Upacara Tengah Malam

Picture: Here

Malam nan cerah, bulan lima belas baru berlalu beberapa hari nan silam, nun jauh disana dapat kami  lihat garis bayangan Gunuang Marapi nan bersih tiada tertutupi oleh awan. Demikian juga dengan alam di sekeliling kami, kalaulah pada saat ini lampu padam maka takkan gelap gulita malam itu, takkan tersua ia bak kata orang “serupa pekatnya malam”. Karena malam pekat hanya akan tersua apabila tak ada rembulan nan menerangi.

Malam nan dingin, dingin serupa ini takkan kami jumpai pada beberapa negeri yang berhawakan agak panas. Kami terpaksa memakai jaket tebal agar tarhindar dari sentuhan angin malam nan dingin ini. Sunyi senyap, hanya beberapa kali tersua dan berselisih dengan pengguna jalan lainnya. Maklumlah jalan kampung, tentulah lengang.

Di sepanjang jalan tatkala melalui kampung-kampung antara kampung kami dengan bandar nan dituju kami dapati beberapa lepau[1] masih buka bahkan ada tukang pangkas rambutpun masih buka pada tengah malam ini, padahal beberapa menit lagi sudah pukul dua belas malam. Lepau-lepau itu ialah lepau minum, tempat orang memesan kopi, teh, makan pisang goreng atau makanan lainnya namun nan menjadi menu utama di lepau-lepau itu bukanlah hidangan nan mereka tawarkan melainkan permainan nan mereka sediakan. Permainan itu ialah termasuk permainan rakyat di negeri kami, Main Domino  atau ada juga nan main Koa.

Biasanya nan mendatangi lepau-lepau ini ialah para lelaki dewasa nan telah menikah, kalaupun ada nan belum menikah nan penting mereka telah berumur paling muda di atas tiga puluhan. Namun pada malam ini kami dapati tak hanya lelaki dewasa, beberapa remaja juga tampak oleh kami sedang berkumpul. Apakah mereka sedang merayakan malam 17 Agustus?

Para remaja ini duduk-duduk di lepau nan berlainan dengan lepau lelaki dewasa, mana berani mereka satu lepau dengan engku-engku itu, menggigil lutut mereka dibuatnya. Bisa saja nan sedang main domino itu ialah ayah mereka, bapak mereka, mamak mereka, atau kerabat mereka nan lain.

Ada jua nan duduk-duduk di teras sebuah kedai sambil merokok dan bercakap-cakap, ada pula nan membuat api unggun dan duduk mengelilinginya. Entah apa nan mereka lakukan, sedang berunding perihal perkara apakah mereka itu? Tak ikut upacarakah mereka esok?

Jalanan menuju tempat nan kami tuju masih lengang, padahal sudah masuk kawasan bandar “Tak salah memahami surat tugaskah awak ini?” tanya kami dalam hati. Kami tiada peduli, terus membawa onda[2] buruk ini menuju pemakaman para pejuang kemerdekaan. Menjelang sampai kami dapati sudah banyak oto[3] dan parkir di tepi jalan, onda patroli polisi terlihat ditegakkan ditengah jalan, memberi tahu kalau dilarang melalui jalan di hadapan pemakaman. Namun karena termasuk salah seorang dari banyak orang nan berkepentingan malam ini maka kami masuk saja.

“Oi, hendak kemana engkau?!” seru seorang lelaki nan memakai seragam loreng, berhelem, dan memegang semacam tongkat teramat pendek berlampu di tangannya. Ketika itu kami sedang memperhatikan kalau-kalau masih ada tempat kosong untuk memarkirkan onda buruk ini.

Kami berhenti “Hendak upacara..” jawab kami. Dipandanginya kami dari pucuk hingga ke bawah, curiga ia karena kami memakai penutup wajah. Malam itu kami memakai celana hitam dengan bahan levis – tiada sanggup memakai celana kain sebab dingin – namun tatkala tampak olehnya sepatu kulit kami nan “rancak” itu maka fahamlah ia.

“Kesana..!!” tunjuknya dengan tongkat kecilnya nan sedang menyala bewarna merah itu “Pasti si buyung suka dengan mainan bagus nan dipegang oleh engku ini” ucap kami dalam hati.

Kami diarahkan ke halaman pekarangan makam dimana sudah banyak onda nan parkir, terkejut kami karena sedari tadi pandangan kami tiada kami arahkan ke sana. Parkirlah onda buruk ini di belakang oto berplatkan tentara..

Ini pengalaman pertama kami menghadiri acara serupa ini, dalam surat tugas nan kami dapatkan tertulis “Renungan Suci”

_______________________

Catatan Kaki:

[1] Lapau, kadai sama dengan warung

[2] Motor

[3] Mobil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s