Kisah Si Tukang Goda

Picture: Here

“Pening kepala awak engku..” seru kawan kami Katik Rajo Agam tatkala bersua baru keluar dari masjid lepas Jum’at ini. Kawan kami ini memang selalu lebih dahulu keluar, mungkin dia shalatnya selalu dekat pintu keluar sehingga selalu lebih cepat sampai di halaman. Selain itu dia juga tiada pernah menanti kami, berlalu lebih dahulu menuju kantor. Demikianlah tabi’at kawan kami nan seorang ini, sangat berlainan dengan hari ini, apakah karena cuaca mulai mendung pertanda hendak hujan?

Dengan tersenyum jahil kamipun menjawab “Sama awak engku, pening pula kepala ini haa..” raut wajah kawan kami nan sungguh-sungguh itu tiada berubah “Bagaimana engku, makan awak lagi..” sambung kami sambil gelak-gelak[1] kecil.

Katik Rajo Agam masih berwajah serupa tadi, keningnya mengerenyit, tiada satupun senyum terulas di wajahnya, senyum nan tiba-tiba munculpun tidak. Demikianlah ia apabila sedang bergurau menggoda kami. Beriringan dengan kami mengekor kawan satu kantor kami nan lain St. Rajo Basa.

“Engku, pening awak ini..” ujarnya kepada St. Rajo Basa, kawan kami inipun tersenyum pula, faham ia sebab Katik Rajo Agam merupakan Tukang Goda di kantor kami.

“Iya, sama awak..” jawab St. Rajo Basa sambil ternyum kepada Katik Rajo Agam.

“Duduk awak tadi shalatnya engku..” ujar Katik Rajo Agam kepada kami berdua

Segera kami sambut “Ah.. samalah, awakpun duduk pula shalatnya tadi..” tentulah demikian sebab gerakan shalat itu tak hanya berdiri saja melainkan ada rukuk dan sujud.

“Sungguh, duduk awak tadi. Pening awak tatkala imam membaca surah Al Fatihah..” kisah St. Rajo Agam “Terkenang diawak, engku ada di arah kanan awak, St. Rajo Basa di arah kiri sedangkan di belakang ada engku St. Majo Indo..”

Kami berdua dengan St. Rajo Basa mendengar kisah Katik Rajo Agam, kami masih belum percaya. Sampai akhirnya sampai di kantor semua orang ribut mendengar kawan kami ini pening tatkala sedang shalat Jum’at. Ada yang menyarankan untuk makan dahulu karena sedari pagi ia tiada makan, ada pula nan menyarankan untuk langsung dibawa ke rumah sakit. St. Rajo Basa termasuk nan berkehendak agar kawan kami ini dibawa ke rumah sakit, kamipun mengamini.

Di Ruangan Gawat Darurat kawan kami ini diperiksa oleh seorang perawat dan kemudian setelah itu baru seorang tabib[1] perempuan yang tampaknya tengah hamil memeriksa kawan kami ini. Tabib bertanya apakah kawan kami ini memiliki riwayat penyakit besar (kronis) atau tiddak, selepas itu tabib menyarankan agar gula darah Katik Rajo Agam untuk diperiksa.

Ternyata gula darahnya rendah yakni 75, saat ditelpon oleh induk semang kami guna menanyakan perkembangan pemeriksaan Katik Rajo Agam, induk semang kami ini bertanya “Kalau 75 rendah, berapakah nan biasanya (normal)?” kamipun tertegun “Lupa menanyakan kepada perawat engku..”

Demikianlah, disarankan oleh dokter agar kawan kami ini diberi teh manis “Banyakkan saja gulanya engku..” kata dokter. Kebetulan di hadapan ada lepau tempat makan. Selepas itu kami diberi resep untuk ditebus, cemas juga kami karena biasanya ramai orang di tempat penjual obat di rumah sakit ini, rupanya tidak.

Keluar dari rumah sakit kami langsung menuju lepau yang terletak di hadapan, St. Rajo Basa tiada ikut makan. Berdua kami hanya menertawakan Katik Rajo Agam yang tak dinyana pening kepalanya tatkala sedang shalat Jum’at. Setelah kami antarkan ke rumah isterinya barulah kami dapatkan kisah menyeluruh perihal pening kepala Katik Rajo Agam ini.

Ia mengisahkan kalau sebelumnya tiada tanda-tanda, memang sedari pagi ia tiada makan. Tatkala sedang khutbahpun ia masih sempat khusyuk mendengark khatib berkuhutbah. Namun barulah tatkala shalat, tatkala imam membaca surah Al Fatihah pening itu datang menyerang “Serupa tipi rusak pandangan awak itu engku..” kisahnya. Kami nan mendengar hanya tergelak saja.

Macam-macamlah fikiran kawan kami ini “Sampai disinikah umur awak ini? terkenang oleh awak ketiga kawan nan berada dalam masjid. Begitu pening awak langsung duduk dan awak tekan-tekan lutut apakah ada terasa. Tatkala duduk itu, wajah engku St. Majo Indo yang berada di belakang itulah nan terbayang?” kisahnya mengundang tawa kami semua nan mendengarnya.

“Sedang tersenyum, muram, sedih, atau marahkan engku St. Majo Indon itu engku?” tanya kami menggoda..

“Tak, biasa saja wajahnya ..” jawab kawan kami ini.

St. Rajo Basa memberi nasehat “Dua hari ke hadapan engku mancilok[3] sajalah kerjanya ya..” Katik Rajo Agam terpana mendengarnya. Dilanjutkan oleh St. Rajo Basa “Makan, cirik, lalok..

Kami nan mendengar hanya tertawa saja..

_______________________________

Catatan Kaki:

[1] Tertawa

[2] Dokter

[3] Mencuri, namun dalam hal ini ialah akronim dari makan, cirik (buang hajat), lalok (tidur)

Advertisements

One thought on “Kisah Si Tukang Goda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s