Makam Raja-raja Mataram

“Makam para raja terletak dalam kawasan Masjid Raya Kota Gede, antara masjid dengan kawasan makam dibatasi dinding bata serta terdapat pintu gerbang gaya gapura pula untuk menuju kesana..” kisah kawan kami St. Malenggang.

Kota Gede, semula  kami sangka kota yang berada di dalam kota namun rupanya hanya berupa nama kawasan. Mungkin dahulu memang sebuah kota sebab nama lainnya ialah Kuta Gede mengingatkan kami kepada nama Kuta Raja yang sekarang bernama Banda Aceh. Namun jalannya sejarah membuat nasib Kota Gede menjadi lain, ibu negeri kerajaan dipindahkan ke tampat baru dan tinggallah nama Kota Gede saja lagi.

“Makan ini khas dan yang membuat ianya khas ialah peraturan apabila seseorang hendak memasuki kawasan pemakaman ini..” lanjut kawan kami.

Yang dimaksudkan oleh kawan kami St. Malenggang ialah beberapa buah peraturan nan mesti dipatuhi, kalau tidak maka tiada dapat masuk ke dalam kawasan pemakaman. Aturan itu ialah: Pertama perempuan menggunakan kain jarik, kemben, dan melepas hijab, Kedua bagi lelaki memakai peranakan, kain jarik, dan blankon, dilarang mengambil gambar selama berada di dalam makam, dan segala kebutuhan pakaian apabila tak dimiliki dapat disewa ke kantor sekretariat.

“Kenapa demikian persyaratannya engku..?” tanya kami.

“Segan awak menanyakannya kepada orang-orang nan ada disana engku. Tapi ada kami tanya kepada penduduk yang berada di luar kawasan masjid. Jawapannya lebih mengarah kepada latar belakang budaya dan keadaan masyarakat masa itu..” jawab kawan kami St. Malenggang.

Memang menimbulkan pertanyaan pada salah satu syarat, namun tiada baik berprasangka sebelum menyelidiki terlebih dahulu. Lagi pula hal ihwal aturan itu dibuat tiada pula dapat oleh kawan kami ini. Oleh karena itu besar harapan kami kalau ada diantara engku, rangkayo, serta encik sekalian yang dapat menolong kami mencari tahu perihal penjelasan dari aturan tersebut.

Kawasan makam ini terbagi atas beberapa kawasan yang dipagari tembok bata setinggi kurang lebih dua meter. Tatkala masuk ke dalam kawasan pertama terdapat sebuah bangunan yang bernama Bangsa Duda. Mungkinkah yang ada disini ialah laki-laki malang semua? salah satu sumber menyebutkan bahwa bangsa ini merupakan tempat berjaga Abdi Dalam Kesultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta. Dibangun pada tahun 1644 oleh Sulthan Agung.

Selanjutnya apabila kita meneruskan perjalanan maka sampailah kita pada kawasan yang terdapat empat buah bangunan yang saling berhadapan. Bangunan-bangunan itu bernama Bangsal Pengapit Ler (Bangsal Pendamping Utara) yang merupakan tempat berehat bagi para tetamu perempuan. Di hadapan bangsal ini terdapat Bangsal Pengapit Kidul (artinya tiada didapat) yang merupakan tempat berehat bagi tetamu lelaki.

Masih terdapat dua bangunan lagi yang tatkala kami tanyakan kepada St. Malenggang ia menggelang menjawab. Tiada tahu ia, maklumlah ia tiada mengamalkan pepatah “Malu bertanya, bingung tatkala awak nan ditanya orang..” pemalu ia, lebih banyak segan beserta takut, terkadang ia tiada dapat membedakan antara segan dengan takut.

Demikianlah, dari kawasan ini kita dapat langsung masuk menuju makam namun sayang kawan kami ini tiada hendak masuk ia “Ada syaratnya engku, kan sudah kami terangkan tadi. Apa gunanya awak masuk kalau tiada dapat mengambil gambar?” sesalnya.

____________________

baca juga:

http://www.thearoengbinangproject.com/makam-raja-raja-mataram-kotagede-yogyakarta/

http://jalanjogja.com/nawu-sendang-seliran-kotagede/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s