2]. Siap-siap saja engkau digigit lintah apabila sudah masuk sawah, awak tiada hendak ikut menolong. Tiada berani awak kepada lintah, alih-alih badan awak ini nan dilubangi dan dihisap darahnya.

Hei kawan, jangan engkau pakai terompah[3] sambil berlari, nanti engkau jatuh tersungkur atau kalau tidak terompah engkau itu putus talinya. Hei, hendak engkau kejar awak rupanya, tiada dapat.

“Hoooooiii..”

Ah, jahanam telah dahulu ia sampai di atas tebing itu. Terlalu banyak bercakap awak ini.

Sungguh indah pemandangan dari atas tebing itu, padi nan sedang menghijau ini serupa permadani nan sangat indah. Angin nan bertiup agak kencang itu sungguh nikmat, masih bersih, belum ada polusi.

Gelak-gelak, kejar-kejaran dan kemudian duduk-duduk memandangi keindahan kampung kita. Tengoklah disana! ayah siapakah nan masih di sawah itu. Hei, tengok pula itu, kerbau sedang bermain lunau di dalam sawah. Eh, itik siapa pula nan hendak pulang ini, sungguh banyak itiknya.

Ah, esok mesti bersekolah lagi, pe-er belum lagi dibuat, esok pasti dapat jatah rol dipunggung tangan.

__________________

Catatan Kaki:

[1] Kebun

[2] Lumpur

[3] Sandal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s