Watching Bajirao Mastani

Bajirao, Mastani, & Kashibai

Sudah lama kami mendambakan sebuah filem India yang mengangkat setingan waktu pada masa era kerajaan masih berjaya di Negeri Mughal (Hindustan/India) itu. Kami rindu dengan petikan kecapi India yang seolah-olah membawa kami kembali kepada masa-masa kejayaan dinasti para Khan di Tanah Hindustan itu. Pakaian tradisionak mereka yang menurut kami cantik sangat, baik itu pakaian perempuan maupun lelakinya.

Benar saja, di filem ini ragam arsitektur khas Mughal dijumpai. Senang hati kami melihat bangunan-bangunan cantik karya para sarjana Islam itu. Pertanda tingginya ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim saat itu.

Filem ini sendiri mengisahkan ambisi seorang Perdana Menteri dari salah satu kerajaan Hindu untuk menaklukan Delhi yang masa itu di bawah pemerintahan Dinasti Mughal. Seorang jendral perang yang selalu berjaya dalam setiap pertempurannya. Banyak prajurit-prajurit Mughal mati ditangannya.

Namun pada salah satu perangnya, Bajirao (demikian nama sang Perdana Menteri) bertemu dengan seorang puteri nan jelita. Puteri dari Raja Hindu dan ibu seorang Muslim, sang puteri mengikuti agama ibunya, menjadi seorang Muslim. Mastani namanya. Puteri nan pandai bermain pedang dan imu bela diri ini telah memikat sang Perdana Menteri yang telah memiliki seorang isteri dan anak laki-laki ini.

Si Puteri akhirnya menjadi isteri keduanya namun oleh keluarga Bajirao hanya dianggap sebagai selir saja. Seorang isteri yang tak dikehendaki karena perbedaan agama, dikucilkan, dan dihinakan. Bahkan disaat akan melahirkan, tak seorang tabibpun berkenan mendampingi. Akhirnya Bajirao sendiri yang menuntut sang isteri sampai melahirkan.

Mastani akhirnya mati dihukum mati karena tipu muslihat dalam keluarga suaminya. Setelah sebelumnya gagal dibunuh oleh kaki tangan mertua dan penasehat spiritual keluarga suaminya.

Filem ini membuat kami kagum dengan sosok seorang perempuan yang rela mengorbankan hidupnya demi cinta yang dipandangnya suci. Tiada peduli apakah lelaki itu telah menikah dan punya anak, tiada peduli dengan berbagai perbedaan yang menjadi jurang, tiada peduli dengan kebencian yang ditujukan kepadanya, tiada peduli dengan ancaman kematian, dan tiada peduli dengan berbagai kemelaratan dan kesengsaraan yang sedang menanti.

Adakah perempuan serupa itu pada masa sekarang? Yang bersedia menjadi yang kedua serupa lagunya Astrid: jadikan aku yang kedua, buatlah diri mu bahagia,..

Alamak, ada-ada saja khayalan kami. Apalagi baru saja membaca berita tentang Alvin anaknya Ust. Arifin Ilham yang mendapat izin untuk memberi madu kepada isterinya. Dunia terkadang mengesalkan dan tak adil..

Watching Bajirao Mastani

View on Path

Advertisements

3 thoughts on “Watching Bajirao Mastani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s