Catatan Tambahan Jogja

Mendengar kami menuliskan kisahnya diblog kami, St. Malenggang nan semula agak kesal menjadi hendak ikut pula belajar menulis. Ia minta kami agar memuat tulisannya itu diblog ini. Marilaha coba kita baca bersama-sama;

Ada beberapa hal nan hendak kami sampaikan perihal pengalaman kami selama berada di Bandar Jogja. Pengalaman pertama ialah tatkala kami menumpang naik oto[1] kawan nan baru kami temui di bandar ini ia langsung mengingatkan kami untuk memakai sabuk pengaman tatkala oto baru jalan. Kami hanya tersenyum saja karena di negeri kita orang acuh saja perkara nan satu ini. Sangat berlainan dengan disini, semua pengendara patuh-patuh, begitu naik oto, pasti langsung memasang sabuk pengaman.

Demikian juga dengan pengendara onda[2] mereka akan selalu menyalakan lampu malam pada siang hari. Kata kawan kami hal tersebut sudah lama berlangsung “Apabila tuan naik mobil pada siang hari dan terkena razia, maka tuan akan aman apabila memakai sabuk pengaman. Lain cerita razia pada malam hari, biasanya mereka menanyakan kelengkapan surat-surat kita..” kisah kawan kami itu.

Tatkala berada di rumah mamak kami di bandar itu kamipun diberi tahu oleh beliau bahwa orang disana memang patuh-patuh, berlainan dengan di negeri kita. Klakson oto ataupun onda sangat jarang terdengar di bandar ini, kata mamak kami memang dilarang sebab bunyi klakson itu dapat membuat orang terkejut dan stress.

Setelah kami fikir-fikirkan memang benar adanya, kami larikan ke diri kami dimana pengalaman kami dahulu tatkala sedang membawa onda tiba-tiba mendapat klakson dari oto dari arah belakang. Terkejut kami, untung saja kami tiada berpenyakit jantung, kalau ada mungkin sudah lalu (meninggal) kami ketika itu. Nan ada ialah dada sesak dan kepala panas, tak kami beri jalan itu oto nan di belakang.

Klakson otopun berbagai macam pula bunyinya, ada nan sedap teredam adapula nan nyaring menebarkan. Semestinya ada aturannya dan aturan itu mesti ditegakkan pula agar para pengendara oto itu tiada semena-mena di jalan dengan klakson mereka nan cetar membahana itu.

Satu lagi nan tiada dapat kami lupakan, tatkala kembali ke tempat mamak kami, maka bercakap-cakaplah kami seputar pengalaman kami lima hari ini di tempat pelatihan dengan beliau beserta isteri. Maka dikisahkanlah oleh isteri beliau ini bahwa pada bulan puasa surau-surau di sini sangatlah ramainya, terutama menjelang akhir bulan puasa “Berlainan dengan di negeri kita dimana justeru lengang..” kisah isteri mamak kami “Dan yang meramaika itu ialah nan muda-muda..” lanjutnya.

Selain itu kesantunan orang-orang disini juga membuat mamak kami laki-bini jatuh hati “Orang disini penyapa, apakah itu kanak-kanak ataupun orang tua. Bahkan dengan orang nan tiada dikenalpun mereka tak segan menyapa. Awak nan malu dibuatnya disini..”

Mamak kami menyambung “Serupa dengan kampung kita dahulu tatkala mamanda masih kanak-kanak buyuang, setiap kanak-kanak penyapa terutama kepada orang nan lebih tua. Berlainan dengan masa sekarang..”

“Pewarisan nilai itu nan tiada jalan di negeri kita pada masa sekarang mamanda. Lagipula tak demikian pula kesemuanya, masih banyak kanak-kanak nan penyapa di negeri kita..” bela kami.

“Tak hanya kanak-kanak buyuang..” sela isteri mamak kami “Nan tua-tuapun demikian, tak segan mereka menyapa tatkala bersua di jalan. Ketika itu masa-masa awal kami berada disini..” kisah isteri mamak kami.

“Keramah-tamahan, itulah nan hilang oleh kita pada masa sekarang buyuang. Tak perlu jauh-jauh, diantara sesama kita sajalah dahulu. Acap mendapat tatapan menusuk padahal tiada jelas apa permasalahannya. Kalau salah, disapalah orang dengan cara baik-baik..” lanjut mamak kami.

Kami fikir-fikirkan, benar adanya. Seperti kata isteri mamak kami “Disini mereka telah menerapkan salah satu syari’at dalam Islam yakni bermanis wajah, merendahkan suara kepada sesama muslim, dan berlaku ramah kepada sesiapa saja..”

Demikianlah pengalaman kawan kami nan satu ini, beruntung ia melihat negeri orang beserta adat resamnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua..

_______________________

Catatan Kaki:

[1] Mobil

[2] Motor

Advertisements

One thought on “Catatan Tambahan Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s