Mandi di Batang Aia

Picture Source: Here

Dahulu kami acap mendapat cerita dari orang tua-tua bahwasanya dimasa mereka muda dan kanak-kanak mereka semua mandi di batang aia (sungai), bagi kampung-kampung nan tidak memiliki batang aia atau jauh dari batang aia maka biasanya mereka akan mandi di luak (sumur) ataupun tabek (kolam ikan). Luak ini ada yang dimiliki oleh kampung namun ada jua yang dimiliki oleh penduduk. Bagi luak yang dimiliki kampung maka semua orang tentulah dibebaskan mandi disana demikian juga bagi nan dimiliki oleh penduduk, mereka meikhlaskan orang kampung menggunakan luak mereka sesuka mereka.

Adapun dengan tabek demikian juga, ada nan dimiliki oleh kampung namun ada jua yang dimiliki oleh penduduk. Sama-sama dibebaskan sesukanya bagi orang-orang nan hendak mandi ataupun mencuci pakaian serta peralatan dapur mereka. Demikianlah kehidupan orang dahulu yang penuh dengan nuansa kekeluargaan, tiada mendahulukan kepentingan pribadi melainkan mempertenggangkan kepentingan orang sekampung. Zaman dahulu juga tidak ada orang nan berfikir dari sudut pandang uang, berlainan dengan zaman sekarang dimana uang menjadi takaran bagi segala sesuatunya. Kata beberapa orang tua “Entah menuju kemajuan atau justeru kemunduran kehidupan orang zaman sekarang..”

Ingatan kami akan kisah nan pernah kami dapatkan semasa kanak-kanak, remaja, dan bujang itu kembali mengendap tatkala kawan kami Katik Rajo Agam mengisahkan pengalamannya semenjak beberapa hari ini. Pagi ini, tatkala duduk berkelam-kelam dalam kantor karena mati lampu dan ruangan tempat kerja kami jauh pula dari jendela serta terhalangi pula oleh sebuah lemari berkas yang cukup besar, Katik Rajo Agam datang meminjam pematik lalu dia duduk “Bagaimanakah keadaan di kampung engku? Adakah mati lampu?” tanyanya sambil menghisap rokok yang baru saja disulutnya.

“Semalam mati sebentar, kemudian dilanjutkan pada pagi harinya menjelang subuh engku..” jawab kami “Memanglah pada musim angin kencang ini banyak prahara nan muncul. Pohon rebah (tumbang) mengenai kabel listrik dan akibatnya, matilah listrik itu..” lanjut kami.

“Itulah engku, di kampung isteri awak semenjak kemarin pagi mati lampu lagi, hingga kini tiada hidup-hidup ia..” kisah Katik Rajo Agam “Akibatnya air tiada dapat dinaikkan sehingga tiada mengalir ke rumah-rumah penduduk..”

Tampaknya kampung isteri kawan kami ini sudah menggunakan Air Pembagian sehingga tatkala tempat menampung air (tanki air) sudah kosong maka tiada lagi air nan dapat dibagikan ke rumah penduduk. Di kampung kami sedang diusahakan hal semacam itu semenjak ditemukannya sumber mata air yang berada di salah satu bukit di kampung kami.

“Akibatnya, awak terpaksa pergi mandi ke batang aia di dekat rumah. Ya ampun engku, di musim angin kencang ini, mandi di batang aia di pagi hari nan dingin itu..” lanjut kawan kami Katik Rajo Agam.

“Tentulah dingin engku, faham awak..” Kami tersenyum mendengarnya “Tentulah merasai engku bagaimana kehidupan orang dahulu, mandi bersama di batang aia. banyakkah orang nan mandi-mandi disana engku?” tanya kami.

“Banyak engku..” jawabnya semangat “Namun sayangnya air di tempat laki-laki tiada begitu bersih. Yang bersih itu ialah air di tempat perempuan sebab dari sanalah sumber mata air mengalir..”

Sungguh iri kami mendengarnya, namun tatkala kami tanyai diri sendiri “Bersediakah engkau mandi di batang aia di pagi nan dingin berangin kencang?” maka sudah tentulah jawapannya “Tidak terima kasih banyak..”

“Namun nan membuat kami kesal ialah kelakuan beberapa orang penduduk engku..” Katik Rajo Agam mulai berubah air mukanya “Ada nan membawa onda (motor) lalu membersihkannya disana, pada hal orang nan mandi dan ingin mandi masih banyak..”

Kami tersenyum kesal, demikianlah tabiat, akhlak, serta kelakuan orang masa sekarang ini. Lamak di awak, katuju di urang (nikmat terasa oleh kita, orang suka melihatnya) tiada diamalkan oleh sebagian besar orang Minangkabau pada masa sekarang. Tiada lagi raso jo pareso, semuanya bergerak dan berubah menjadi manusia yang mementingkan ego (kepentingannya) sendiri. Tidak menaruh belas kasih kepada orang lain, tidak mau tahu dengan perasaan orang lain, mementingkan diri sendiri, tidak memiliki rasa segan, hormat, kasih, dan sayang kepada orang lain.

Kata orang tua di kampung kami “Indak bautak..!” artinya tak berotak “Lah ilang Minang, tingga Kabau sen lai..” artinya sudah hilang Minang, tinggal Kerbau saja lagi. Arti secara terus-terang ialah sama dengan binatang. Sebab hanya binatanglah yang tak memiliki raso jo pareso, hanya binatanglah yang tidak menimbang perasaan makhluk lain asalkan dirinya terselamatkan. Hanya binatanglah nan mementingkan dirinya sendiri.

Demikianlah kisah kawan kami Katik Rajo Agam, bagaimana pula dengan pengalaman engku, rangkayo, serta encik dimusim nan sedang berganti ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s