Segan nan telah hilang

Picture: Here

“Manusia itu ialah makhluk yang khas (unik), setiap orang menunjukkan perilaku (fenomena) nan berlainan dalam perhubungannya dengan manusia lainnya dalam hidup bermasyarakat..” demikianlah kata dosen kami nan entah siapa namanya pada masa kami berkuliah dahulu “Setiap kejadian yang ditimbulkan sangat menarik untuk diperhatikan dan diteliti, engku-engku serta encik-encik dapat membuat sebuah kajian untuk itu..” lanjut dosen kami ini. Saat itu dosen kami ini begitu yakin bahwa kami para mahasiswanya telah pandai dan faham dengan pelajaran nan diberikannya.

Kenyataannya “Hoi kawan, tolonglah engkau lebihkan tugas dari engku dosen untuk awak agak satu rangkap. ” bujuk seorang kawan kepada kawan kami nan dianggap paling pandai di kelas “Pandai-pandai engkau saja mengubahnya kawan, nanti makan tengah hari untuk engkau awak selesaikan (traktir)”

Demikianlah nan berlaku, dan perilaku kawan kami nan seorang itu juga patut untuk diamati, diteliti, dan dibuat kajiannya. Tentulah akan sangat menarik sekali dan kami yakin engku dosen tentulah akan senang dan memuji kerja kami itu. Tugas mahasiswa bagus, serta seorang mahasiswa tukang tipu berhasil ditangkap hidup-hidup.

Tapi, kami urungkan, lebih besar mudharat dari pada manfaat bagi kelangsungan hidup kami di kampus..

Kini, disaat pagi menjelang tengah hari, disaat angin sudah tak segarang dua hari nan lalu, namun tetap kencang membuat cemas. Kini, kami sedang duduk membaca sebuah kiriman dari Jakarta untuk diperiksa, induk semang kami di hadapan kami, bukan mengawasi kami bekerja melainkan sibuk mengirimkan berkas yang ada di hapenya ke hape kami. Kini, ialah hari Sabtu, selamat bekerja engku-engku..

Tatkala tengah asik-asik kami memeriksa berkas tersebut, tiba-tiba seorang engku-engku nan entah dari mana asal muasalnya “Engku, adakah Si Andomo?” tanyanya kepada induk semang kami nan duduk menghadap ke halaman, adapun duduk kami membelakangi halaman. Nan ditanyanya ialah salah seorang kawan kami nan mendapat jatah piket malam.

“Masuk malam ia, ada apa engku mencarinya?” tanya induk semang kami terkejut.

“Ah tidak engku..” jawab si engku pura-pura segan “Si Andomo meminta kami membuatkan ia pisau untuk dipakai ketika Hari Raya Kurban nanti..”

“Engku cobalah menelpon Si Andomo itu..” usul induk semang kami

“Tak tahu awak nomor Si Andomo itu engku..” jawab si engku lagi

Induk semang kami meraih kembali hapenya “Ini kami carikan untuk engku nomor Si Andomo itu..” seru Induk semang kami.

Si engku bergegas masuk, melepas sepatunya, dan duduk dengan canggung di sebelah kami. Di tangannya ada sebuah bungkusan dalam plastik asoi[1]. Tatkala induk semang kami hendak memberikan nomor, si engku ini menjawab dengan nada yang direndahkan dan dibuat-buat “Onde, awak tak pula ada berpulsa engku. Engku pinjami sajalah kami hape engku untuk menelpon Si Andomo itu..”

Kami terkejut namun pura-pura asyik bekerja, induk semang kami demikian pula namun cepat ia mengatasi rasa terkejutnya itu “Awak tak pula berpulsa, engku catat sajalah nomor si Andomo itu..” jawab induk semang kami.

Si engku memberikan alasan bermacam-macam, dan ujungnya ialah “Biarlah awak datang saja nanti engku..” katanya. Induk semang kami mengamini dan segeralah ia berlalu.

Kami tersenyum-senyum simpul “Apa nan engkau senyumkan?” tanya induk semang kami.

“Tiada engku, heran saja awak melihat orang itu. Kenapa sampai ada orang serupa itu dalam masyarakat kita nan katanya mementingkan raso jo pareso ini engku?” jawab kami sambil tersenyum.

Induk semang kami inipun tersenyum “Kita tentu dapat melihat dari asal usulnya engku, dari mana ia berasal, dari kalangan dan keluarga seperti apa, sampai dimana tingkat pendidikannya, dan dengan siapa dia bergaul?” terang induk semang kami.

Dalam hati kami terkejut, terkenang dengan tugas nan diberikan oleh dosen kami nan sangat percaya diri itu semasa berkuliah. Si engku nan tak berasal-muasal itu patut untuk diteliti dan dikaji, baik dari sudut pandang kehidupan bermasyarakat (sosial) maupun dari segi kejiwaan (psikologis).

“Kata engku tadi nan terakhir, lihat dengan siapa dia bergaul, berarti Si Andomo itu..?” lisan kami tergantung dan dipotong oleh induk semang kami.

“Tahu sajalah engku bagaimana, tak engku lihat selama ini bagaimana tabi’at dan tingkah lakunya..?” tanya induk semang kami sambil tersenyum “Ular Gedang..”

__________________________________________________

[1] Kantong Kresek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s